Sedang Membaca
Belum Seribu Halaman
Bandung Mawardi
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Belum Seribu Halaman

Kubi

“Tjetakan ini, selain perbaikan salah tjetak dan tambahan sedikit-sedikit, tiada bedanja dengan tjetakan pertama.” WJS Poerwadarminta menulis satu kalimat saja. Ia sedang pelit. Pembuat kamus mungkin lelah dan memang tak memerlukan memberi puluhan kalimat. Pembaca diharapkan mudah mengerti. Satu kalimat saja ditulis di Jakarta, 1954.

Kalimat sederhana tapi dibuat setelah kerja serius dan lama.

Kalimat itu menjadikan Kamus Umum Bahasa Indonesia cetakan kedua (1954) bisa diterima oleh para pembaca. Mereka berpedoman keterangan untuk tak terlalu berharap ada perubahan besar, setelah mengetahui cetakan pertama, 1952. Dua tahun, jumlah lema baru berhasil masuk dalam kamus cuma sedikit.

Bahasa Indonesia bertumbuh pesat sejak pemerintah pendudukan balatentara Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda, 1942. Pembuatan kamus-kamus dan buku-buku pelajaran bahasa Indonesia menjadi meriah. Bahasa Indonesia berkembang di sekolah, tergunakan dalam politik, dan bermekaran dalam sastra. Pers turut menggairahkan bahasa Indonesia.

Pada masa 1950-an, jumlah kata dalam bahasa Indonesia bertambah tanpa janji lekas masuk dalam kamus-kamus.

Kita mengetahui dari penerimaan istilah-istilah dari pelbagai bahasa asing dan pengaruh bahasa-bahasa daerah. Sutan Takdir Alisjahbana (1945) tampak menginginkan penggunaan istilah-istilah asing diserap atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai bukti kemajuan. Bahasa Indonesia mungkin bisa cepat “gemuk”. Kamoes Istilah: Asing-Indonesia (1945) dimaksudkan Sutan Takdir Alisjahbana memicu keseriusan mengembangkan bahasa Indonesia bergaul dengan bahasa-bahasa moncer biasa digunakan dalam ilmu pengetahuan modern.

Baca juga:  Membangun Peradaban Tanpa Uang 

Kamus tipis itu dicetak dengan kertas gampang rusak. Kamus tak bertahan lama tapi mengingat penambahan lema untuk kamus-kamus bahasa Indonesia.

Kita belum mengetahui peran Kamoes Istilah dalam pembuatan Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh Poerwadarminta. Di cetakan pertama (1952), kita tak pernah menemukan halaman daftar pustaka atau keterangan mengenai tata cara penggunaan sumber-sumber untuk pembuatan kamus.

“Tak teringkari lagi bahwa kamus ini masih banjak tjatjat tjelanja, dan banjak pula kekurangannja,” pengakuan Poerwadarminta dalam pengantar ditulis di Jakarta, 1951. Kamus dianggap “sederhana” dan “ringkas”. Para pembaca mengangguk meski melihat buku itu tebal: 904 halaman. Poerwadarminta tak perlu menjanjikan kamus bisa seribu halaman.

Dulu, kamus terbitan Balai Pustaka itu dijual dengan harga 40 rupiah. Pada cetakan kedua, harga berubah menjadi 53 rupiah. Jumlah halaman tetap sama, 904. Perubahan terjadi dalam pilihan warna untuk sampul. Perubahan penting dalam penamaan institusi untuk pembuatan dan pengesahan kamus. Cetakan 1952: “Lembaga Penjelidikan Bahasa dan Kebudajaan”. Pada cetakan kedua, 1954: “Lembaga Bahasa dan Budaja.” Kita mengerti perubahan nama bukan lelucon murahan tapi ikhtiar memajukan bahasa Indonesia di pemerintah dan ruang akademik (Universitet Indonesia).

Cetakan kedua tak lagi oleh Balai Pustaka tapi Perpustakaan Perguruan, Kementerian PP dan K. Perubahan penerbit mengesankan administrasi dan misi kerja mengalami perubahan terlalu cepat di Indonesia. Situasi politik dipastikan memberi pengaruh besar dalam perubahan nama dan peran lembaga. Peran pemerintah pun diwujudkan melalui alur atau prosedur berbeda untuk penerbitan kamus.

Baca juga:  Ngaji Gus Baha: Kafirkah Orang Yang Membuka Aurat?

Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) di halaman 159 memuat lema “dunia”. Poerwadarminta mencantumkan bentukan kata dari “dunia”. “Keduniaan” diartikan: “(segala sesuatu) jang bersifat dunia; jang berkenaan dengan dunia.” Di Kamus Umum Bahasa Indonesia (1954), lema dunia terdapat di halaman 159 mendapat tambahan keterangan. “Keduniaan” berarti “(segala sesuatu) jang bersifat dunia; jang berkenaan dengan dunia.” Penambahan: “bersenangan hidup; harta benda dunia.”

Cetakan pertama dan kedua membuktikan perkembangan bahasa Indonesia belum pesat. Jumlah halaman kamus tetap. Penambahan lema cuma sedikit. Dua tahun mungkin waktu singkat bagi orang-orang berharap ada kata-kata baru digunakan dan beredar untuk berhak masuk kamus-kamus. Poerwadarminta mungkin sedang sibuk, tak sempat mencari dan mengumpulkan beragam bahan bacaan untuk menjadikan Kamus Umum Bahasa Indonesia mencapai seribu halaman. Begitu.

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top