Sedang Membaca
Gubernur NTB: Kenapa Masjid Ini dinamakan Hubbul Wathan?
Penulis Kolom

Founder Alif.ID. Menulis dua buku humor; Humor Ngaji Kaum Santri (2004) dan Ulama Bercanda Santri Tertawa (2020), dan buku lainnya

Gubernur NTB: Kenapa Masjid Ini dinamakan Hubbul Wathan?

Gubernur NTB: Kenapa Masjid Ini dinamakan Hubbul Wathan?

“Ketika masjid ini kita namakan Hubbul Wathan, banyak yang bertanya. Kenapa masjid ini dinamakan Hubbul Wathan? Kenapa tidak dinamakan At-Takwa? Atau Al-Ihsan? Atau Nurul Islam? Atau nama-nama lain yang biasa dan jamak kita gunakan dan kita dengar menjadi nama bagi suatu masjid?”

Demikian disampaikan Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi dalam sambutan pembukaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU. Zainul Majdi mengemukakan secara singkat tentang nasionalisme melalui simbolisasi nama masjid.

“Kami semua, guru kami semua menjawab pertanyaan tersebut bahwa ini untuk menunjukkan bahwa keislaman dan keindonesiaan itu dalam satu tarikan nafas,” tegas Zainul Majdi. Presiden Jokowi, Panglima TNI, Menteri Agama, Ketua PBNU dan tamu undangan lainnya menyambut pernyataan itu dengan bertepuk tangan.

Kita berislam, kata dia, dalam ruang dan waktu. “Ruang itu namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Waktu itu ada sekarang dan yang akan datang.”

Dia meyakini bahwa nama masjid di kompleks Islamic Center tersebut selaras dengan semangat dari para masyayikh (sesepuh) para pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari dan ulama para pendiri Nahdlatul Ulama.

Setelah diresmikan pada September 2016, bertepatan dengan Idul Adha, Masjid Raya Hubbul Wathan  menggantikan peran Masjid Raya At-Taqwa Mataram. Masjid At-Taqwa akan dialihfungsikan menjadi Museum Peradaban Islam dan tempat kajian Islam.

Baca juga:  Masjid, Ideologi, dan Asmara

Selain tempat ibadah dan kegiatan masyarakat, masjid ini juga dipromosikan sebagai simbol wisata halal: bisnis pariwisata yang diharapkan mendongkrak ekonomi provinsi dengan julukan Pulau Seribu Masjid ini. NTB termasuk provinsi miskin di Indonesia. Dan yang yang lebih ironi lagi, masyarakat Lombok yang kuat tradisi keislamannya ini menyimpan konflik agama, yaitu terkait Ahmadiyah.

Dalam pidato sekitar tujuh menit tersebut, Zainul Mahdi juga sempat menyinggung bahwa pendiri NU Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari dan pendiri Nahdlatul Wathan Maulana Syeikh Zainuddin Abdul Madjid adalah satu guru.

“Maulana Syeikh Tgh Zainuddin Abdul Madjid, guru kami di Nahdlatul Wathan yang tersambung sanad ilmunya, bersama-sama berjumpa dengan Hadratusy Syaikh pada Syaikh Zaini Dahlan, pada Syaikh Said Yamani, dan syaikh lainnya,” ungkapnya. Pernyataan ini, saya kira, adalah ajakan persaudaraan antara NU dan NW di Lombok ataupun di mana saja. Dalam literatur sejarah Islam di Indonesia, NU dan NW ada dalam satu rumpun, yakni masyarakat atau golongan Islam yang bermazhab Ahlussunnah wal jama’ah atau biasa disingkat Aswaja.

Di akhir sambutannya, gubernur alumni Universitas Al-Azhar Kairo itu mengutip satu baik puisi yang ditulis Syeikh Maulana Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid, yang baru-baru ini dianugerahi gelar Pahlawan Nasional:

Hidupkan iman, hidupkan takwa
Agar hiduplah semua jiwa
Cinta teguh pada agama
Cinta kokoh pada negara

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top