Sedang Membaca
Hikayat Kurma; Dari Mesopotamia Kuno Hingga Tradisi Islam
Penulis Kolom

Muhammad Iqbal. Sejarawan. Dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam IAIN Palangka Raya. Editor Penerbit Marjin Kiri. Menulis dua buku: Tahun-tahun yang Menentukan Wajah Timur (Yogyakarta: EA Books, 2019), dan Menyulut Api di Padang Ilalang: Pidato Politik Sukarno di Amuntai, 27 Januari 1953 (Yogyakarta: Tanda Baca, 2021).

Hikayat Kurma; Dari Mesopotamia Kuno Hingga Tradisi Islam

Sami Lamqaddam Pzpyvzirjyg Unsplash

“Pohon-pohon kurma tumbuh dalam jumlah yang besar di seluruh negeri nan datar, sebagian besar dari jenis inilah yang menghasilkan buah, dan buah ini menjadi pemasok bahan baku bagi roti, anggur, dan madu untuk mereka.” (Herodotus, 484-425 SM), melukiskan Babel.

Kurma adalah buah nan eksotis. Ia biasa kita cicipi dalam keadaan hampir matang. Ketika sepenuhnya matang tetapi masih keras, warnanya kuning cerah atau merah, menyegarkan, renyah, dan manis. Saat semakin matang, secara bertahap melunak, mulai dari bagian atas sampai ke kelopak. Kurma terlihat sangat curia dan kuning atau merah, dan sebagian lembab dan cokelat dan hampir tembus cahaya. Kemudian seluruh buah menjadi lunak, kehilangan kerenyahannya dan rasanya lebih manis dan lebih segar. Lamun daun di pohon mengering secara alami di bawah sinar mentari, kulitnya mengerut dan menjadi lindap.

Kurma mengembangkan tekstur kenyal seperti permen. Secara teknis, kurma dapat dilabeli segar ketika dimakan tepat setelah dipetik, tetapi karena ini benar-benar pada kondisi paling kering pada tahapannya, maka kurma pun dilabeli kering. Dalam kondisi ini, kurma dapat disimpan dan diangkut ke seluruh dunia, dan dipasarkan secara komersial dalam keadaan lunak, semi-kering, atau kering, tergantung pada varietas sang kurma.

Mesopotamia Kuno

Bukti awal perkebunan kurma, dari 4000 SM, dimulai di kota kuno Ur, daratan rendah Mesopotamia, di mana ia memainkan peran utama dalam kehidupan ekonomi Sumeria. Kuil dewa bulan itu sendiri dibangun dari batang pohon kurma. Dari senarai leksikografis pada awal milenium kedua SM, kita mempelajari sekitar 150 kata untuk pelbagai jenis pohon kurma dan bagian-bagiannya yang berbeda. Ketika Pahlawan Dotus mengunjungi Babilonia pada abad ke-5 SM, dia begitu terpesona oleh pemandangan pohon kurma. Pohon yang begitu indah dan berbudi luhur ini tentu saja memainkan peran sentral dalam ritual spiritual dan keagamaan rakyatnya.

Seberkas tikas dari segel silinder Akkadian milenium ketiga SM di British Museum menabalkan telatah perempuan duduk di kursi menghadap telatah laki-laki (dewa, seperti yang diidentifikasi dengan hiasan kepala bertanduknya), dengan kurma berdiri di antara mereka, dan seekor ular di belakang tanah bergelombang ke atas. Adegan ini mengingatkan kita kepada beberapa kisah spekulatif tentang Adam dan Hawa di Taman Eden, tetapi tafsir yang liyan melihat segel itu tidak lebih dari seorang penyembah yang bersimpuh kepada Tuhannya, dan kurma serta ular sebagai simbol kesuburan. Apakah Taman Eden atau tindakan pemujaan, pemandangan itu secara signifikan melukiskan kurma sebagai pohon hakiki yang laik dimasukkan dalam ritual sakral.

Pohon kurma dipandang sebagai karunia Ilahi, yang memiliki kekuatan khusus. Pepohonan itu dimanfaatkan pada banyak upacara pernikahan sebagai simbol kesuburan, dan daun-daun pohon kurma digunakan selama upacara-upacara cenayang untuk melindungi dari kejahatan. Si cenayang akan menelusuri lingkaran di sekitar daun-daun itu dan siapa pun yang ia lindungi dengan melafal mantra, ‘Di tanganku aku memegang lingkaran sihir Ea, di tanganku pula aku memegang kayu cedar, senjata suci Ea, di tanganku juga aku memegang cabang pohon kurma dari ritus agung.’ Kurma adalah sumber pencaharian mereka, dan menebangnya adalah kejahatan yang bisa dihukum oleh undang-undang. Menurut hukum Hammurabi, ‘Jikalau pemilik menebang pohon kurma di kebun tuan tanah liyan tanpa persetujuan dari pemilik kebun, ia harus membayar setengah mina perak [kira-kira. 10 ons/285 g].’

Menurut legenda Sumeria, kurma adalah pohon buah perdana yang diciptakan di muka bumi. Mitos itu mengisahkan bagaimana di kota Eridu di Mesopotamia Selatan, Enki (Akkadian Ea), dewa samudera air tawar, membuat pohon kurma dengan bantuan Inanna (Akkadian Ishtar) dan gagak. Polah gagak inilah yang kelak menginspirasi manusia, seperti memanjat pohon kurma dan menyerbuknya, dan ia menggunakan shaduf untuk mengairi kebun kurma itu. Tidak mengherankan jika pohon kurma di Mesopotamia merupakan salah satu bentuk simbolis paling kuno dari konsep ‘Pohon Kehidupan’, pohon suci yang menghubungkan surga, bumi, dan dunia bawah, dan merupakan pemberian karunia: kebijaksanaan, keabadian, dan kesuburan.

Baca juga:  Mencari Historiografi Islam Indonesia yang Mandiri

Di mana pun pohon kurma tumbuh, pohon itu memesona dengan keindahan dan faedahnya. Pembentukan mitos pohon kurma sebagai pohon kehidupan tidaklah khas bagi Mesopotamia. Mitos-mitos yang berkelindan dengan orang-orang Yoruba di Nigeria menceritakan kisah tentang dewa besar yang memandang ke bawah dan melihat dunia di bawahnya hanya sebagai lautan luas. Dia mengirim putra-putranya ke bawah untuk menciptakan bumi. Tatkala mereka turun, dia menurunkan pohon kurma besar yang berada di atas air. Mereka pun mendarat di dedaunan dan hampir seketika salah satu putranya mulai meretas kulit kayu dan membuat anggur kurma yang kuat dari getah. Ia mabuk dan tertidur, sementara putra liyannya turun dan membangun bumi.

Mesir Kuno

Ketika Herodotus mengunjungi Babilonia pada pertengahan abad kelima SM, dia merawi ihwal pohon kurma yang lihatnya di sana. Tidak demikian ketika dia pergi ke Mesir, tetapi dia menyebutkan anggur kurma yang digunakan untuk proses mumifikasi. Dari banyak bukti arkeologis dan arsitektur, kita tahu bahwa kurma ditanam dan dipuja di oasis Sahara barat dan di sepanjang lembah Nil dari masa awal, mungkin bersamaan dengan negara-negara Timur Tengah di Asia. Akan tetapi, budaya kurma tidak menjadi penting sampai milenium ketiga dan kedua SM. Banyak catatan gambar dari wilayah Nil menggambarkan kurma. Pilar-pilar candi granit milenium ketiga SM dari raja Sahure di Abuseer berbentuk seperti pohon kurma, dan pahatan relief dan lukisan relief menggambarkan tahap-tahap penanaman pohon kurma. Sebuah ukiran dari kerajaan Memphis menunjukkan seorang pendeta mengairi pohon kurma, dan dalam dekorasi di dinding makam, pohon kurma ditunjukkan tumbuh di sekitar kolam persegi panjang.

Pohon kurma adalah tempat tinggal dan lambang beberapa dewa. Sebagai simbol feminim, ia dikaitkan dengan dewi Hathor, lawan dari Ishtar Mesopotamia, dewi kehidupan, kegembiraan, musik, tarian, dan kesuburan. Pohon kurma juga digambarkan sebagai tempat tinggal dewi Nephtys, yang menawarkan kurma dan air untuk mendiang. Orang Mesir menggunakan atap sebagai simbol umur panjang dan kesuburan. Dewa ketidakterbatasan, Heh, sering ditampilkan memegang dua pelepah kurma, simbol dari berlalunya waktu. Di kuil, pelepah kurma berlekuk untuk mencatat siklus waktu.

Yudaisme Kuno

Di antara orang Yahudi kuno, kurma memiliki tempat khusus. Ini menonjol di dinding dan pintu berlapis emas dari kuil Salomon, ‘di dalam dan di luar’. Dalam Mazmur, benar dikatakan bahwa manusia tumbuh laksana pohon kurma. Dalam kitab Genesis, ‘Pohon Kehidupan’ di tengah-tengah taman itu sebagian besar dianggap sebagai kurma. Disebutkan sekali lagi dalam bab terakhir dari Kitab Wahyu, ‘Dan di kedua sisi sungai, ada ‘Pohon Kehidupan’, yang menghasilkan dua belas jenis buah, dan menghasilkan buahnya setiap bulan: Dan daun pohon itu bermanfaat untuk penyembuhan bangsa-bangsa.’

Signifikansi simbolis dari angka dua belas terletak pada keyakinan bahwa ‘pohon kurma secara populer diibaratkan menembak setiap bulan, dan karenanya, pada akhir tahun, menjadi simbol asal-usul pohon Natal. Hal ihwal ini pada akhirnya mengacu pada gagasan Mesir kuno, bahwa batang itu berarti ‘tahun’ dan daun untuk ‘bulan’.

Baca juga:  Masuknya Islam di Nusantara versi Habib Salim bin Jindan

Seperti orang Mesir Kuno, orang Yahudi membawa ranting pohon kurma selama festival. Ia adalah simbol bagi kerajaan Yudea, sebagai penyedia makanan, tempat tinggal, dan naungan. Dalam Perjanjian Lama, tanah ‘susu dan madu’ adalah tanah Kanaan yang terletak di tepi Sungai Yordan, di mana pohon kurma dan madu kurma berlimpah ruah. Dalam Mazmur, Daud yang adil akan mendapat untung ‘laiknya pohon kurma’. Dan Yerikho dilukiskan sebagai ‘kota pohon kurma’.

Pohon kurma ditampilkan dalam koin Ibrani, serta koin Fenisia, dan koin Kartago. Untuk memperingati penaklukan orang Yahudi dan penghancuran Yerusalem oleh Titus, koin perunggu khusus yang anyar disebut ‘Yudea Capta’ itu dicetak. Ini menunjukkan bahwa negara Yahudi itu ibarat perempuan yang menangis di bawah pohon kurma. Gambar pohon kurma juga ditampilkan pada koin Yunani dan Romawi. Semua ini menekankan pentingnya pohon kurma sebagai sumber daya ekonomi, dan mengungkapkan bahwa kurma meninggalkan jejaknya bahkan di tali sekalipun, di mana pohon kurma tidaklah tradisional atau asli.

Purbakala Klasik

Orang Yunani dan Romawi menyukai kurma sebagai motif dekoratif, dan menggambarkannya terutama di mosaik. Tiang-tiang marmer Yunani nan tinggi dengan puncaknya yang lebat merepresentasikan pohon kurma. Pohon kurma diasosiasikan dengan dewa utama mereka, Apollo. Dalam mitos Yunani, Apollo dan saudara kembar Artemis dilahirkan di bawah pohon kurma. Pohon kurma Delian semakin penting, karena pulau itu menjadi tempat peristirahatan Apollo. Orang Yunani kuno dan Romawi kuno mengadopsi daun kurma sebagai simbol kemenangan, dikenakan oleh juara dari permainan atau pemimpin militer sebagai karangan bunga atau dikarang dengan tangan. Sementara beberapa sarjana menelusuri adat-istiadat tersebut dari asal-usul Semit, yang liyan berpendapat bahwa kesakralan dari daun kurma lebih terkait-kelindan dengan mitos Heracles. Pohon kurma sebagai hal pertama yang dilihatnya sekembalinya dari bumi kesembilan, dan ia memahkotai dirinya dengan dedaunan kurma.

Kekristenan

Orang-orang Kristen menggunakan ranting pohon kurma untuk melambangkan kemenangan umat beriman, seperti pada hari Kurma Minggu. Semuanya berawal ketika Yesus memasuki Yerusalem sebagai pemenang dan para pengikutnya menyambutnya dengan daun kurma, seperti kebiasaan di wilayah tersebut pada kala itu. Tidak lama kemudian, gereja Kristen mengadopsi daun kurma sebagai simbol kemenangan dan kemartiran, yang menyebabkan penanaman pohon kurma besar-besaran di Italia untuk membangun Roma dengan daun kurma dalam upacara Paskah. Yang lebih mewah dan dihargai adalah daun-daun kurma putih, yang secara bertahap mendapatkan popularitas.

Kiwari, dari sekitar pertengahan musim, daun-daun pohon kurma diikat menjadi satu sehingga bagian dalam secara bertahap warna hijaunya pun memudar dan berubah menjadi putih karena kekurangan klorofil. Di perkebunan orang Spanyol di Elche, di mana tumbuh pohon-pohon kurma yang manis, juga merupakan sumber dari daun yang aneh ini. Daun putih menjadi simbol kemurnian surgawi di samping makna yang sudah diwariskan sebagai simbol kemenangan pagan kuno.

Sampai hari ini Elche mashyur dengan festival tahunannya, yang dikenal sebagai Ziarah ke Elche. Salah satu kegiatan festival itu ialah teatrikal mukjizat kematian dan kenaikan Maria pada abad pertengahan. Peristiwa itu dimulai dengan sosok malaikat yang turun dari awan emas yang berbentuk seperti pohon kurma kepada Maria yang sudah sepuh. Malaikat itu membawa daun emas kurma, yang ia berikan pada Maria, dengan penjelasan bahwa daun kurma itu akan tumbuh di makamnya.

Baca juga:  Uzlah Rasulullah di Gua Hira, Bekal dan Strategi Menuju Dakwahnya

Khazanah Islam

Bagi umat muslim, kurma dan buahnya adalah berkah yang diberikan oleh Allah Swt., sekaligus makanan ajaib yang mampu menyembuhkan tubuh dan jiwa. Menurut perkataan masyhur Nabi Muhammad saw., “Rumah tanpa kurma ialah rumah nan papa.” Kurma adalah mata pencaharian dan ‘Pohon Kehidupan’ mereka. Pohon terlarang di dalam surga pun dikatakan sebagai pohon kurma. Berulang kali disebutkan dalam Al-Qur’an, bahwa kurma sebagai tanda karunia Allah bagi makhluk-makhluknya. Rasulullah saw. juga meminta umat muslim untuk menghormati pohon kurma, karena ‘ia adalah bibi dari pihak ayah. Ia saudara perempuan dari Adam.’

Dalam khazanah Islam, kurma diciptakan dari apa yang tersisa dari tanah liat Adam. Tatkala malaikat menampakkan diri kepada Adam setelah penciptaan, dia berkata kepadanya, “Engkau diciptakan-Nya dari bahan yang sama dengan pohon ini yang tidak akan mengecewakanmu.” Analogi antara manusia dan pohon kurma didedahkan lebih lanjut.

Berdiri tegak, jenis kelaminnya terpisah, perlu diserbuki oleh laki-laki untuk membuahi, serbuk sari itu sendiri dikatakan berbau laksana air mani. Andai kepalanya dipotong, ia mati; dan jika mereka terputus, ia tidak dapat menumbuhkan yang baru di tempat yang sama. Sebuah bendungan digambarkan oleh Nabi sebagai seorang lelaki tinggi dengan banyak rambut di kepalanya, seperti pohon kurma nan tinggi.

Legenda yang beredar mengatakan bagaimana pohon kurma dihormati dan tersentuh oleh kehadiran Muhammad. Suatu kali kurma menekuk kepalanya dan berkata, ‘Damai sejahtera bagimu’, ketika Muhammad memakan buahnya. Masjid di mana Muhammad dimakamkan adalah masjid Islam perdana yang dibangun di Madinah, setelah dia dan para pengikutnya bermigrasi ke sana.

Bangunan masjid itu sebagian besar dari batang pohon dan daun kurma. Muadzin pertama, Bilal, biasa memanjat pohon-pohon kurma untuk memanggil umat beriman sembahyang lima waktu sehari. Singkat cerita, Islam sangat terinspirasi oleh budaya kurma. Ketika orang-orang Arab muslim memerintah Andalusia selama hampir delapan abad, mereka menyebarkan cinta dan pengetahuan mereka perihal kurma ke banyak daerah di Spanyol dan Italia, jika iklim di sana memungkinkan. Pohon kurma menjadi pengenal mereka. Tatkala pada abad ke-15 orang-orang Arab diusir dari Spanyol, pohon kurma hampir sepenuhnya dimusnahkan oleh orang-orang Kristen, yang mencabut pohon-pohon itu karena dianggap sebagai warisan orang-orang kafir. Hanya kebun kurma Elche di Spanyol selatan yang lolos dari era sengkarut politik dan agama itu.

Arkian, kurma yang sebagian besar kering, kiwari adalah buah global berkat iklan dan teknologi canggih dalam transportasi dan pendinginan dan meningkatnya kesadaran manusia kontemporer akan khasiatnya. Faktor liyan adalah sejumlah besar imigran dari Timur Tengah serta negara-negara Asia lainnya yang berdiaspora ke seluruh dunia. Sebagian besar dari mereka adalah muslim, dan mengkonsumsi kurma merupakan tradisi nenek moyang di negara asalnya. Meskipun demikian, tentu saja kurma tidak memiliki agama. Ia sekadar merk dagang belaka!

Sekadar bacaan:

Armanios, Febe, & Boğaç Ergene. Halal Food: A History. Oxford, UK.: Oxford University Press. 2018.

Essa, M. Mohamed, A. Manickavasagan, & E. Sukumar. Dates: Production, Processing, Food, and Medicinal Values. Florida, USA.: CRC Press. 2012.

Kiple, Kenneth F., & Kriemhild Coneè Ornelas. (eds.). The Cambridge World History of Food. 2 Volume. Cambridge, UK.: Cambridge University Press. 2000.

Nasrallah, Nawal. Dates: A Global History. London, UK: Reaktion Books. 2011.
Toussaint-Samat, Maguelonne. A History of Food. West Sussex, U.K.: Wiley-Blackwell. 2009.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top