Ulil Abshar Abdalla
Penulis Kolom

Founder Ngaji Ihya Online, aktif menulis dan ceramah tentang pemikiran keagaman. Dosen Unusia, Jakarta.

Soesilo Toer dan Rumah Pramoedya

Fb Img 1578823214904

Kira-kira dua puluh lima tahun lalu, saya berkunjung ke rumah sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur. Saya bertandang ke sana bersama kawan saya, Amsar A. Dulmanan. Saya, saat itu, masih seorang aktivis yang terpukau oleh buku-buku Marxisme dan bacaan-bacaan kiri.

Hampir dua jam saya berada di rumah Pram, mendengar banyak kisah dari dia, sebagian besar mengenai pengalamannya yang amat pedih di Pulau Buru, bagaimana proses lahirnya novel tetralogi Pulau Buru yang masyhur itu, serta perasaan marah dan sakit yang ia rasakan karena seabrek dokumen penting mengenai sejarah dan sastra Indonesia yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun dihancurkan oleh tentara pada zaman Orba dulu.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Hari ini, Minggu, 12/1/2020, dalam perjalanan dari Rembang ke Kediri, saya, bersama Mbak Admin Ienas Tsuroiya, mampir ke rumah adik Pramudya, yaitu Soesilo Toer. Niat untuk dolan ke rumah Pak Soes muncul saja secara tiba-tiba setelah saya memasuki kota Blora. Tak sulit mencari rumahnya, karena info memgenainya banyak bertebaran di Google.

“Nama saya Ulil Abshar Abdalla, Pak Soes,” kata saya mengenalkan diri di ruang tamu yang penuh dengan buku-buku, dan juga lalat. Di luar rumahnya, banyak kambing yang berkeliaran.

Baca juga:  Ilmu ‘Arudh; Panduan Menyusun Syair Arab

“Anda tokoh Islam ya? Sepertinya nama Anda akbrab di telinga saya.”

“Saya orang biasa, Pak Soes,” kata saya menyembunyikan identitas diri. Saya hampir saja berkata, “Saya menantu Gus Mus,” tetapi tidak jadi.

“Kalau saya rektor,” kata Pak Soes menimpali. Saya terperanjat. Rektor universitas apa, tanya saya.

“Maksudnya, suka ngorek barang-barang kotor,” kata dia dengan ketawa yang lepas. Saya malu, karena telah terkena “prank”, tetapi akhirnya ikut tergelak menikmati humor Pak Soes ini.

Kira-kira setengah jam saya ada di rumah tempat kelahiran Pram yang sekarang ditinggali oleh Pak Soes itu. Dia berkisah tentang banyak hal. Tampak Pak Soes senang sekali ketika ada tamu yang bertandang ke rumahnya. Di mata saya, dia adalah “gunung merapi” yang penuh dengan semangat menyala, dan seabrek kisah serta cerita yang ingin dia “ledakkan” keluar.

“Mestinya Bapak duduk di sini minimal sepuluh jam,” kata Pak Soes. Saya harus segera pamit, karena mengejar acara di Kediri.

Kebetulan yang menakjubkan adalah bahwa kakek Pram dan Pak Soes berasal dari Pare, Kediri. Kakek mereka, yaitu Imam Bajuri, adalah seorang penghulu. Bapaknya Pak Soes, yaitu Mastoer, juga menikah dengan seorang puteri penghulu di Rembang. Jadi, Pram dan Soesilo Toer adalah orang-orang dengan darah penghulu yang kuat.

Baca juga:  Menapaki Jejak Sejarah Makam Keramat Mundu

Saya katakan suatu kebetulan, karena saya sedang menuju ke Kediri dan tiba-tiba mampir di rumah Pramoednya Ananta Toer yang ternyata memiliki darah seorang penghulu dari Kediri. Di perjalanan ke Kediri, saya merenung sambil tersenyum: benar-benae kebetulan yang ajaib.

Saya berjanji kepada Pak Soes akan mengunjungi rumah Pram ini kembali dan mendengar kisah yang lebih banyak lagi dari dia. Pak Soes sepertinya membutuhkan seorang teman yang siap menerima “ledakan” kisah dari dirinya. Saya ingin mendengar kisah-kisah “tempo doeloe”, terutama tentang sebelas tahun yang ia lewatkan di Moskow untuk sekolah dan meraih gelar doktor di bidang ekonomi.

Fb Img 1578823227451

Di usianya yang lebih dari delapan puluh, Pak Soes masih tampak seperti pohon yang kokoh, tak menampakkan gejala-gejala kelayuan. Saya pamit, dengan membawa buku kumpulan cerpen karya Pak Soes dan kakaknya, Walujadi Toer, “Serenade”. Dia, dan isterinya yang mengenakan jilbab putih, mengantar saya dan Mbak Admin hingga ke pagar.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top