Sedang Membaca
Sabilus Salikin (115): Wiridan Tarekat Alawiyah
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sabilus Salikin (115): Wiridan Tarekat Alawiyah

Redaksi

Wiridan Tarekat Alawiyah tidak sebanyak wirid-wirid tarekat lain. Mari kita lihat, seperti di bawah ini:

  1. Membaca Alquran pada setiap shalat shubuh dan maghrib
  2. Membaca surat al-Waqi’ah kemudian membaca :

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِّزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَ سَلامٌ عَلَى المُرْسَلِينَ وَ الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِينَ

  1. Kemudian membaca do’a yang di kehendaki sâlik, lalu membaca do’a:

اللَّهـُمّ يـَا مَنْ جَعلْتَ الصَّلَاةَ عَلَى النّبِيِّ مِنَ القُرُباتِ، أَتَقَرَّبُ إِلَيْكَ بِكُلِّ صَلَاةٍ صَلَّيْتَ عَلَيْهِ مِنْ أَوَّلِ الّنَشْأَةِ إِلَى مَا لَا نِهَايَةَ لِلْكَمَـالَاتِ (3×)

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِّزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَ سَلامٌ عَلَى المُرْسَلِينَ وَ الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِينَ

  1. Kemudian membaca:

أَعوذُ باللهِ مِنَ الشَيْطَانِ الّرَجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الَّرحْمَنِ اَّلَرحِيمِ ((وَ مَا تُقَدِّمُـوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْد اللهِ هُوَ خَيْرًا وَ أَعْظَم أَجْرًا ، واِسْتَغْفِرُواْ اللهَ ، إنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيـمٌ)) أسْتَغْفِرُ اللهَ (99×) أسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ الّذِي لا إله إلاّ هُوَ الحي القَيوم وَ أَتُوبُ إليهِ (1×)

  1. Kemudian membaca:

إنَّ اللهَ وَ مَلآئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الّنَبِيِّ، يَآأَيُّهَا الذِينَ آمَنُوا صَلُّواْ عَلَيْهِ وَ سَلِّمُواْ تَسْليمًا) اللـهـم صَلِّي عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِّ الأُمِيِّ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ سَلِّمْ (99×)

الـَّهُـمَّ صَلِّي عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِّ الأُمِيِّ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ سَلِّمْ تَسْلِيمًا (1×)

  1. Kemudian membaca:
Baca juga:  Semangat Literasi KHR. Asnawi dalam Kitab Fasholatan

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إلاَّ هُوَ وَ المَلآئِكَةُ وَ أُولُواْ العِلْمِ قَآئِمًا بِالقِسْطِ ، لاَ إلَهَ إلاَّ هُوَ العَزِيزُ الحَكَيمُ ، إِنَّ الّدِينَ عِنْدَ اللهِ الإسْلاَمُ) لاَ إلَهَ إلاّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (99×) لاَ إلَهَ إلاّ اللهُ ، سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ (1×)

  1. Kemudian membaca:

اَلحَمْدُ للهِ الّذِي هَدَانَا لهَذَا وَ مَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ ، لَقَدْ جَآءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالحَقِّ) الحمد لله و الشكر لله (100×)

  1. Kemudian sâlik membaca surat al-Ikhlâs:

ثُمَّ يقْرؤ المُريدُ سُورَةَ الإِخْلاَصِ (ثلاث مرّات) و يدعواللهَ سُبحانَهُ وَ تَعالى بما شاء من الدعاء

  1. Kemudian sâlik mengakhiri dengan memaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. :

الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِنَا يَا حَبِيْبَ اللهِ، الصَّلَاةُ و السَّلَامُ عَليكَ يَا سَيِّدنَا يَا نَبِيَّ اللهِ، الصَّلَاةُ و السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِنَا يَا رَسُولَ اللهِ ، ألفُ ألفِ صَلاةٍ و ألفُ ألفِ سَلامٍ ، صَلَّى اللهُ عَليكَ وَ عَلَى آلِ بَيْتِكَ وَ أَصْحَابِكَ يَا أَكْرَمَ اَلخَلْقِ عِنْدَ اللهِ ((سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِّزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَ سَلامٌ عَلَى المُرْسَلِينَ وَ الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِينَ((

Persahabatan

Dalam kitab ‘Awârif al-Ma’ârif, syaikh Suhrawardi berkata: “Bersahabat dengan sahabat pilihan (baik) memiliki dampak positif yang banyak, saling mengasihi, menyayangi yang bisa memperkuat persahabatan jalinan cinta”. Dikatakan bahwa bertemu teman merupakan proses laqâh (penyerbukan), tidak diragukan lagi bahwa batin juga ikut dalam proses penyerbukan memperkuat antara satu dengan yang lain.

Baca juga:  Sabilus Salikin (17): Beragam Tarekat Satu Hakikat

Begitu juga bertemu, melihat orang-orang shaleh menimbulkan dampak keshalehan. Melihat terhadap gambar juga menimbulkan dampak peniruan perilaku orang yang dilihat seperti melihat orang yang susah akan merasa susah dan melihat orang yang senang akan merasa senang.

Baca Juga

Salah satu fungsi shuhbah (berteman) dengan syaikh (mursyid):

  1. Bisa meleberkan relung-relung batin;
  2. Bisa mendorong manusia untuk mencari dan mengamalkan ilmu-ilmu yang baru;
  3. Bisa menghilangkan kesusahan dan himpitan masalah dari dalam hati;
  4. Perkataan mursyid mempunyai pengaruh terhadap sâlik, jika tidak maka mursyid akan menarik sâlik untuk diarahkan melakukan perjalanan menuju Allâh Swt.;
  5. Syaikh Abu Bakr bin Salim Ba’lawiberkata: “Pandangan sâlik kepada mursyid bisa menyampaikan sâlik ke maqâm yang tinggi di sisi Allâh”, (‘Aqdu al-Yawâqit al-Jauhariyyah wa Samth al-‘Ain al-Dzahabi bi Dzikri al-Thariq al-Sadad al-‘Alawiyah, juz 1, halaman: 58-59).

Râbithah kepada Mursyid

قال النبي صلعم: إن الله عبادا من نظر في احدهم نظرة سعد سعادة لايشقى بعدها ابدا

Rasûlullâh Saw. bersabda: Allâh Swt. memiliki hamba yang melihat salah satu di antara mereka (mursyid/syaikh) dengan satu pandangan yang menjadikannya bahagia selamanya.

Hal ini dinamakan râbithah dalam istilah tarekat. Râbithah ini kedudukannya lebih berdampak terhadap sâlik dibandingkan dzikir dengan menepati syarat-syarat yang telah ditentukan. Hal itu karena cahaya orang yang makrifat terpancar dalam kehidupannya. Walaupun mursyid sudah meninggal dunia, sâlik masih dapat menggunakan râbithah kepada mursyidnya dengan catatan sâlik mampu menggunakan râbithah yang sempurna.

Baca juga:  Sabilus Salikin (58): Wirid Siang Tarekat Ghazaliyah (2)

Hal ini dikarenakan dua sebab yaitu kesungguhan cinta dan rasa rindu yang mendalam serta wasilah mutawasilah. Râbithah (menjadi rukun yang dalam bagi sâlik) adalah persambungan hati sâlik kepada syaikh (Mursyid) (‘Aqdu al-Yawâqit al-Jauhariyyah wa Samth al-‘Ain al-Dzahabi bi Dzikri al-Thariq al-Sadad al-‘Alawiyah, juz 1, halaman: 59).

Adab Sâlik terhadap Syaikh (Mursyid)

  1. Menghormati syaikh (mursyid) baik amal, maupun biografinya;
  2. Sâlik harus berkhusnudzan kepada syaikh (mursyid);
  3. Sâlik meminimalkan bertemu atau berhadapan dengan syaikh (mursyid);
  4. Sâlik harus bersungguh-sungguh dan mengerahkan segenap kemampuan untuk bertawajjuh kepada syaikh (mursyid);
  5. Sâlik harus menjaga râbithah syaikh (mursyid) dalam angan-angannya dengan cara menggambarkan ahwal bentuk syaikh (mursyid) dalam angan-angannya;
  6. Bersifat dengan sifat-sifat syaikh (mursyid), (‘Aqdu al-Yawâqit al-Jauhariyyah wa Samth al-‘Ain al-Dzahabi bi Dzikri al-Thariq al-Sadad al-‘Alawiyah, juz 1, halaman: 60).
Lihat Komentar (0)

Komentari