Sedang Membaca
Bendera dalam Catatan Sastrawan, Dari D. Zawawi Imron hingga SDD

Bendera dalam Catatan Sastrawan, Dari D. Zawawi Imron hingga SDD

Bandung Mawardi

Pada 1 Agustus 2019, berita datang dari Lembah Semilir di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Ratusan orang menghadiri acara pembentangan bendera merah-putih berukuran 30 meter x 45 meter. Acara itu dimaksudkan memberi arti peringatan Hari Kemerdekaan (Solopos, 2 Agustus 2019).

Kita mulai diajak memberi pujian ke pembentangan bendera, bukan pengibaran. Kita pun masih menanti bakal ada acara-acara heboh mengenai bendera berkaitan ukuran, tempat, dan pemecahan rekor. Nalar-imajinasi kita mengenai bendera perlahan mendangkal jika menuruti acara-acara aneh dan minta tepuk tangan.

Berita bertema bendera bertambah. Di Pantai Megamas, Manado, 3 Agustus 2019, Wanita Selam Indonesia berjumlah 3.131 orang memecahkan rekor dalam pembentangan bendera terbesar di bawah air. Rekor itu dicatat oleh Guinnes World Records (Nova, 12-18 Agustus 2019).

Para pembaca boleh tepuk tangan, berteriak bangga, atau terharu. Bendera di masa sekarang cenderung di peristiwa kolosal dan raihan rekor. Mereka memiliki argumentasi dan misi. Mereka ada di adegan pembentangan bendera, tak lagi pengibaran bendera.

Di peringatan Hari Kemerdekaan sekian tahun lalu, Goenawan Mohamad sodorkan esai tak terlalu “berkibar”. Esai campur aduk mengenai bendera, Nietzsche, penafsir kitab suci, dan sastra Rusia. Sederet pengalaman dan kutipan dihadirkan bersama untuk Indonesia terus bertambah-berkurang arti. Hal terpenting untuk dibaca lagi hari ini mengenai bendera.

Goenawan Mohamad (Tempo, 20 Agustus 2000) mengembalikan ingatan kecil: “Pada mulanya adalah kertas-kertas minyak. Pada suatu hari di tahun 1947, penghuni kampung di tepi kota itu merekat-rekatnya jadi bendera, merah-putih kecil, yang dilem pada bilah bambu. Mereka memasangnya di pintu-pintu rumah. Beberapa jam kemudian seregu tentara pendudukan melewati kampung itu. Insiden terjadi. Letnan Belanda menyuruh semua bendera dicopot. Tak ada yang melawan. Tapi prajurit itu berkeras. Seseorang disuruh menelan merah-putih kertas minyak itu, dan dengan rasa takut menurut…”

Hari-hari setelah Soekarno membacakan teks proklamasi, Indonesia masih kesulitan kain. Dampak pendudukan Jepang belum sirna. Di tatapan mata, para pemimpin, kaum muda-revolusioner, dan jelata mengenakan busana unik. Kain terlalu berarti saat sulit ditemukan di pasar. Baju di tubuh diusahakan awet. Sekian tambalan bukan aib. Celana pendek atau panjang dikenakan belum ke patokan formal, parlente, atau gengsi. Tubuh-tubuh berpakaian meski sederhana atau tambalan. Masa lalu kain itu teringat para pelaku dan saksi menjadi cerita-drama terwariskan.

Baca juga:  Novel Gadis Pantai: Kisah Santri Rembang dan Seorang Gadis 

Kita mungkin pernah terkejut menonton film-film tengan 1945 atau masa revolusi terdapat adegan orang-orang mengibarkan ratusan bendera merah putih. Bendera dari kain. Penulis skenario, sutradara, dan penata kamera terlalu ingin mengisahkan Indonesia itu heroik. Ratusan bendera berkibar itu tanda drama berlangsung di desa dan kota. Sejarah kadang terselip di buku lusuh atau lemari tua sudah lama tak dibuka.

Di esai berjudul Pada Mulanya Adalah Kertas-Kertas Minyak, Goenawan Mohamad melanjutkan warisan cerita dari kampung, bukan ruang terpenting di sejarah bernama Jakarta. Kertas tak dimaksudkan “memukul” pembakuan dimiliki publik bahwa bendera harus selalu kain. Mereka sengaja lupa bahwa masa 1940-an Indonesia itu miskin. Kain sulit dicari meski Fatmawati mampu menjahit kain dijadikan bendera, disimpan sekian lama sebelum dikibarkan di halaman rumah, 17 Agustus 1945. Pencarian kertas-kertas masih mungkin asal berwarna merah dan putih. Ungkapan revolusioner dibuktikan dengan menggunting dan mengelem. Kertas-kertas tipis gampang rusak. Pada bendera, Indonesia itu ada dan berkibar. Indonesia tetap memiliki bendera. Kain sering tiada, kertas pun berguna. Kertas mengartikan keberanian memiliki-menjadi Indonesia. Kertas lekas rusak dan hancur, pembuat dan pemasang bendera tetap “mengibarkan” Indonesia dalam imajinasi. Keberanian mereka ditumpas oleh musuh. Drama itu terasa “realis” ketimbang garapan film-film mengisahkan 1945 atau tahun-tahun revolusi.

Tahun-tahun berlalu, Indonesia ingin berlari dari kemiskinan. Lari belum jauh, keringat mengucur deras. Capek! Indonesia memiliki tanggungan sejarah dan ramalan belum terang di masa depan. Indonesia masih saja disusun di kota-kota besar, membiarkan desa-desa menjadi ruang dikucuri perintah. Revolusi belum selesai justru memberi sedih dalam biografi D. Zawawi Imron, pujangga asal Sumenep (Madura). Ia hidup di keluarga lugu, bertempat di desa, jauh dari kebisingan slogan dan impian muluk berlangsung di kota-kota. Desa berjarak jauh itu tetap mendapatkan perintah bersumber di Jakarta. Zawawi Imron jadi saksi, selang sekian tahun ia mengenang terharu.

Baca juga:  Terbius Gus Mus

Zawawi Imron (2003) mengenang diri, ibu, dan bendera: “… ketika saya pulang dari pesantren untuk menyaksikan keramaian memperingati HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1960. Waktu itu, pertama kali ada perintah (setengah tekanan), setiap rumah yang terlihat dari jalan besar harus mengibarkan bendera kain, tidak boleh bendera kertas. Ibu saya jangankan beli bendera, bajunya sendiri sudah bertambal-tambal tidak diganti. Ibu membuat bendera yang merahnya dari baju bekas saya, sedang putihnya dari sarung bekas ibu yang sudah tidak terpakai. Ibu menjahitnya dengan rajin sehingga tambalan-tambalannya tidak kentara. Waktu itu, saya terharu. Tapi lebih terharu lagi bila bendera itu saya ingat sekarang. Bendera yang satu ini kadang-kadang berkibar dalam kenangan dengan hebatnya sehingga saya naik ke puncak keharuan.”

Kesaksian itu seperti terputus. Zawawi Imron mungkin enggan mencantumkan “prihatin” dengan cara mengartikan Indonesia oleh pelbagai pihak dengan membuat bendera kain berukuran raksasa dipasang di bukit atau pegunungan. Bendera panjang dibawa ratusan orang di sepanjang sungai. Bendera sulit “berkibar”.

Baca Juga

Di tanah lapang, orang-orang dengan dukungan pemerintah, komunitas, dan pengusaha membentangkan kain berwarna merah-putih. Mereka sebut itu bendera dalam posisi rebah. Acara-acara mereka dipotret atau disasar kamera untuk tampil di televisi dan media sosial. Kain-kain hampir tak memiliki cerita, biografi, dan keharuan. Kain-kain itu dipilih di godaan menjadi “berita” dan raihan rekor. Pada bendera-bendera besar dan panjang, Indonesia sedang dimaknai tanpa harus mengutip penggalan tulisan dari Goenawan Mohamad dan Zawawi Imron. Bendera itu rekor demi rekor setiap tahun. Rekor itu piagam dan tepuk tangan. Bendera kehilangan keharuan.

Bendera kehilangan heroisme puitis. Di angan publik, bendera dipahami benda dan dipastikan Indonesia di warna merah-putih. Bendera di ujung bambu runcing atau tiang bendera tegak dalam upacara di sekolah tak mencukupi untuk obsesi memiliki Indonesia. Bendera terlalu cepat menjadi berita, lepas dari cerita-cerita. Zaman telah lugas. Berita itu ingin fakta-fakta diterima dengan heran. Berita-berita mengenai bendera selama Agustus sering di persaingan kejutan dan minta perhatian. Kita harap maklum jika mendapat berita “pengibaran” bendera dalam laut disiarkan secara langsung di televisi. Pesawat atau helikpoter membawa bendera agar orang-orang mengarahkan mata ke atas pun berita. Laut, sungai, sawah, bukit, dan pegunungan jadi tempat-tempat membuat berita bertema bendera. Cerita-cerita hampir punah. Bendera mendingan pemecahan rekor ketimbang keharuan berlatar masa 1940an dan 1960-an.

Baca juga:  Hari Santri: Pesantren, Rahim Sastra Indonesia

Pada masa 1980-an dan 1990-an, orang-orang mengingat bendera tak cuma kertas dan kain. Bendera itu plastik. Dulu, murid-murid SD dan SMP tak lagi direpotkan membuat bendera dari kertas dilem. Mereka dianjurkan membeli bendera dibuat dari plastik. Tugas murid adalah memasang bendera itu di batang bambu. Adegan lain adalah menata bendera plastik di tali untuk dipasang di atas jalan atau serambi sekolah. Bendera di atas, menanti kedatangan angin agar berkibar. Hari demi hari berlalu, warna bendera itu luntur dan tatanan tak lagi rapi. Konon, harga bendera plastik itu murah ketimbang kain.

Kita mengingat masa lalu sambil membaca cerita berjudul Berkibarlah Benderaku (2019) gubahan Sapardi Djoko Damono. Cerita mengenai bendera berdalil berkibar. Pujangga kurus itu menulis:

“Nah, kalau bendera kita tidak berkibar janganlah menyalahkan si bendera, juga jangan menyalahkan angin atau bahkan menuduhnya ini-itu. Kalau angin capek dan istirahat atau bosan mencari sarangnya, akibatnya sangat buruk bagai bendera – tidak bisa berkibar. Dan karenanya tidak gagah dan tidak pula perwira. Masalahnya, setiap tanggal 17 Agustus kita wajib mengibarkan bendera. Jutaan bendera, puluhan juta bendera, ratusan juta bendera – semua harus berkibar, istilahnya saja mengibarkan bendera.”

Cerita itu mengandung sindiran. Berkibar jadi ketentuan di pemaknaan bendera. Sapardi Djoko Damono tentu bukan mau mengejek para pembuat rekor dengan bendera. Mereka sedang mengibarkan obsesi ketimbang bendera. Begitu.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top