Sedang Membaca
Mengusut Makna “Balekambang”
Heri Priyatmoko
Penulis Kolom

Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Penulis buku “Keplek Ilat: Wisata Kuliner Solo”

Mengusut Makna “Balekambang”

Img 20220730 Wa0004

Semoga bukan mimpi di siang bolong. Taman Balekambang Solo digadang-gadang menjadi taman termewah se-Asia Tenggara. Tak tanggung-tanggung, duit yang dirogoh untuk mendanai proyek revitalisasi dengan skema multiyears senilai Rp198 miliar. Dalam setahun, biaya pemeliharaan taman mencapai Rp2,4 miliar.

Masih segar dalam ingatan. Beberapa waktu lalu, saya diundang mendongeng pada acara perayaan seabad Taman Balekambang.

Di forum yang melibatkan lembaga plat merah dan kelompok seniman tradisi, saya membedah makna Balekambang berikut riwayat masa lalunya.

Taman kota yang dibangun Gusti Mangkunegara VII tahun 1921 ini lumrah dipakai publik untuk menitipkan lelah yang menggelayut.

Apalagi di waktu pagi, ruang Balekambang nampak seperti perawan yang habis mandi keramas dan duduk menunggu pujaan hatinya.

Kolam air dan hutan di tengah taman bagaikan wajah anggun putri Solo yang minta dielus lembut, sedangkan segenap binatang rusa laksana abdi dalem yang menjaga keindahan lingkungan kaputren. 

Taman berusia seabad lebih itu memang cocok ditemploki nama “balekambang”. Mangkunegara VII tidak ngasal ketika memberi nama taman megah sebagai hadiah untuk masyarakat pendukungnya kala itu.

Merujuk pustaka Sariné Basa Jawa karangan Padmasukaca (1967), istilah tersebut memuat makna omah satêngahe sagaran. Sedari awal berdiri, terdapat rumah yang berada di tengah kolam.

Baca juga:  Sejarah Diturunkannya Syari’at (1): Mengenal Sejarah Syari’at Islam

Hal itu bisa dibuktikan dengan selembar foto lawas yang tersimpan di Perpustakaan Reksapustaka, Mangkunegaran.

Saking populernya di alam pemikiran Jawa, nama ”balekambang” memiliki sejumlah sinonim yang diinventarisasi pujangga Jawa modern, Padmasusastra (1898), yaitu pantimarta, prasika, yasakambang, măndakini, dan madekambang.

Sebetulnya, Mangkunegara VII membubuhkan nama “balekambang” terinspirasi dari beberapa cerita klasik yang berkembang dalam kehidupan wong Jawa.

Meski Mangkunegara VII pernah bersekolah di Belanda dan mengadopsi konsep “garden city” milik bangsa Eropa, namun bukan berarti ia meluputkan sesobek kisah ketimuran.

Sebagai aristokrat Jawa, pembesar istana berotak encer tersebut tak melepaskan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam cerita pewayangan.

Demikian pula perkara balekembang, dalam fragmen “Irawan Rabi” yang dibakukan Rêdisuta (1932) bisa dijumpai konsep griya balekambang. 

Saya cukilkan kisahnya: Dèwi Sitisari lajêng kabêkta dhatêng griya balekambang, tulus anggènipun pêpasihan. Lajêng ada-ada. Gantya kocapa dênawa ingkang lampah duratmaka, anjajah salêbêting kadhaton ing Dwarawati, sadaya gêdhong-gêdhong sami dipun intip, botên angsal pamirêng kaku manahipun, lajêng kèndêl ngaso wontên taman. Mirêng kalêsiking tiyang, manawi pangantèn sampun panggih wontên griya balekambang, dênawa kalih lajêng marêpêki sarta angintip ing griya balekambang.

Dari roncean kalimat di muka, tersirat bahwa balekambang merupakan ruang nyaman dipersiapkan untuk pertemuan dan berkasih mesra suatu pasangan yang baru saja melepas masa lajang.

Baca juga:  Sajian Khusus: Sumur-sumur Bertuah di Zaman Nabi

Artinya, balekambang merupakan tempat nyaman yang diimpikan. Di samping paham jagad pewayangan, Mangkunegara VII menggandrungi warisan kuno leluhur Jawa, semisal percandian.

Terbukti tatkala membangun Ponten atau tempat MCK di kampung Ngebrusan, ”raja” terkaya di Vorstenlanden akibat bisnis gula tersebut menitahkan arsitek Thomas Karsten untuk mengikuti model bangunan candi.

Di lain kesempatan, dirinya juga turut menunggui renovasi Candi Sukuh di kaki Gunung Lawu yang menjadi area kekuasaannya. Perbaikan Candi Sukuh detik itu didokumentasikan oleh keluarga praja Mangkunegaran lewat foto lawas.

Kosakata ”balekambang” dijumpai pula dalam cerita percandian. Berikut ini cuplikan riwayatnya yang tersekam dalam Serat Ardakandha (1905):

Kajêng tuwan lajêng mariksa ingkang kawastanan talaga Balekabang ugi wontên agraning wukir Dièng, ing sanginggiling talaga wau wontên candhipun gangsal iji…, mênggah pandamêlipun botên sanès kados candhi ing Prambanan, punika tlaga Balekambang kaprênah sangajêngipun pasanggrahan...”

Secuil fakta historis ini menuduhkan balekambang berada di lingkungan candi sarat dengan keteduhan, patirtan, dan kawasan asyik untuk plesiran publik. Orang-orang betah nglaras dan bercengkrama di situ.

Kenyataan ini dirasakan pula oleh wong Solo dan sekitarnya sewaktu berekreasi di Taman Balekambang untuk keluar sejenak dari rutinitas dan mengobati kejenuhan.

Dari kilas balik ini, kita disadarkan bahwa Taman Balekambang merupakan warisan intelektual wong Jawa. Ia bukan sekadar ruang hijau untuk menanggulangi bencana banjir yang acap melanda Solo bagian utara puluhan tahun silam.

Baca juga:  Narasi Harmoni dan Sejarah Penyemaian Kristen di Kota Bengawan

Taman kota berikut nama yang dilekatkan adalah bukti lantipnya leluhur menggarap taman modern tanpa kehilangan kejawaan. Ada mata rantai sejarah yang dirawat penggede di Surakarta untuk kemaslahatan kawula dalem. 

Belakangan, menguat upaya revitalisasi Taman Balekambang oleh ”putra mahkota” Gibran Rakabuming yang menyulihi ayahandanya di kursi Balaikota.

Tak tanggung-tanggung, proyek ini melibatkan kementerian alias pemerintah pusat. Kita berharap, program revitalisasi ruang bersejarah tersebut tidak melenceng dari spirit awal taman yang ditancapkan Mangkunegara VII, lalu diteruskan Pak Jokowi.

Jangan sampai proyek tersebut salah gedaden atau sebatas menghambur-hamburkan uang rakyat dan membuat kecewa masyarakat.

Di sinilah, nama Gibran sebagai pemain baru (masih hijau) di jagad politik dipertaruhkan…

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top