Sedang Membaca
Memori Bersejarah Stadion Manahan Solo
Heri Priyatmoko
Penulis Kolom

Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Penulis buku “Keplek Ilat: Wisata Kuliner Solo”

Memori Bersejarah Stadion Manahan Solo

Img 20210423 Wa0007

Ada guyonan di angkringan Kota Bengawan. Sejak “putra mahkota” Gibran Rakabuming dinobatkan sebagai Walikota Surakarta, sederet mahamenteri dari Batavia berkunjung ke Vorstenlanden.

Dibandingkan walikota sebelumnya, FX Hadi Rudyatmo, buah hati Presiden Joko Widodo ini dalam jarak sebulan berkali-ulang menerima tamu beberapa menteri dengan berbagai kepentingan.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudin Amali, membuka turnamen sepak bola pra-musim Piala Menpora 2021 di Stadion Manahan sebulan silam. Menpora yang ditemani Mas Gibran menekan tombol sirine di empat venue menandai pembukaan turnamen dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat di masa pandemi Covid-19.

Sekian waktu lalu, saya “ditodong” beberapa rekan jurnalis untuk menguak kesejarahan stadion tersebut dalam perspektif sejarah lokal.

Perlu diketahui, muasal nama “Manahan” bukan bermula dari “tempat memanah”. Melainkan, kawasan ini dulu disambangi Ki Ageng Pamanahan. Tokoh legendaris periode Mataram Islam awal ini bercokol lama dan membuat semacam pondok (padepokan), yang menjadi cikal-bakal nama Depok.

Manahan dan olahraga merupakan serangkaian cerita yang mengikuti laju Kota Bengawan menapaki ruang dan waktu.

Selain berfungsi sebagai arena olahraga, kompleks stadion menjelma bak momumen yang menerbangkan ingatan kita tentang genealogi Tien Soeharto, ibu negara Presiden Kedua RI.

Lapangan Manahan (jongbloed, 1933)
Foto: Lapangan Manahan lawas (dokumentasi penulis)

Yayasan Ibu Tien

Data sejarah ini terkunci rapat dalam almari Perpustakaan Reksopustaka, Mangkunegaran. Stadion Manahan yang digarap sejak tahun 1989-1998 adalah persembahan dari yayasan Ibu Tien. Kalender menunjuk angka 21 Februari 1998 Presiden Soeharto meresmikan stadion itu.

Baca juga:  Belajar Toleransi dari Semangkok Wedang Tahok

Kita paham bahwa Ibu Tien masuk jaringan trah keluarga Mangkunegaran. Maka, tidak heran jika keluarga Cendana menaruh perhatian besar terhadap perkembangan arena olahraga warisan Praja Mangkunegaran itu.

Terlebih lagi, Kota Solo menjadi “anak emas” Orde Baru setelah Jakarta. Pembangunan kota dan fasilitas perbelanjaan mengalami perkembangan pesat. Keluarga Cendana, terwakili oleh Sigit Harjojudanto, tahun 1978 mendirikan klub sepakbola Arseto yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Solo.

Pada dasaranya, taman Manahan berbentuk oval dan dikelilingi empat jalan yakni, Jl. Adi Sucipto, Jl. Mentri Soepomo, Jl. MT Haryana dan Jl. KS Tubun.

Lembaran sejarah lokal mencatat, Manahan semula tempat berlatih memanah oleh keluarga bangsawan Mangkunegaran. Kerabat Mangkunegara dikenal gemar berburu binatang di alas (hutan) Kethu Wonogiri.

Bahkan, sampai ada cerita tragis: Mangkunegara V meninggal dunia saat berburu. Kendati tujuannya menghibur hati sembari berolahraga, mereka tetap membutuhkan latihan memanah.

Bola waktu menggelinding cepat. Lokasi tersebut disulap menjadi lapangan balap kuda yang sebelumnya berada di Balapan. Petinggi toewan kulit putih mendesak penguasa Mangkunegaran membangun stasiun kereta api Solo Balapan guna mendukung kelancaran transportasi darat lintas wilayah.

Di satu pihak, pemerintah praja Mangkunegaran juga emoh ketinggalan dengan Kasunanan dalam bidang memajukan olahraga dan ruang rekreasi di Taman Sriwedari. Petinggi Mangkunegaran bergegas menitahkan bawahannya membangun lapangan Manahan seluas mungkin untuk olahraga pacuan kuda dilengkapi tribun.

Baca juga:  Memberi Daging pada Belulang Sejarah Solo dalam Novel Mahbub Djunaidi (1)

Didesain Arsitek Thomas Karsten

Lapangan didandani secantik mungkin, dengan melibatkan arsitek terkemuka Thomas Karsten yang juga sahabat raja. Ditinjau dari aspek planologi, Karsten tampak paham betul terhadap pembentukan kota modern, di satu sisi tetap mempertahankan unsur lokalnya.

Keunikan kawasan Manahan terletak pada karakter denah lapangan yang berbentuk oval dan penanaman pohon cemara. Karsten membangun kawasan lapang itu bukan untuk kepentingan sesaat, melainkan demi masa depan warganya dan pembangunan berkelanjutan.

Hal ini bisa ditunjukkan dengan adanya bukti lintas waktu. Semisal, dulu hingga sekarang, yang jadi ciri khas Manahan ialah pepohonan cemara mengitari kompleks yang berfaedah untuk paru-paru kota, sehingga orang betah bercengkrama di situ.

Selain ruang olahraga, keberadaan area Manahan berfungsi sebagai daerah resapan air mengingat Solo kerab dilumat banjir dan sarana interaksi sosial warga.

Dari kilas balik di atas, terbukti bahwa dari periode kolonial hingga kini, Stadion Manahan adalah ruang yang tak lepas untuk kepentingan olahraga. Dari kompleks lapangan hijau, kehidupan yang toleran dan spirit kebangsaan juga bisa disemaikan.

Mari merawat kewarasan dan menjaga sportifitas di lapangan bola, bukan merusak fasilitas mewah itu. Juga mampu menunjukkan kekuatan bangsa Indonesia di mata dunia lewat olahraga.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top