Sedang Membaca
“Rekam Pandemi”, Dokumenter Kehidupan di Masa Wabah dari Aceh hingga Papua
Susi Ivvaty
Penulis Kolom

Founder alif.id. Magister Kajian Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Pernah menjadi wartawan Harian Bernas dan Harian Kompas. Menyukai isu-isu mengenai tradisi, seni, gaya hidup, dan olahraga.

“Rekam Pandemi”, Dokumenter Kehidupan di Masa Wabah dari Aceh hingga Papua

Whatsapp Image 2020 06 25 At 4.32.58 Pm

Saban Ramadan, Masjid Shiratal Mustaqiem di Samarinda selalu menghelat buka bersama dengan menu bubur peca, bubur khas Bugis yang lembut dan gurih. Tradisi ini sudah berlangsung selama 139 tahun, dan baru pertama kali absen pada Ramadan 1441 Hijiriah/2020 Masehi, karena adanya pandemi korona. Tentu sedih. Tradisi ini tidak hanya menyajikan bubur yang dimasak oleh juru masak khusus secara turun-menurun sehingga rasanya dijamin tetap enak dan tidak berubah, namun juga menyuguhkan harmoni diaspora orang Bugis ke Nusantara khususnya Kalimantan Timur.

Ratusan warga yang biasanya ikut melebur dalam kebersamaan makan bubur peca, tak tampak lagi di masjid yang juga menjadi cagar budaya itu. “Biasanya yang datang 500 lebih. Keriuhannya dimulai dari memasak bersama, lalu menyajikannya, dan menyantapnya berbarengan. Ramadan kemarin tidak terlihat sama sekali karena memang ditiadakan demi Kesehatan kita semua,” kata Nur Afniokta dalam obrolan via Zoom, Kamis (25/06/2020)

Nur Afniokta adalah satu di antara tiga ratusan pendokumentasi (dari Aceh hingga Papua) yang tergabung dalam Asosiasi Dokumentaris Nusantara (ADN) untuk wilayah Kalimantan Timur. Nur merekam gambaran sepinya masjid Shiratal Mustaqiem dalam bentuk video untuk program Rekam Pandemi yang difasilitasi Direktorat Perfileman, Musik, dan Media Baru Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Program Rekam Pandemi disiarkan oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI)  setiap Sabtu dan Minggu sejak tanggal 20 Juni 2020 pada pukul 08.30, serta dapat diakses melalui situs: http://rekampandemi.kemdikbud.go.id, dan seluruh akun media sosial @budayasaya: Youtube, Facebook, dan Twitter.

Di Papua, pantai-pantai juga sepi. Pariwisata mandek. Penjual tas noken terimbas. Namun, kreativitas tidak dapat dibungkam. Saat ini hampir semua hasil usaha dari berbagai bidang bisa dipasarkan secara daring. Tentu hasilnya berbeda, karena pariwisata itu hidup dari kunjungan orang dan keriuhan menjadi sesuatu yang menggairahkan.

Baca juga:  Munas NU Tetapkan Bisnis "Permainan Uang" Haram karena Tiga Hal
Whatsapp Image 2020 06 25 At 4.34.42 Pm (1)
Ornamen yang dibuat mahasiswa Papua

Niken Tia Tantina, dokumentaris dari Singkawang Kalimantan Barat memilih untuk merekam usaha  pembuatan “baju dewa” di rumah-rumah warga yang sangat terimbas akibat korona. Biasanya “baju dewa” banyak dipesan pada saat ulang tahun pekong di klenteng Tionghoa. Namun, pandemi memuat banyak rumah ibadah tidak melakukan pesta sehingga pemesanan berkurang. “Meskipun begitu, sejumlah orang tetap membuat baju dewa, karena untuk melestarikan budaya,” kata Niken.

Data Kemdikbud dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyebutkan, terdapat 226.586 seniman dan pekerja kreatif yang terdampak pandemi Covid-19 di seluruh Indonesia. Koalisi Seni Indonesia mencatat,  terdapat 204 acara seni yang ditunda atau dibatalkan selama pandemi. Data itu mencakup proses produksi, rilis, dan festival film (24 acara); konser, tur, dan festival musik (107 acara); pameran dan museum seni rupa (20 acara); pertunjukan tari (9 acara); acara sastra (2 acara); serta pentas teater, pantomim, wayang, boneka, dan dongeng (42 acara).

Dirjen Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid optimistik bahwa ruang berkarya tidaklah tertutup rapat selama masa pandemi. Mematuhi protokol pencegahan Covid-19 adalah hal yang utama, namun hal itu tidak menghalangi para pelaku seni dan pekerja kreatif untuk tetap berkarya. Merekam suasana, merekam peristiwa, merekam keheningan, adalah sesuatu yang bisa dilakukan untuk menghasilan satu karya dokumenter yang pada gilirannya bermanfaat bagi perumusan kehidupan baru.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Apa yang dilakukan ADN itu hasilnya bisa dilihat. Ada segi-segi kehidupan selama korona yang direkam melalui  berbagai macam sudut pandang dan beragam eskpresi. Saya juga menyampaikan hal ini  pada pertemuan di UNESCO. Saya katakan bahwa pendokumentasian ini menjadi archive of humanity. Siginifikan, tidak secara artistik saja namun juga sosial, yang punya kontribusi yang sangat besar,” papar Hilmar.

Baca juga:  Anugerah Kebudayaan 2019 bagi 59 Penerima: dari Djudjuk Srimulat hingga Purwa Tjaraka

Dokumenter tersebut juga akan diusahakan untuk disalurkan ke kanal-kanal lain di dalam dan luar negeri, agar bukan hanya publik di Indonesia yang mengetahuinya namun juga publik di dunia. Prioritasnya, kata Hilmar, adalah agar teman-teman seniman tetap bisa berkarya. Pertunjukan tetap bisa diselenggarakan, produksi film dilakukan. Peraturan mengenai shooting, prosedur  pementasan, dan hal-hal terkait akan segera diumumkan oleh Kementerian Kesehatan, menuju masa pemulihan.

Ketua Umum ADN Tonny Trimarsanto menuturkan, perekaman sebetulnya adalah kegiatan spontanitas yang biasa dilakukan para pembuat film dokumenter. Bahkan semua orang pun melakukannya. Proses kerja perekaman adalah kegiatan sehari-hari para anggota ADN. Ketika kegiatan itu kemudian didukung oleh pemerintah, tentu hasilnya menjadi jauh lebih baik.

“Apa yang terjadi di ruang sehari-hari masyarakat itu penting direkam dan didokumentasi. Memang kemampuan dan kesadaran untuk melakukan dokumentasi itu menjadi kelemahan kita, berkaitan dengan pola manajemen dan pengarsipan. Bagaimana hasil rekaman bisa menjadi bahan referensi atau materi yang menginspirasi, dan lain-lain, itu berbeda dengan hanya sekadar merekam. Kawan-kawan butuh ruang kreatif dalam situasi yang sulit. Harapannya, kawan-kawan bisa merekam, karena hanya dengan itulah kita memiliki arsip dan materi yang bisa dibagi sebagai bahan pengetahuan kita semua,” papar Tonny.

Direktur Perfilman, Musik, dan Media Baru Ditjen Kebudayaan Ahmad Mahendra menambahkan, program Rekam Pandemi ditayangkan di TVRI hingga 12 Juli 2020 dan bisa berlanjut tergantung kesiapan ADN. “Hingga saat ini sudah tayang delapan kali. Masih banyak sekali tema yang digali., khas masing-masing daerah. Kalau dikumpulkan bisa mencapai total 2.400 menit,” katanya.

Program Bantuan

Beberapa rekomendasi yang disampaikan Koalisi Seni di antaranya adalah membuat program dana bantuan pengganti pekerjaan seni yang hilang, penyaluran bantuan yang cepat dan tidak berbelit-belit, memudahkan akses seniman berkarya, dan memudahkan akses masyarakat menikmati karya seniman selama dampak pandemi dirasakan. Para pembuat film dokumenter di bawah ADN menjadi satu di antara lembaga yang mendapatkan bantuan.

Baca juga:  Tadarus Seni Ramadan 2020: Merajut Hati Lewat Seni

Rekam Pandemi merekam delapan tema, yang mewakili beragam bentuk persoalan yang ada dalam masyarakat  akibat pandemi Covid-19. Tema tersebut meliputi Belajar dari Rumah, Religi dan Mitos, Lebaran masa Pandemi, Usaha Mandiri,  Isu lingkungan, Gotong Royong, Kreativitas Masa Pandemi, dan Perubahan Perilaku Keluarga. Hingga saat ini, Program Rekam Pandemi telah disosialisaikan di stasiun televise TVRI setiap hari Sabtu pagi.

Merekam beragam bentuk perubahan yang ada dalam masyarakat  adalah bagian utama dari kerja kreatif yang selama ini dilakukan oleh anggota ADN yang tersebar di segenap wilayah. Adanya ketersebaran pola perekaman ini, tentu akan memberikan warna keberagaman karya. Karya yang muncul akan kental dengan perubahan dan persoalan lokal yang tengah dihadapi di banyak wilayah.  Bagaimana persoalan itu dihadapi, tentu akan menjadi satu pengetahuan, referensi dan pustaka baru yang bisa dibagikan ke ruang yang lebih luas.

Dokumentasi ini akan disinergikan pula dengan program Kementerian Pendidikan Kebudayaan yang lain yakni “Belajar dari Rumah” bekerja sama dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang telah diluncurkan 13 April 2020.  Penyebaran pandemi Covid-19 telah mengakibatkan banyak peserta didik harus melaksanakan kegiatan belajar di rumah, baik melalui sarana dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring). Namun, tidak semua peserta didik maupun pendidik memiliki kemampuan untuk mengakses platform pembelajaran daring secara optimal.

Program “Belajar dari Rumah” merupakan bentuk upaya Kemendikbud membantu terselenggaranya pendidikan bagi semua kalangan masyarakat di masa kedaruratan kesehatan masyaraat, khususnya membantu mereka yang memiliki keterbatasan pada akses internet, baik karena tantangan ekonomi maupun letak geografis. (SI)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top