Sedang Membaca
Eka Kurniawan: Negara Tidak Berbuat Apa-apa
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Eka Kurniawan: Negara Tidak Berbuat Apa-apa

Benny Benke

Katanya, orang berani hanya mati sekali. Mengapa bisa begitu? Karena nasib baik, selalu berpihak di sisi para pemberani. Eka Kurniawan (44) adalah salah satu dari sedikit mahluk pemberani. Yang ada di negeri ini. Paling tidak, dia berani menolak hadiah yang diberikan negara kepadanya.

Di era rezim yang riang menangkapi lawan politik, juga siapa saja yang ditimbang berani menantang penguasa, penolakan Eka, lumayan berisiko. Meski ada juga yang berpendapat, ditangkap aparat negara (polisi) di rezim kali ini, untuk alasan tertentu, malah menjadi sebuah prestasi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Meski pagi-pagi sekali, anak filsafat ini sudah memasang pagar perlindungan. Dengan mengatakan, “Suara saya mungkin terdengar arogan, tapi percayalah, negara ini telah bersikap jauh lebih arogan, dan cenderung meremehkan kerja-kerja kebudayaan,” tulisnya dalam surat pernyataan penolakan menerima penghargaan Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru dari Kemendikbud RI, beberapa waktu lalu.

Menurut Eka, yang oleh sejumlah pemerhati sastra Indonesia modern ditabalkan sebagai Pram baru, kalau dia menerima penghargaan dari negara, sama saja dengan menganggukkan kepalanya dengan keabaian negara, yang cenderung makin represif ini. Keren, ya. Kelaslah. Ngga gentar ditandai, Ka? Diincim, kata orang Jawa.

Ah, mending saya langsung main ke rumahnya di bilangan Ciputat Timur, Tangsel saja. Di lantai dua, berlatar perpustakaan sahaja, juga poster Gabriel José de la Concordia García Márquez, novelis cum jurnalis kegemarannya, kami ngobrol sekedarnya. Ditemani teh manis, hati dan pikiran terbuka, kami berbicara wabil khusus tentang anak muda, internet dan milenials.

Intinya, tentang perspektif kebudayaan dari kaca mata penerima sejumlah penghargaan internasional berwibawa, di bidang susastra.

Oh ya, pak Haji Eka Kurniawan belum lama ini melunaskan kewajibannya sebagai seorang mukmin yang baik. Dengan pergi ke Tanah Suci, pada Agustus lalu, setelah menunggu selama tujuh tahun, sembari mengawal ibundanya terkasih. “Tapi, Haji-nya ngga usah ditulis,” pintanya, Kamis (24/10).

Berikut petikan obrolan kami:

Bisakah masa sekarang ini disebut sebagai era serba-internet, dan serba-muda. Sehingga apapun harus mengikuti aturan digital, dan kepemudaan atau kemilenialan?

Generasi milenial ada setelah generasi milenial baru. Yang sebagian besar hidupnya dengan internet. Beda dengan generasi kita, yang separuh hidupnya masih atau belum tersentuh internet. Yaitu Generasi transisi. Yang pada suatu saat masih kangen dengerin musik dari kaset atau CD, atau belum sepenuhnya dengerin Spotify dll.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Masih baca buku, koran dan majalah. Sementara generasi milenial, karena sejak lahir, hidup dengan internet dan dunia digital, makanya tidak ada beban hubungan dengan masa lalu. Meski mereka tahu koran dan majalah, tapi sangat berjarak. Mereka memandang dunia juga dengan sangat berbeda, dari generasi kita.

Baca juga:  Anjing Pemburu

Apa yang harus dilakukan anak-anak muda ketika harus hidup dalam keserbainternetan?

Mereka akan menemukan caranya sendiri, sebagaimana generasi sebelumnya, menemukan caranya sendiri. Sebagaimana saat Televisi lahir dan sempat dinilai akan menjadi kebudayaan yang berbahaya. Karena akan merusak imajinasi kita, karena dinilai lebih bagus membaca buku, atau mendengarkan radio. Kalau membaca buku kan memancing imajinasi. Tapi nyatanya toh kita bisa survive dengan TV. TV akhirnya menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah generasi.

Akhirnya teknologi selalu mempunyai dua mata sisi. Bisa sangat membantu kita, baik secara real, dan mencerdaskan kita. Tapi juga bisa menjadi sesuatu yang jahat, dalam arti bisa merebut pekerjaan, mendistraksi kita. Menurut saya, generasi milenial jauh lebih tahu bagaimana memanfatkan internet dan dunia digital.

Apakah siapapun (termasuk orang tua masa kini), harus memahani dunia anak muda?

Pada awalnya saya sempat resisten dengan Spotify, sebagaimana saya lebih menikmati dunia buku fisik. Dengan baunya, dengan mencoret-coret halaman tertentunya dan seterusnya. Tapi ketika saya membaca E-Book atau buku elektronik,  lama kelamaan bisa menikmatinya.

Bahkan ada hal, atau banyak hal bisa saya temukan dalam E-Book daripada buku fisik. Seperti kesimpelannya dll. Saya tidak perlu khawatir lagi akan kehabisan buku bacaan ketika sedang melakukan perjalanan. Karena ada E-Book. Saya tinggal search apa yang mau saya baca, dan jumlahnya ratusan. Kalau saya mau menandainya, saya tinggal melakukan book mark. Kalau saya masih membawa buku fisik dalam sebuah perjalanan, banyak kerepotannya, juga berat.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Saya raya generasi kita harus belajar kepada mereka. Karena betapa pun zaman maju ke depan, tidak ke belakang. Tidak mungkin kita berbalik, ke belakang. Seperti misalnya, situs-situs berita menghilang dan kita kembali ke koran. Mungkin dalam konteks nostalgia bisa terjadi. Seperti yang terjadi dengan kembalinya trend0 piringan hitam. Tapi sebagai medium mainstream, tidak akan terjadi.

Apa yang harus dilakukan pemerintah terhadap anak muda?

Harus memberikan ruang yang luas. Dalam arti, menyediakan jaringan internet yang baik, untuk anak muda. Karena hidup mereka dan kolam renang mereka ada di situ. Seperti kasus right sharing atau ojeg online, yang pertama kali menggunakannya anak-anak muda. Sebelum pada akhirnya, semua orang menggunakan dan mendapatkan manfaatnya.

Pemerintah harus menyusun regulasi dan membangun infrastruktur di bidang ini, dengan lebih baik. Setidaknya dalam bidang perbukuan, munculnya buku elektronik, meski belum signifikan, tapi keberadaan perpustakaan digital, sangat membantu sekali.

Baca juga:  Berpuisi Kota Suci

Apakah kabinet kali ini memberikan ruang kepada kemilenialan?

Saya belum tahu. Saya lihat memberi ruang kepada anak muda, dalam konteks memberi jatah empat menteri kepada anak muda di bawah usia 50 tahun, sudah. Tapi bahwa kebijakan-kebijakan mereka akan mendukung dunia kemilenialan, itu dua hal yang berbeda. Ya harus ditunggu dan dibuktikan dulu. Meskipun ada semacam harapan dari presiden, dengan mengatakan prioritas lima tahun ke depan adalah pembangunan SDM. Mau ngga mau dunia internet dan kemilenialan, sangat penting sekali. Karena kalau berpikir tentang dunia orang seperti kita, yang mungkin sudah terbentuk, akan susah sekali.

Apalagi yang harus direbut anak muda? Tak hanya puas diberi menteri muda, dan seakan akan gaul kan?

Banyak yang harus direbut anak muda. Tapi saya yakin, tanpa harus didorong-dorong mereka akan merebut nasibnya sendiri. Karena karakter psikologis anak muda selalu melakukan itu. Apalagi keberadaan internet di dunia digital ini, memungkinkan anak muda bisa melakukan semua hal.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dalam 20 tahun terakhir anak muda selalu melakukan gangguan atau distruption kepada banyak hal. Juga kepada sistem. Terkadang pemerintah agak terbirit-birit dibuatnya. Karena, anak muda selangkah lebih maju, saat aturannya belum dibuat. Seperti Ojol. Aturannya belum dibikin, dia sudah menjadi bisnis besar. Juga media streaming seperti TV, aturanya belum dibuat, bisnisnya sudah jalan. Artinya itu menciptakan gangguan kepada sistem. Seperti keberadaan Youtuber, yang barangkali juga semacam gangguan kepada rezim TV, yang sangat susah ditembus, misalnya.

Karena begitu banyak tahapannya di sana. Tetiba dia bisa masuk Youtube, dan menjadi seleb. Bahkan mereka bisa dengan gampang meninggalkan TV. Toh anak sekarang  juga jarang menonton TV, mereka cenderung menonton Youtube. Bahkan kemarin anak saya masih kelas 3 SD, bisa ngomong gini,”Eh, ada menteri baru ya”. Saya jawab,”Tahu dari mana?”, dia jawab,”Youtube”. TV di rumah ini hanya hidup jika mau nonton bola atau sekedar mau denger efek berisik-berisiknya saja.

Dipercaya gerakan pemuda belum selesai, karena Sumpah Pemuda hanya titik awal belaka. Pergerakan itu perlu diperbarui atau tenggelam?

Gerakan pemuda akan silih berganti. Kalau di Indonesia ada semacam pola. Karena banyak gerakan diawali oleh anak muda, atau mahasiswa. Meski tidak ada kesinambungannya. Karena akan muncul lagi, gerakan itu, dalam satu atau dua dekade, lagi.

Dalam konteks sosial politik Indonesia, yang paling memungkinkan melakukan perubahan itu, ya anak muda. Karena mereka punya waktu yang melimpah, meski secara kuantitas, gerakan buruh lebih meluas, dengan kategori umur yang lebih luas juga.

Baca juga:  Al-Hikam dan Transformasi Pemikiran Ulil Abshar Abdalla?

Tapi, buruh juga terbatasi oleh waktu, diluar beban keluarga dan kerjaan. Sedangkan mahasiswa, mereka bisa bolos kuliah dan seterusnya. Mahasiswa mempunyai privilege dari pada kelompok sosial yang lain. Karena mereka terpelajar .Belajar dari banyak kasus, misalnya di tahun 1988, atau sebelumnya, biasanya, setelah mereka lulus, maka, mereka harus mulai berpikir realistis dan pragmatis. Mereka akhirnya bukan lagi menjadi satu kesatuan, dan tidak lagi menjadi pemuda. Jadi, tidak ada kesinambungannya.

Sebagai representasi anak Muda, Anda baru-baru ini melakukan perlawanan kepada rezim. Dengan menolak menerima penghargaan Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru dari Kemendikbud RI, dengan alasan yang sudah Anda jelaskan dalam surat pernyataan Anda. Ada keterangan tambahan?

Kurang lebih sama dengan apa yang sudah pernah saya tulis. Artinya, saya meminta kepada pemerintah untuk jauh lebih dalam berpikir tentang kebudayaan. Karena kebudayaan adalah reka cipta manusia. Kalau kita mau membayangkan hal yang paling pragmatis dalam arti pembangunan ekonomi. Dengan harapan Indonesia menjadi maju dengan pendapatan per kapita sekian sekian, itu tidak apa-apa. Tapi dibalik itu semua, kita tetap membutuhkan manusia yang bekerja, yang menciptakan kebudayaan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dan kebudayaan ini, pemaknaannya luas. Tapi seperti apa keterlibatan pemerintah dalam kerja-kerja kebudayaan seperti ini. Dalam pengamatan saya, dalam lima tahun kebelakang pemerintahan Jokowi, dalam kerja kebudayaan atau kemanusiaan adalah urusan yang  paling gagal. Bahkan hampir tidak diperhatikan. Ketika saya melakukan protes itu, ada yang bilang, sebenarnya pemerintah sudah melakukan kerja-kerja kebudayaan.

Dengan mengatakan pemerintah sudah banyak ngurusi kebudayaan, contohnya, dengan banyaknya festival-festival di banyak tempat, juga pameran buku. Dalam konteks itu, iya, negara sudah berbuat, tapi dalam konteks kebudayaan hakiki, itu menjadi sogokan seolah-olah pemerintah sudah melakukan sesuatu. Padahal itu semua adalah hanya pemanis, atau gula-gula. Karena hal yang paling problematis dan mendasar, tidak disentuh negara. Bahkan diabaikan negara.

Bahwa ada suara-suara yang mengatakan, kalau hadiah anugerah kebudayaan dari negara sebesar satu miliar rupiah, akan saya terima, padahal itu hanya pengandaian belaka. Jika pemerintah benar-benar memberi uang sebanyak itu, barangkali pemerintah berpikir yang baik tentang kebudayaan. Orang tidak mungkin menginvestasikan sesuatu secara besar-besaran, kecuali dia benar-benar berpikir hal itu sangat penting, kan?

Makanya saya tidak akan berandai-andai. Buat saya lebih baik, lihat faktanya, toh perhatian pemerintah hanya seperti ini. Ngapain gede-gedean merayakan festival sastra, sementara ada penyair hilang, negara tidak berbuat apa-apa. Menurut saya, itu tidak ada artinya. (SI)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top