Sedang Membaca
Islam sebagai Ilmu dan Islam sebagai Laku
Heru Harjo Hutomo
Penulis Kolom

Penulis lepas. Mengembangkan cross-cultural journalism, menulis, menggambar, dan bermusik

Islam sebagai Ilmu dan Islam sebagai Laku

salat di masjid

Seorang mahasiswa ushuluddin, jurusan filsafat Islam, mendadak dipertanyakan tentang keterampilannya berwudlu oleh seorang santri ketika ia tengah berbicara tentang Ihya’ Ulumuddin-nya al-Ghazali, khususnya tentang bab ‘Ajaibul Qulub. Bagi sang santri, kelakuan mahasiswa itu dianggap sebagai sebuah kelancangan dimana konon kitab itu mesti membutuhkan seorang guru yang bersanad jelas yang bahkan pun untuk sekedar membacanya.

Demikianlah ketika dua dunia, dunia akademik dan dunia pesantren, bertemu. Atau dengan bahasa yang lebih tepat, ketika Islam sebagai sebuah ilmu bertemu dengan Islam sebagai sebuah laku. Bagi sang mahasiswa, karena terkerangkeng paradigma akademik, keterampilan berwudlu bukanlah hal yang pokok dalam mendiskusikan pandangan-pandangan al-Ghazali, sebagaimana mahasiswa sosiatri yang tak mesti melacur ketika berbicara tentang prostitusi.

Inkompatibilitas dua dunia itulah yang kemudian membawa orang pada pengertian tentang Islam yang ternyata tak sekedar perkara rukun Islam dan rukun iman semata. Islam, dari kasus di atas, ternyata adalah juga sebuah ilmu yang bisa sama sekali tak ada kaitannya dengan keterampilan berwudlu, bahkan pun rukun Islam dan rukun iman.

Celakanya, kerap dominasi Islam sebagai sebuah laku berbanding terbalik dengan Islam sebagai sebuah ilmu. Banyak kasus yang dianggap sebagai penistaan agama adalah tanda bahwa semakin bodoh orang dalam beragama, atau dengan kata lain matinya Islam sebagai sebuah ilmu, maka semakin radikal dan intoleran ia dalam beragama.

Baca juga:  Pendidikan: Soal dan Persoalannya

Namun, ketika Islam sebagai sebuah ilmu diberi ruang yang lebar untuk berkembang, atau setidaknya mampu mengimbangi dominasi Islam sebagai sebuah laku, keuntungan apakah yang sebenarnya dapat dihasilkan oleh Islam, mengingat dua kutub keislaman ini laiknya air dan api dalam perkembangan sejarahnya?

Dari berbagai data sejarah yang ada, kemajuan sebuah peradaban dan kebudayaan ternyata hanya dapat tumbuh oleh dorongan ilmu dan kreatifitas, bukannya semata dorongan laku. Di sinilah juga toleransi dan kedewasaan ternyata sebangun dengan tingginya tingkat keilmuan seseorang atau sebuah komunitas.

Maka, dalam rumus semacam itu, radikalisme dan bahkan terorisme yang berbaju agama akan dapat pudar ketika tingkat keilmuan seseorang semakin tinggi dan mendalam. Namun, menyuguhkan Islam sebagai sebuah ilmu juga memiliki konsekuensi yang tak gampang untuk diterima. Taruhlah, dalam kasus mutakhir, fenomena tentang gugatan pada status para habaib sebagai keturunan sang nabi.

Pada kasus itu Islam jelas sudah bukan lagi sebuah ilmu, namun sebuah laku yang semestinya hidup dalam ruang-ruang privat ketika Islam para habaib itu serasa tak terima untuk diperlakukan selayaknya ilmu. Ketika status para habaib sebagai keturunan sang nabi itu muncul di ruang publik, sebagaimana yang selama ini pernah menghiasi wajah Indonesia, maka mereka sudah pasti sadar diri bahwa Islam ala mereka akan diperlakukan juga sebagai sebuah ilmu: diperdebatkan, dikritisi, diverifikasi, dan bahkan difalsifikasi.

Baca juga:  95 Tahun Nahdlatul Ulama: Bagaimana Menggerakkan Diaspora Santri?

Dengan demikian, ilmu dan laku memang dapatlah dipilah, meskipun ada adagium yang menyatakan bahwa ilmu yang tak diamalkan adalah layaknya pohon yang tak berbuah, yang ternyata adalah sebuah perkara tersendiri. Ketika orang berislam secara luas, atau mampu menempatkan pengertian-pengertian Islam secara benar, maka barangkali tak akan ada fenomena radikalisme dan terorisme berbaju keagamaan, tak akan ada pula kasus-kasus sebagaimana pembinasaan al-Hallaj, penzindikan Ibn ‘Arabi, pembantaian Siti Jenar, pemberangusan karya-karya Hamzah Fansuri, yang bisa jadi karena yang satu menempatkan Islam sebagai ilmu dan yang lainnya menempatkan Islam sebagai laku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top