Sedang Membaca
Mengingat PON I, Pesta Olahraga di tengah Ketegangan

Mengingat PON I, Pesta Olahraga di tengah Ketegangan

Pon I Republika.co.id

Tanggal 9 September diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional, dan selalu mengingatkan kita pada peristiwa 72 tahun silam. Pada waktu itu, Indonesia sudah merdeka, namun Belanda masih melakukan blokade-blokade. Dalam kondisi yang menegangkan, pemerintah Indonesia menggelar Pekan Olahraga Nasional pertama di Stadion Sriwedari, Solo. Presiden Soekarno pun membuka PON I, 9 September 1948.

Dilansir dari beberapa sumber,  disebutkan bahwa sejumlah tamu penting juga menghadiri hajatan tersebut, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sri Susuhunan Pakubuwono XI, dan Jendral Sudirman. Bahkan anggota-anggota Komisi Tiga Negara (KTN) juga menghadiri hajatan tersebut.

PON I yang di adakan di Surakarta ini bentuk kedaulatan negara Indonesia yang mampu berdikari. Sebelum PON I digelar, pemerintah Indonesia membentuk PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia) pada Januari 1946 berupaya ikut serta dalam Olimpiade London 1948.

Bahkan PORI demi mengikuti olimpiade tersebut secara serius hingga membentuk KORI (Komite Olimpiade Republik Indonesia) yang diketuai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pada saat itu, PORI memang belum menjadi anggota IOC (International Olympic Committee) dengan alasan pemerintah Indonesia belum memenuhi syarat.

Namun, pemerintah Indonesia mendapat undangan dari IOC sebagai peninjau.  Undangan ini direspon PORI dan KORI dengan membentuk delegasi yang terdiri  dari Sultan Hamengkubuwono IX, Letkol Aziz Saleh, dan Mayor Maladi. Namun keberangkatan mereka mengalami hambatan karena harus menggunakan paspor Belanda.

Baca juga:  Kota Islam yang Terlupakan (9): Bukhara, Kota Perawi Hadis hingga Saintis

Pada akhirnya, pemerintah Indonesia memutuskan untuk tidak berangkat dan mengadakan konferensi darurat PORI pada Mei 1948 dengan memutuskan membuat Pekan Olahraga level nasional di Surakarta. Pemilihan kota Surakarta karena sarana olahraga Stadion Sriwedari sudah memenuhi.

Kota Solo masih menjadi basis tentara pelajar atau laskar-laskar yang memungkinkan cukup riskan jika diadakan di Solo. Namun suasana tersebut tak menyurutkan semangat rakyat mengadakan PON I hingga Soekarno meminta PON I tetap diadakan sesuai rencana.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pada saat hari dilaksanakannya PON I, Mayor Achmadi melarang membawa senjata  pada pengunjung yang masuk ke Stadion Sriwedari. Namun karena suasana yang tegang dan Solo masih banyak laskar dan tentara, mereka tidak mengindahkan perintah Mayor Achmadi.

Namun pada akhirnya hajatan PON I berjalan lancar yang diadakan 4 hari (9-12 September 1948). Dilansir dari beberapa sumber, terdapat sembilan cabang olahraga yang dipertandingkan di PON I yakni bola keranjang, atletik, tenis, renang, bulu tangkis, anggar, panahan, sepak bola, dan basket.

PON I diikuti oleh 13 daerah dan semuanya dari Jawa, karena karena blokade Belanda membatasi akses lebih luas. Secara sederhana, PON I berjalan lancar meski terjadi insiden kecil di lapangan. Sekali lagi, hal ini menunjukan keseriusan pemerintah Indonesia atas kedaulatannya.

Pesan Kerudung Bergo

Selamat Hari Olahraga Nasional.

Baca juga:  Literasi Islam dengan Puisi di SD Al-Islam Solo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top