Sedang Membaca
Hari Pramuka: Kepanduan Muslim dan Kontribusinya bagi Perjuangan Bangsa
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Hari Pramuka: Kepanduan Muslim dan Kontribusinya bagi Perjuangan Bangsa

Rijal Mumazziq Z

Takashi Shiraishi, peneliti Jepang itu, menyebut era 1910 hingga dasawarsa berikutnya sebagai Zaman Bergerak. Ketika kaum pribumi bersemangat menghimpun diri, memamahbiak ide-ide progresif, hingga keaktifan berserikat.

Soal kepanduan, alias Pramuka, yang hari ini diperingati hari lahirnya, organisasi Islam Indonesia punya sejarah yang khas. Ketika kepanduan mulai tumbuh di era 1920-an, dimana Muhammadiyah mengaktivasi gerakan Hizbul Wathan, lantas H. Agus Salim aktif pula bergerak ke daerah-daerah dalam rangka menjaring pandu muda, saat itu pula tunas kepanduan mulai mekar. Apalagi ketika bapak pandu dunia Lord Baden Powell, berkunjung ke Batavia, 1934, semangat dan semaraklah gerakan ini.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Anshoru Nahdlatoel Oelama (ANO) juga mendirikan organisasi kepanduan. Sebelum berdiri NU, namanya Ahlul Wathan, bagian dari Syubbanul Wathan, organisasi kepemudaan yang dirintis oleh KH. Abdullah Ubaid dan KH. A. Wahab Chasbullah.

Cikal bakal GP Ansor itu baru mendirikan Pandu Ansor tahun 1937. Mereka punya drumband yang secara atraktif tampil perdana di Muktamar NU di Malang, 1937. Mereka berparade menggunakan mars dan drum band, hingga menggunakan jas dan dasi. Khusus yang terakhir, para ulama tetap keberatan. Alasannya, itu baju “kaum kafir”. Man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari kaum tersebut. Menyikapi hal ini, beberapa eksponen ANO, seperti KH. Abdullah Ubaid, KH. Tohir Bakri, dan beberapa aktivis lain menjelaskan. Kurang lebih, jas dan dasi kami pakai sebagai strategi perlawanan, karena dengan menggunakan baju ini kami sebagai pribumi merasa setara dengan mereka. Para kiai manggut-manggut. Sebagian menerima. Apalagi, kaum muda ini melengkapi jas-dasi ini dengan kopiah hitam. Lengkap sudah.

Baca juga:  Mempertanyakan Kebijakan Politik Islam Presiden Joko Widodo

Langkan mendirikan organisasi kepanduan memang tepat. Mengikuti jejak Muhammadiyah yang sudah punya kepanduan Hizbul Wathan, SI dengan Sarekat Islam Afdeling Padvinderij yang kemudian diganti menjadi Sarekat Islam Afdeling Pandu (SIAP), Nationale Islamietische Padvinderij (NATIPIJ) didirikan oleh Jong Islamieten Bond (JIB), dan sebagainya. Komplit. Bersaing dalam kebaikan.

Orang Arab Hadrami tak mau kalah. Keturunan Arab yang punya nasionalisme tinggi memilih mendirikan Pandu Arab, 1937. Pendirinya, antara lain Habib Hussein Shihab, ayahanda Sayyid Muhammad Rizieq Shihab, imam besar FPI.

Di kemudian hari, keturunan Arab lainnya, Habib Hussein Mutahar, pejuang kemerdekaan, komposer pencipta Hymne “Syukur”, mars “17 Agustus”, dan banyak lagu anak-anak juga menjadi bapak pandu Indonesia karena bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX mempersatukan organisasi kepanduan di tanah air dalam wadah Praja Muda Karana (Pramuka).

Organisasi Pandu: Penyedia Stok Pejuang

Pandu Ansor, SIAP, NATIPIJ, maupun Hizbul Wathan, semakin giat menyelenggarakan dan membina kepanduan di akhir 1930-an. Sayang, ketika Jepang menjajah, semua wadah pandu dibekukan.

Hingga ketika Jepang membuka batalion PETA, Heiho, lantas Hizbullah, banyak para pandu muda yang bergabung. Di Malang, ada Hamid Rusydi, mayoret drumband ANO dan pandu Ansor yang menjadi pimpinan PETA, lantas memimpin gerilya. Mayor Hamid Rusydi yang gugur di Malang Selatan akhir 1949, namanya diabadikan menjadi terminal dan nama jalan protokol

Baca juga:  Mengenang Masa Kecil: Ngaji Turutan

Di skala nasional, ada Jenderal Sudirman, anggota pandu Hizbul Wathan yang kemudian menjadi guru, lantas menjadi perwira PETA, kemudian menjadi Panglima TNI.

Di Sumatera, mantan anggota kepanduan juga banyak yang bergabung dengan Gyugun, tentara sukarelawan bentukan Jepang. Di kemudian hari, anggotanya banyak yang masuk TNI dan menjadi gerilyawan pejuang selama revolusi fisik.

Jelaslah apabila kepanduan bukan hanya soal tali temali, simaphore, dan baris berbaris. Wadah aktivitas ini menjadi pemasok terpenting para penggerak perjuangan bangsa ini. Wallahu a’lam bisshawab

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top