Sedang Membaca
Pandemi Membawa Bestari, Sandiwara “Radio” Hidup Lagi
Susi Ivvaty
Penulis Kolom

Founder alif.id. Magister Kajian Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Pernah menjadi wartawan Harian Bernas dan Harian Kompas. Menyukai isu-isu mengenai tradisi, seni, gaya hidup, dan olahraga.

Pandemi Membawa Bestari, Sandiwara “Radio” Hidup Lagi

Whatsapp Image 2020 07 06 At 19.40.40

Sandiwara radio, yang berjaya pada tahun 80-an, atau ketika belum terlalu banyak orang memunyai televisi, kini dihidupkan lagi. Naskahnya pun istimewa, yakni adaptasi karya sastra, dengan tajuk Inovasi Siniar Sandiwara Sastra. Pandemi korona memang membawa bestari. Kegiatan mendengarkan pertunjukan dihargai kembali, mengolah rasa melalui telinga.

Inovasi Siniar Sandiwara Sastra merupakan kolaborasi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Yayasan Titimangsa, dan KawanKawan Media.  Alih wahana sastra ke dalam bentuk sandiwara audio siniar ini dapat disimak mulai 8 Juli 2020 pukul 17.00 WIB melalui podcast audio @budayakita. Sandiwara audio yang masing-masing berdurasi 30 menit ini nantinya juga disiarkan melalui Radio Republik Indonesia (RRI) agar dapat menjangkau masyarakat luas.

Podcast

Dirjen Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid langsung menyambut baik inisiatif ini. “Begitu mendengar kata sandiwara sastra,  saya langsung setuju, Sandiwara itu bercerita tentang kita melalui karya sastra dengan segala probematikanya. Sandiwara radio yang 20 tahun mengalami tantangan, lalu  meredup, sekarang ada ketertarikan baru melalui podcast,” tuturnya dalam taklimat media melalui Zoom, Senin (6/7/2020).

Whatsapp Image 2020 07 06 At 19.46.19

Hilmar berharap, sandiwara sastra ini bisa turut mewarnai ruang media baru dan juga mengangkat kembali kejayaan sastra Indonesia.

Sandiwara sastra dengan produser Happy Salma dan Yulia Evina Bhara ini dimainkan oleh 28 pengisi suara, yakni Adinia Wirasti, Ario Bayu, Arswendy Bening Swara, Asmara Abigail, Atiqah Hasiholan, Chelsea Islan, Chicco Jerikho, Christine Hakim, Eva Celia, Happy Salma, Iqbaal Ramadhan, Jefri Nichol, Kevin Ardilova, Lukman Sardi, Lulu Tobing, Marsha Timothy, Mathias Muchus, Maudy Koesnaedi, Najwa Shihab, Nicholas Saputra, Nino Kayam, Oka Antara, Pevita Pearce, Reza Rahadian, Rio Dewanto, Tara Basro, Vino G. Bastian, dan Widi Mulia.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  "Pasukan Jahiliyah" di Internet Sangat Mengkhawatirkan

Whatsapp Image 2020 07 06 At 19.43.43

Pada tahap pertama, naskah sandiwara diadaptasi dari 10 karya sastra yakni novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari; novel Helen dan Sukanta karya Pidi Baiq; cerita pendek Kemerdekaan karya Putu Wijaya; cerpen Menunggu Herman karya Dee Lestari; cerpen Berita dari Kebayoran karya Promoedya Ananta Toer; novel Lalita karya Ayu Utami; cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan karya Umar Kayam; cerpen Persekot karya Eka Kurniawan; novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana, dan novel Orang-orang Oetimu karya Felix K. Nesi.

 

Sutradara Sandiwara Sastra, Gunawan Maryanto, merasa harus berhati-hati dalam memperlakukan karya sastra menjadi teks sandiwara. Karena berkecimpung di dua dunia itu, yakni di dunia sastra dan seni pertunjukan, baik sebagai penulis, sutradara, maupun aktor, Cindil (sapaan Gunawan Maryanto) justru memahami bahwa ada pakem-pakem yang tidak sembarangan ditrabrak. Ia menyebutnya sebagai “berisiko”.

“Pertama pengalihwahanaannya dulu,  dadi karya sastra menjadi teks. Lalu teks kemudian dilisankan. Bagaimana teks itu harus hidup di dalam suara, bagaimana aksentuasinya sehingga mampu memberi kehidupan. Itulah tantangannya,” kata Cindil.

Maka itu, proses latihan dan perekaman pun dilakukan dengan intens, namun  tidak terburu-buru. Menafsir dulu naskahnya, teknya, lalu mencari kemungkinan melisankannya. Hal yang penting dari sandiwara ini adalah kemampuan melanar teks dan kemampuan melisankannya. “Di situlah kekuatannya,” papar Cindil.

Baca juga:  9 Cara Kurban di NU Care - LAZISNU

Jika suara adalah kendaraan imaji, maka bagaimana imaji-imaji di dalam karya sastra itu apat dihidupkan kembali oleh para aktor. Hal yang pertama dilakukan adalah mengenal dulu karya sastranya. Setelah itu akan muncul  penafsiran-penafisiran.

Menggali Sifat Kemanusiaan

Bagi Mendikbud Nadiem Makarim, sastra menempati posisi penting dalam pemajuan kebudayaan dan pembentukan karakter bangsa. Karya sastra pada hakikatnya tercipta dari situasi dan pergulatan diri. Pengalaman, pengamatan, serta pemaknaan dan latar belakang sejarah akan menguatkan karakter kita.

“Melalui tokoh sastralah kita mampu mengenal lebih dekat sifat kemanusiaan kita. Seperti sekarang ini, pandemi memberi waktu bagi kita memetik makna dan belajar menjadi manusia yang kuat yang mampu menyongsong masa depan,” tutur Nadiem.

Sandiwara sastra bukan hanya menjadi satu karya dan inovasi. Lebih dari itu, kegiatan itu adalah jalan mengangkat literasi. “Saya mengajak seluruh pelajar dan mahasiswa kembali menghidupkan dan mengenal karya sastra terbaik Indonesia melalui Sandiwara Sastra. Kumpulan sastra terbaik bangsa yang dialihwahanakan ke dalam bentuk audio,” kata Mendikbud.

Mengutip seniman Putu Wijaya, Happy Salma mengatakan bahwa sastra adalah eskpresi yang berbasis bahasa baik bahasa tulis, lisan, atau isyarat, yang merefleksikan kehidupan nyata maupun maya. Karya sastra hanya keindahan wadag,  bukan hanya klangenan, bukan hanya hiburan, tetapi pengembaraan spiritual yang memberi dampak konkret pada jiwa. Memberi suntikan dan kegunaan pada kehidupan.

Baca juga:  "Rekam Pandemi", Dokumenter Kehidupan di Masa Wabah dari Aceh hingga Papua

“Dunia kita didominasi indra penglihatan,  sedang telinga sangat minim porsinya. Sandiwara sastra ini menjadi alternatif keberlangsungan proses penciptaan pada masa pandemi, dan mengasah rasa serta intelektualitas,” ujar Happy.

Sejumlah pengisi acara merasa senang bisa dilibatkan dalam sandiwara radio ini, yang merupakan pengalaman pertama mereka. Hanya Chicco Jericho yang pernah dua kali terlibat dalam sandiwara radio. Aktor kawakan Christine Hakim pun antusias menyambut sandiwara ini, yang merupakan pengalaman pertamanya.

Semua pengisi suara merasa banyak belajar sesuatu yang berbeda dari yang selama ini mereka lakoni. Lukman Sardi, misalnya, merasa bersemangat ketika menemukan sesuatu yang baru yang menantang rasa ingin tahu dan mengulik nalurinya untuk belajar. Mengekspresikan rasa melalui suara itu sesuatu yang tidak mudah dan untuk itulah ia bertema kasih telah dilibatkan.

Hal senada dikatakan Iqbaal Ramadhan. Pemeran Dilan dalam Dilan 90 dan Dilan 91 ini bersemangat ketika diajak. Melalui sandiwara radio, ia menjadi membaca karya sastra lebih dalam lagi dan hal itu menginspirasi anak-anak muda seperti dirinya. Ia berharap akan muncul reproduksi-reproduksi yang dilakukan anak-anak muda seusianya.

Bagi pasangan Marsha Timothy dan Vino Bastian, memerankan tokoh dalam sandiwara radio itu tidak sekadar membaca, namun juga harus memahami betul karakter tokoh dan budaya yang digambarkan di dalam karya sastra, termasuk bahasa. Hal itu sama belaka seperti memainkan film. Bedanya, segala ekspresi itu ditumpahkan melalui suara.

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top