Sedang Membaca
Perempuan yang Tak Pernah Mati
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Perempuan yang Tak Pernah Mati

Nur Ahmad

Siapa yang tidak pernah mendengar nama Rabi’ah al-Adawiyah? Tampaknya jarang sekali. Dia adalah seorang sufi perempuan pertama dan terbesar dalam sejarah Islam. Dia menolak menikah dan memilih menjadi perawan sepanjang hayat.

Dialah yang mengatakan “cintaku kepada-Nya tidak memberi ruang cinta selain-Nya.” Itulah yang beredar luas mengenai Rabi’ah al-Adawiyah dari Basrah ini. Tapi apakah itu semua benar demikian adanya?

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Rkia Elaroui memberikan jawaban yang memuaskan melalui buku ini. Memang sulit untuk mendapatkan data sejarah yang valid. Semua kisah tentangnya ditulis jauh setelah ia wafat. Sebagian kecil kisah itu muncul pada lima puluh tahun setelah hari ia meninggal dunia.

Lebih banyak lagi cerita muncul setelah satu setengah abad kematiannya. Menurut teori sejarah yang saklek, semua catatan itu sudah tidak dapat dipercaya lagi. Cukup waktu dalam lima puluh tahun untuk mengubah fakta menjadi mitos.

Rkia Elaroui mengakui kesulitan ini. Namun ia tidak putus asa. Rabi’ah Al-Adawiyah, yang menjadi nama julukannya ketika kecil, tentu bukan mitos semata. Dia yakin, pada suatu masa, hidup Rabi’ah al-Adawiyah. Dia pasti seorang yang penting. Kalau tidak, para ulama setelahnya tidak akan mengagung-agungkannya. Namun bagaimana caranya memisahkan mitos-mitos tentang perempuan agung ini dengan realitas yang terjadi?

Sebuah teori fenomenologi agama bisa membantunya. Rabiah al-Adawiyah adalah sebuah simbol yang mengandung berlapis-lapis makna yang tersimpan dalam “ingatan kebudayaan”.

Mircea Eliade, penulis kajian agama terkemuka, berpendapat bahwa mitos dan kisah-kisah seringkali mengandung model plot dan kiasan yang sama. Salah satunya, lanjutnya, bila sebuah simbol dikisahkan dengan begitu superiornya dibandingkan selainnya, maka ia adalah mitos.

Baca juga:  Islam, Agama yang Menyerukan Perdamaian

Dengan menggunakan teori ini, dan beberapa teori narasi lainnya, Rkia Elaroui menganalisis semua sumber kisah-kisah paling awal mengenai Rabiah al-Adawiyah. Dia menemukan empat simbolisasi tentang Rabiah. Empat simbolisasi yang dibahas tuntas ke dalam enam bab.

Dia menunjukkan bagaimana simbol-simbol ini dibumbui dengan gambaran yang fiksional. Lalu ia memisahkannya dari bumbu-bumbu ini melalui fakta sejarah masyarakat yang sudah valid dari masa itu.

Misalnya pada simbol pertama, Rabi’ah digambarkan sebagai seorang pendidik karakter para muridnya. Simbolisasi ini dikupas dengan menunjukkan kesejarahan adab di Arab. Dari sini dia menekankan bahwa pendidikan akhlak sangat kuat di Islam dalam masa itu. orang-orang akan mencari pendidik yang kesehariannya menunjukkan hal itu. Dari sini tidak heran seorang Sufya ats-Tsauri menjadikan Rabi’ah sebagai gurunya dalam hal akhlak.

Lebih dari sekadar pendidik, lebih kuat adalah kesan Rabi’ah menjalani hidup sebagai seorang zahid. Di dalam rumah Rabi’ah tidak ada satu perabot pun, kecuali sebuah kendi untuk ia minum dan berwudu, dan sebuah tikar untuk dia tidur dan sembahyang. Begitu gambaran yang sangat kental tentang betapa zuhud hidupnya.

Menurut Rkia Elaroui, zuhud di masa dan tempat Rabi’ah hidup adalah tradisi yang hidup kuat (hlm. 121). Gambaran hidup zuhud Rabi’ah, oleh sebab itu, bukanlah sesuatu yang unik. Sayangnya, gambaran bahwa Rabi’ah sebagai satu-satunya sufi perempuan dengan hidup zuhud semacam ini kadung dipercaya. Rkia Elaroui menyatakan bahwa Rabi’ah melanjutkan tradisi kezuhudan sufi perempuan yang berakar jauh di masa sebelumnya (hlm. 122).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Gamelan dan Islam

Rabi’ah juga adalah gambaran dari sang pencinta sejati Tuhan. Dia digambarkan pernah bertemu Nabi dalam mimpi yang bertanya apakah Rabi’ah mencintainya. Jawaban Rabi’ah sangat politis.

Tidak ada seorang Muslim yang tidak mencintai sang Nabi, tapi cintanya kepada Allah tidak memberikan tempat cinta selain-Nya di hati Rabi’ah.

Kenyataan ini seringkali menjadikan orang-orang lagi-lagi menetapkan bahwa Rabi’ah adalah pendiri mazhab Sufi Cinta. Sama seperti kenyataan bahwa Rabi’ah bukan sufi perempuan pertama, Rkia Elaroui menunjukkan bahwa Rabi’ah juga bukan sufi pertama yang menekankan cinta Ilahi sebagai jalan menuju-Nya (hlm. 160). Meskipun demikian, Rabi’ah adalah pengembang teori “cinta Ilahi” yang sangat penting.

Simbol keempat adalah Rabi’ah Sang Sufi. Catatan penting yang diberikan Rkia Elaroui mengenai simbol ini adalah bahwa seringkali Rabi’ah digambarkan dari perspektif laki-laki, menjadikannya Sufi Perempuan dengan sikap seolah-olah laki-laki (hlm. 253).

Hal ini misalnya dapat dilihat dari pandangan Fariduddin Attar yang menyebutkan bahwa ketika seorang perempuan mengambil jalan menuju Tuhan, seperti yang dilakukan Rabi’ah, maka dia disebut laki-laki bukan perempuan. Maksudnya, jalan ibadah ketat dan zuhud adalah tindakan untuk laki-laki, sedangkan perempuan tidak biasa melakukan hal ini.

Buku ini berhasil memperluas pandangan kita mengenai kesejarahan Rabi’ah Al-Adawiyah. Sebagian gambaran tentang dirinya di awal tulisan ini telah dikoreksi. Dia bukan sufi perempuan pertama. Dia juga bukan pendiri mazhab cinta dalam sufisme, meskipun dirinya adalah pengembang yang sangat penting. Dia adalah sufi agung, namun keagungannya tidak perlu dibumbui dengan sifat-sifat yang memang bukan miliknya. Wallahu a’lam.

 

Baca juga:  Sabilus Salikin (21): Pembahasan Tasawuf

Identitas Buku

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Judul: Rabi‘a from Narrative to Myth: The Many Faces of Islam’s Most Famous Woman Saint, Rabi‘a Al-‘Adawiyya.

Penulis: Rkia Elaroui Cornell

Penerbit: London: Oneworld Publications

Terbit: Januari 2019

Tebal: xiv + 402 halaman

Peresensi: Nur Ahmad

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top