Sedang Membaca
Mendahulukan Adab daripada Ilmu: Catatan untuk Pelajar
Penulis Kolom

Peserta Sekolah Damai Wahid Foundation

Mendahulukan Adab daripada Ilmu: Catatan untuk Pelajar

Adab adalah aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama, terutama agama Islam. Kita sebagai orang Islam mempelajari adab dari kisah para nabi-nabi, orang-orang sholeh, dan para ulama. Mereka adalah praktik nyata dari teori pembelajaran.

Adab menuntut ilmu itu sangat penting bagi kita, jadi kita harus tahu apa saja adab-adabnya. Di antara beberapa adab menuntut ilmu adalah ihsan, cuci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, niat mencari ridho Allah, qona’ah, pintar membagi waktu, bersikap wira’i (pandai menjaga diri), selektif memilih makanan, mengurangi tidur, menjaga pergaulan.

Sedangkan adab kepada ilmu yang di tuntut ini ada 3 tingkat: tingkat dasar, tingkat menengah, tingkat lanjutan. Terakhir ini ada adab kepada guru, diantaranya adalah bersungguh-sungguh mencari ilmu dari guru, patuh terhadap nasehat guru, memuliakan guru, menunaikan kewajiban murid terhadap guru, sabar dengan sisi manusiawi sang guru, selalu menjadi budi pekerti di depan guru.

Pentingnya beradab sebelum berilmu menegaskan bahwa adab harus lebih dahulu dipelajari. Sebab saat kita sudah menguasainya maka akan lebih mudah untuk mempelajari ilmu.

Ada sebuah kisah menarik dari Abu Yazid Al-Busthami, tokoh sufi terkemuka. Pada suatu hari ia bermaksud mengunjungi seorang laki laki yang dikatakan memiliki ilmu yang baik. Ia mendengar bahwa orang berilmu itu sedang ada di sebuah masjid. Abu Yazid pun menunggu orang tersebut di luar masjid. Tidak lama kemudian, orang yang ditunggu itu pun keluar. Namun belum sempat Yazid menemuinya, ia melihat orang tersebut meludah di dinding masjid. Menyaksikan hal itu, Al-Busthami pun pulang dan tidak jadi bertemu dengannya. Ia mengatakan “Tidak dapat dipercaya untuk menjaga rahasia Allah, orang yang tidak dapat memelihara adab syari’at.”

Baca juga:  Karena Teknologi dapat Mengubah Banyak Hal

Suatu ketika Imam Syafi’i mengalami kesulitan dalam menghafal. Hal itu tidak biasanya, sebab ia terkenal sebagai jenius yang hafalannya luar biasa. Maka ia pun mengadu kepada gurunya yang bernama Waki’. Imam Syafi’i berkisah: “Aku mengadukan buruknya hafalanku kepada Waki’ Maka ia berikan petunjuk kepadaku untuk meninggalkan maksiat. Dan memberitahukan kepadaku bahwa “ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tak akan diberikan kepada yang melakukan maksiat.” Jika kita mengalami kesulitan belajar, bisa saja itu adalah akibat dari adab yang buruk, yakni tidak menjaga hati dari ria atau maksiat.

Teman-teman sekolah damai se-Jateng, sore tadi saya ikut diskusi cerdas yang diadakan oleh Wahid Foundation nih. Kalian juga bisa kok ikut diskusi cerdas online seperti saya kalau ada waktu luang.

Tulisan berikut adalah hasil dari mengikuti acara diskusi dengan tema diskusi “Menjadi Pemuda yang Berprestasi: Bagaimana Adab Penuntut Ilmu?” dan narasumbernya adalah Kak Anwar Masduki Mahasiswa S3 dari Universitas Groningen, Belanda. Jadi teman-teman ingat ya bahwa adab itu nomor satu dari pada ilmu. Tujuan akhir pendidikan bukanlah otak yang cemerlang, tetapi adab yang tinggi menjulang.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
2
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
2
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top