Makrifat Realitas Diri atas Langit (3)

Antok Agusta

Rasulullah SAW bersabda, “Firman Allah Ta’ala, aku ini sebagaimana yang disangka oleh hambaku, Aku bersama dia apabila ia ingat kepadaku, apabila ia mengingatku dalam dirinya, Akupun ingat padanya dalam diriku, dan apabila ia mengingatku dalam ruang yang luas, aku pun ingat padanya dalam ruang yang lebih baik” (Hadis Qudtsi diriwayatkan oleh Bukhari).

Guru sufi berkata: “Hatimu sekarang bersama Tuhanmu dan Tuhanmu bersama engkau, tidak jauh dari engkau, Ia mendekatkan engkau kepadaNya, dan mengenalkan engkau denganNya.” Orang yang menjalankan tarekat-zikir secara sungguh-sungguh tidak mempunyai rasa khawatir dalam menjalani hidup, tidak waswas dalam menjalankan sesuatu kebenaran, dan tidak berprasangka buruk terhadap orang lain. Hati mereka tenang, jiwa mereka tenteram.

Firman Allah:

الَّذينَ آمَنوا وَتَطمَئِنُّ قُلوبُهُم بِذِكرِ اللَّهِ ۗ أَلا بِذِكرِ اللَّهِ تَطمَئِنُّ القُلوبُ

“ …(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28).

Dengan menjalankan tarejat-zikir dan latihan-latihan tarekat, kaum sufi merasakan kelezatan ibadah, merasakan makna- makna Alquran yang mulia, dan Sunnah yang suci, yang belum tentu dapat dirasakan oleh orang-orang lainnya.

Sampai di tingkat tertentu orang yang bertarekat-dzikir merasakan seluruh alam dan dirinya hancur lebur masuk ke dalam Allah SWT. Pada saat ini orang tersebut berada dalam tingkat yang fana. Firman Allah:

كُلُّ مَن عَلَيها فان – وَيَبقىٰ وَجهُ رَبِّكَ ذُو الجَلالِ وَالإِكرامٍ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS Ar Rahman: 26 – 27).

Dzikrullah itu dapat mengangkat seorang hamba yang mukmin dari bumi syahwat ke langit makrifat. Rasulullah SAW bersabda “Tidak ada seorangpun yang berkata Laa Ilaaha Illallah secara ikhlas dalam hatinya, kecuali Tuhan membukakan pintu langit sehingga ia bisa meninjau arasy.”

Guru sufi mengatakan: “dalam asma yang tertinggi, orang dapat meningkat ke langit (mencapai martabat yang tinggi).” Dalam tingkat makrifat ini hamba Allah dapat melihat segala yang ajaib dan yang aneh-aneh dan segala rahasia yang besar dan kaifiat yang agung serta hakikat.

Imam Ghazali berkata, “Makrifat itu berada di atas semua jalan dan wasilah yang penting dan besar. Yang demikian itu adalah wasilah al-kasyafful al-bathini atau wasilatul ilham ar-ruhi, yang membawa manusia kepada sifat-sifat yang baik, dan membersihkan hati serta menjauhkan diri dari cara berpikir orang-orang materialis”.

Maka lingkup Allah ada di nur Muhammad itu sendirinya didalam perkataan kun fayakun dan nur Muhammad itu sendiri di dalam lingkup dari pada nur Dzat. Semesta sekalian alam semesta ini perbuatan nur juga, maka barang siapa belum tahu jalan ini jangan membaca ini karena akan menjadikan sesat kepada dirinya dan jika sudah tahu bacalah, karena inilah ilmu yang haq.

Syariat tanpa hakikat hampa dan hakekat tanpa syariat bathil atau sia-sia. Adapun yang bernama rahasia itu sir Allah juga. Adapun kita ini bertubuhkan Muhammad lahir dan batin, bertubuhkan ruh namanya maka tiada kita kenang kenang lagi hati dan tubuh hanya bertubuh batin saja namanya artinya Muhammad juga yang jadi tubuh kita ini.

Baca Juga
Sabilus Salikin (34): Sebaik-baik Ulama

Jadi hakikatnya kita ini bertubuhkan ruh idhafi juga, sebab Muhammad itulah yang bernama Rahasia Sir Allah. Adapun wujud itu wujud Allah Ta’ala, sekali kali jangan ada wujud yang lain daripada Allah Ta’ala inilah sebenar benarnya diri. Begitu pula kelakuan jangan ada yang lain, karena jika ada menjadi nafsiah hamba juga.

Nafsiah robbah itu tidak menerima salah satu melainkan suci lahir batin. Dzat artinya wujud Allah semata-mata, itu yang sebenar-enarnya diri kita. Jangan ragu lagi pada kata ini, baik berjalan itu wujud Allah, melihat itu bashar Allah dan berkata kata itu kalam Allah dan lain-lainnya. Jangan ada wujud yang lain jika ada maka batal.

Firman Allah “Ana fi dzhoni abdi“. Aku berada dalam prasangka hambaku. Maka sudah lengkap wujud kita ini, wujud Allah Ta’ala. Ingat lah akan firman Allah tersebut jangan lagi mengatakan bathil jika sudah tahu wujud dirinya wujud Allah juga dan tiada lupa dan tiada berserikat dan tiada berhakekat dan bermarifat melainkan kudrat sendirinya.

Al insaanu sirri wa anaa sirrahu wa sirri sifaati wa sifaatii laghairi“. Insan itu rahasiaku dan akulah rahasianya dan rahasia itu sifatku dan sifatku itu tiada lain daripada Aku. Adapun Alif Allah itu yaitu Dzat Allah Ta’ala dan diri Allah Ta’ala dan sebenar benar nya diri yaitu ruh Nabi Muhammad.

Adapun sifat Allah Ta’ala itu rupa nabi Muhammad dan Af’al Allah Ta’ala itu yaitu kelakuan Nabi Muhammad. Maka inilah ruh idhafi menjadi rahasia kepada kita didalam jantung tempatnya. Adapun Akbar itu tubuh kita ini jadi bisa berlaku laku dan sebagainya. Adapun rahasia itu sendiri memerintah hati dan hati itu memerintah tubuh berlakunya tubuh itu berbagai kelakuan. Inilah sebenar benarnya diri yang kita kenal siang dan malam, sebab semuanya daripada Muhammad.

Tatkala rahasia itu sehari semalam dalam rahim ibu, hu . . hu … pujinya. Tatkala rahasia itu tiga hari tiga malam dalam rahim ibu, subhanallahi pujinya, artinya suci sendirinya. Tatkala rahasia itu 40 hari 40 malam dalam rahim ibu, alhamdulillahi pujinya, artinya Dzat Allah. Tatkala rahasia itu tiga bulan dalam rahim ibu Allahu Akbar pujinya, artinya Maha Besar Allah, meliputi sekalian alam. Tatkala rahasia itu sembilan bulan dalam rahim ibu, la ilaha illa Allah pujinya.

Lihat Komentar (0)

Komentari