Sedang Membaca
Ngaji Suluk Sunan Muria (4): Wirid Istighatsah Sunan Muria

Pengajar di Pesantren Darul Falah Besongo Semarang dan Dosen Fak. Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang.

Ngaji Suluk Sunan Muria (4): Wirid Istighatsah Sunan Muria

Whatsapp Image 2020 09 09 At 10.33.05 Pm

Sebagaimana para Walisongo lainnya yang banyak meninggalkan beragam situs atau peninggalan yang masih bisa disaksikan hingga saat ini, Sunan Muria yang berdakwah di puncak Gunung Muria juga mewariskan sekian peninggalan yang tidak hanya bersifat ajaran, ritus, dan tradisi, tetapi juga peninggalan berupa fisik.

Dalam catatan Pemangku Makam dan Masjid Sunan Muria, di antara peninggalan fisik yang diyakini sebagai peninggalan Sunan Muria adalah gentong air, lapak kuda, umpak (penyangga saka masjid), mihrab, dan sebuah inskripsi berbahasa Arab. Peninggalan fisik yang terakhir inilah yang hendak kita bicarakan di sini.

Inskripsi ini terletak di atas mihrab Masjid Sunan Muria. Mihrab yang terbuat dari batu yang disusun tanpa semen, dan dihiasi dengan ragam ukiran dan piringan keramik kuno yang indah. Inskripsi bertuliskan Arab yang ada saat ini merupakan salinan dari bentuk aslinya yang sudah pecah dan rusak.

Meski demikian, apa yang tertulis di dalamnya sama persis dengan menyesuaikan bentuk tulisan dan bunyi bacaannya. Yang terpenting dari itu semua adalah bahwa masyarakat lereng Gunung Muria meyakini bahwa tulisan yang ada di inskripsi tersebut merupakan wirid yang menjadi amalan Sunan Muria. Hal itu diperkuat lagi dengan penjelasan yang pernah disampaikan oleh Habib Lutfi bin Yahya.

Baca juga:  Memahami Agama, Memadukan Akal dan Kultur

Tulisan tersebut setelah ditranselitrasi secara lengkap tersusun dari; basmalah, lafadz takbir, asmaul husna (al-Karim, ar-Rahman, ar-Rahim, as-Salam, al-Jawad, al-Birr, ar-Rauf, al-Aziz, al-Ghani, al-Qawi, al-Ghaffar, al-Latif) serta beberapa ayat dan surat dalam al-Qur’an, yaitu: Q.S. asy-Syura: 19, Q.S. al-Fatihah, Q.S. al-An’am: 63-64, Q.S. al-Ikhlas, Q.S. al-Falaq, dan Q.S. an-Nass.

Melalui rangkaian wirid tersebut, Sunan Muria memberikan amalan zikir kalimat-kalimat suci sebagai pager diri (benteng keimanan) kepada santri dan masyarakat sekitar Gunung Muria. Untaian wirid sebagaimana yang diajarkan oleh Sunan Muria menunjukkan bahwa Sang Sunan adalah Mursyid sejati yang senantiasa membina dan mengajarkan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan kebutuhan muslim yang masih awam saat itu. Sunan Muria melalui wirid tersebut juga memposisikan diri sebagai dokter spiritual yang mampu membuat ragam resep yang bermanfaat bagi kesehatan jiwa. Karena dengan ketaatan dan keistiqamahan dalam menjalankan amalan wirid tersebut diharapkan mampu menghadirkan ketenangan batin bagi para pengamalnya.

Dimensi tahalli (menghias diri dengan berbagai zikir) yang ada pada wirid tersebut mengisyaratkan bahwa Sunan Muria sangat paham betul bagaimana membimbing para santrinya dalam menapaki suluk sufistik yang mereka jalani. Menyelami dimensi tahalli, para salik akan senantiasa sibuk dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, hingga gerak tubuh lainnya ikut bersenandung dzikir dengan hatinya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Sabilus Salikin (134): Tarekat Naqsyabandiyah

Terlebih, untaian wirid yang diajarkan oleh Sunan Muria merupakan bacaan yang sederhana serta mudah dihafalkan oleh para salik. Namun sarat dengan keluhuran makna dan esensinya. Menghiasi diri dengan zikir sebagaimana wirid Sunan Muria merupakan wujud dari membumikan kalam suci ilahi untuk ketenangan dan kedamaian jiwa. Bukankah Allah telah menyatakan dalam firmanNya: alā biżikrillāhi taṭma`innul-qulụb (Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram). Wallahhu a’lam.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top