Asep Salahudin
Penulis Kolom

Kolumnis, tinggal di Bandung

Neangan Pajaratan: Arus Balik H. Usep Romli HM

Fb Img 1594346080274

Hirup teh kumambang kabingbang/Lar beurang taya bayana/Reup peuting sadaya-daya. Sajak ini ditulis Kang Usep Romli HM, berjudul ”Pajaratan”, ber-titi mangsa 1976. Kini, menginjak usia 61 tahun (lahir di Limbangan pada 1949) melalui kumpulan cerpennya ”Sanggeus Umur Tunggang Gunung” Kang Usep meraih penghargaan sastra Sunda, Rancage. Tahun 2010.

Semula kumpulan cerpennya tersebut hendak diberi judul ”Neangan Pajaratan” sebagaimana disampaikan pada penulis ketika kami kebetulan bertemu di Tanah Hijaz, dalam sebuah obrolan panjang selama lima jam di tengah malam setelah kenyang makan sup unta. Namun, atas satu dan lain hal pertimbangan penerbit yang keluar justru judul itu.

Tidak ada yang menyangsikan ihwal produktivitas Kang Usep dalam menulis. Terbentang dari tema sastra sampai urusan politik, lingkungan, dan persoalan agama. Tebaran karyanya menjadi bukti kesetiaannya menjadikan kepenulisan sebagai takdir hidupnya, meski dalam konteks budaya Indonesia menjadi penulis membutuhkan mental baja. Saya catat karya tulisnya di bidang sastra: “Si Ujang Anak Paledang” (1973), “Pahlawan-Pahlawan Hutan Jati” (1974), “Pahlawan Tak Di Kenal” (1980), “Nyi Kalimar Bulan” (1982), “Bambu Runcing Aur Kuning” (1984), “Desa Tercinta” (1984), “Berlibur ke Kaki Gunung” (1982), “Sabelas Taun” (1979), “Bentang Pasantren” (1983), “Ceurik Santri” (1985), “Nganterkeun” (1966), “Jiad Ajeungan” (1991), “Nu Lunta Jauh” (1992).

Karena bahasa dan gagasan dibentuk latar sosiokultural sang pengarang, Kang Usep yang besar di lingkungan pesantren dan pernah ngaprak ngobong, maka ruh ini pula yang menjadi sel darah merah yang menafasi sejumlah karyanya. Terutama dalam “Bentang Pasantren” (1983), “Ceurik Santri” (1985), “Jiad Ajeungan” (1991), “Nu Lunta Jauh” (1992).

Baca juga:  Sejarah Kiai Ahmad Dahlan dalam dunia Jurnalistik

**

DALAM konteks ini Kang Usep dengan kuat menghirup oksigen santri dan mensyarahi peristiwa dan fantasi psikologis mereka. Karyanya berhasil memotret dunia pesantren dalam teropong etnografis tentu dalam langgam sastrawi dan kecermatan menerapkan fenomenologi kultural keagamaan, menjadi dokumen antropologis penting yang merekam pertumbuhan dan dinamika sosial pesantren di tatar Sunda, semisal hasyiyah para menak Jawa melalui Para Priayinya Umar Kayam.

Dalam periode ini tampak sosok pengarang yang masih “liar” mengumbar daya imajinasinya termasuk ketidaksukaannya terhadap “tata tertib” seperti keputusannya hengkang dari pegawai negeri sipil dan juga keluar dari bangku kuliah baik di IKIP (sekarang UPI), atau pun di IAIN Sunan Gunung Djati (sekarang UIN). Walaupun pengarang berpihak kepada tokoh rekaannya, tetapi keberpihakannya ini tidak membuatnya jatuh dalam kutub normatif sebagaimana tampak dalam gejala novel islami akhir-akhir ini yang isinya ternyata hanya khotbah dan petuah. Sastra terlampau dibebani pesan moral serba didaktis.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dalam lima belas tahun terakhir, terutama setelah sang pengarang juga berperan sebagai dai dan memimpin sebuah koran islami (Tabloid Hikmah), ada pergeseran: beberapa cerpennya sangat bersemangat menyampaikan dakwah, bertendensi amar makruf nahi munkar sebagaimana dalam “Paguneman Firaon”. Padahal justru kekuatannya tidak terletak dari sisi heroisme “komunikasi dakwah” yang dibungkus sastra ini, tetapi dari penggalian kekayaan batin alam pikir budaya Sunda yang dipadukan dengan kedalaman religiositas iman yang inklusif sebagaimana pada karya-karya awalnya.

Baca juga:  Dakwah Berwatak Gus Dur

***

Tendensi didaktik ini tidak banyak kita temukan lagi dalam “Sanggeus Umur Tunggang Gunung”. Saya dapati kembali Usep Romli yang bermetamorfosis ke ”masa muda” dan apalagi dalam karya terakhirnya diperkaya latar manusia Sunda yang lunta ka jauhna, mengembara bukan hanya ke berbagai pelosok tanah air, tetapi ke bilik penjuru-penjuru dunia baik ke Timur Tengah atau pun ke Eropa Barat dan Eropa Timur. Mengingatkan saya kepada sajak-sajaknya semisal “Afghanistan”, “Surat ti Bosnia Herzegovina”, “Nu Lumampah Mawa Lengkah”, dan “Kalangkang Piramid”.

Sikapnya yang selalu vokal terhadap persoalan sosial juga dengan benderang terlihat dalam karya terakhirnya itu. Baik yang berjudul “Lauk Cimanuk”, “Neangan Pajaratan”, “Sanggeus Umur Tunggang Gunung”, “Tangkal Buah Pipireun Imah”, “Aki Jumli Milu Pemilu”, “Tawuran”, “Tower”, “Ahli Waris”, dan dalam cerpen “Kasakten Abah Suma.”

Dalam “Sanggeus Umur Tunggang Gunung”, tampak bagaimana alur cerita sangat kontekstual dengan sejarah keseharian ketika politik tampil sebagai panglima. Politik sebagai manipulasi kerja nipu nu leutik. Ngahirib-hirib menjadi -istilah Seno Gumira Ajidarma- “jurnalisme sastra”. Hadir suasana kebatinan Japrana seorang anggota DPRD dari Partei Buldoser yang selalu mengalami goncangan batin antara tarikan kuasa dengan panggilan nurani walaupun justru akhirnya yang pertama yang tampil dominan. Mungkin dalam politik kesadaran senantiasa datang terlambat. Baru eling ketika tubuh geus teu walakaya, tatkala alam burakrakan dan lingkungan teu mangrupa karena kebijakannya yang sesat (silung). Kita simak penggambaran tragis itu, “Sora tonggeret. Pasosore, ngaheab ka panonpoe surup. Matak nambahan kanalangsa Japrana, nu teu walakaya. Nandangan panyakit lumpuh mangtaun-taun. Ti barang karasa nepi ka ayeuna, maju sabelas taun. Ngajoprak di kamar. Sagala kahayang gumantung ka batur. Untung aya nu daek ngurus. Pamajikan nu baheula mindeng dinyeunyeuri. Dipanglacurkeun. Dipangnyandungkeun. Tetep satia bumela, sanajan salaki geus mirupa karung goni …Kabeh geus laleungitan ti sakuriling dirina. Sora tonggeret. Sora turaes. Dalah sora sinsow ragaji mesin anu ngagalaksak oge, geus teu kadenge. Bareng jeung rubuhna tatangkalan, bulistirna pasir jeung gundulna gunung.”

Baca juga:  Islam yang Digali Sukarno

Bahkan ada terasa diselipkan seks nostalgis yang diperankan manusia renta seperti dalam “Tangkal Buah Pipireun Imah”. Mungkin hikayat seks setua riwayat manusia dengan menyisakan dua jalan: jorang dan cawokah atau mendayuh antara keduanya. *

Pernah dimuat di Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 7 Maret 2010

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top