Sedang Membaca
Membaca Yudhistira, Menengok Kebengisan Kuasa Jawa di Akhir Abad Ke-17
Heru Harjo Hutomo
Penulis Kolom

Penulis lepas. Mengembangkan cross-cultural journalism, menulis, menggambar, dan bermusik

Membaca Yudhistira, Menengok Kebengisan Kuasa Jawa di Akhir Abad Ke-17

Created With Gimp

Ketika istri dan keempat saudaranya tumbang satu demi satu, Yudhistira bersikukuh untuk mendaki gunung suci itu. Ia tumbuh dengan tubuh kecil dan lemah. Parasnya berhiaskan sepasang mata teduh—sungguh tak membersitkan seorang ksatria yang cakap mengolah raga dan senjata. 

Tapi pada paat pendakian ganjil itulah, keteguhan tubuh justru seperti tak memiliki arti. Bahwa di saat-saat penghabisan, bukan tubuh kuat dan terlatih yang berperan, melainkan jiwa jatmika, tekad yang bulat, dan hati yang jernih. Kualitas-kualitas nonragawi inilah yang belum dicapai oleh istri beserta keempat saudaranya.

Yudhistira
boombastis.com

Yang tersisa bersamanya hanyalah seekor anjing yang sedari awal perjalanan tak pernah berhenti mengikutinya. Anjing itu tiba-tiba saja mengiringinya, dan sulung Pandawa itu juga sama sekali tak berkeberatan untuk menempuh perjalanan suci bersamanya. Akhirnya, ia pun sampai di surga yang menjadi muara dari perjalanannya selama ini.

Saat menginjakkan kaki di gerbang surga, syahdan sang penguasa Indraloka datang menyongsongnya dengan kereta kencana. “Engkau adalah yang paling akhir dipanggil, sebab memikul tanggung-jawab raga yang terakhir,” kata Dewa Indra pada sang sulung Pandawa.

Tapi sewaktu Yudhistira akan menaiki kereta kencana, Indra melarangnya, “Tak ada tempat bagi anjing di surga.”

Yudhistira pun, mengingat wataknya yang solider dan tabah dalam lara, bersikukuh, “Kalau demikian tak ada pula bagiku tempat di surga. Tak mungkin bagiku untuk meninggalkan anjingku yang selama ini menemaniku dalam suka dan duka.”

Gilakah Yudhistira dengan keputusannya itu, dengan lebih memilih bersama anjing daripada sepetak surga? Demikianlah Yudhistira, sang sulung Pandawa. Dari kisah itu terlihat karakternya yang teguh dalam menghadapi cobaan. Meskipun cobaan datang silih-berganti, ia tetap bertekad bulat.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dalam dunia pewayangan Jawa, Yudhistira tak terpungkiri lagi menjadi satu karakter yang unik. Meski berasal dari kasta ksatria ia hanya sekali menumpahkan darah: pada saat berhadapan dengan Prabu Salya di padang Kurusetra —hal ini pun terjadi berkat muslihat Kresna. Karena itulah ia juga bernama lain Sang Ajatasatru dan kondang sebagai ksatria berdarah putih (ludira seta) yang tak menyukai kekerasan dan tak punya musuh.

Yudhistira tak pula seperti Bima yang berpusakakan gada atau Arjuna dengan pasopatinya. Laiknya seorang shastri, Yudhistira hanya berpusakakan pustaka: Serat Jamus Kalimasada. Meski ia seorang raja, tak ada mahkota di kepalanya, tak ada praba di punggungnya, dan tak ada sedikit pun perhiasan yang melekat di tubuhnya, yang karenanya tenar pula ia bernama Samiaji.

Tapi benarkah Yudhistira adalah sesosok karakter yang baik sebagaimana yang selama ini banyak diyakini orang, mengingat ia adalah satu di antara anggota dari Pandawa yang terkenal mulia—atau bahkan ada yang sampai menganggapnya sebagai representasi dari ksatria pinandhita, seorang ksatria yang lekat dengan citra kesalehan?

Saya punya penemuan lain, pertama, bahwa kisah dan pertunjukan wayang purwa di Jawa adalah semacam rekaman memori kolektif atas peristiwa sejarah tertentu (Mahapralaya: Seputar Wayang, Gempa dan Tsunami, https://filsafatwayang.filsafat.ugm.ac.id).

Kedua, kisah dan pertunjukan wayang, khususnya yang berbentuk lakon-lakon carangan, adalah sebuah pasemon atau ungkapan ketaksetujuan yang disampaikan secara halus atas peristiwa sejarah tertentu yang lazimnya bersifat politis (Sapa Salah Seleh: Antara Wayang dan Catatan Wirang, https://jurnalfaktual.id).

Saya tak akan menjawab pertanyaan di atas secara normatif. Karena, ketika berkutat dengan sejarah, hal seperti ini adalah sebentuk anakronisme, menerapkan standar penilaian masa kini pada masa silam yang jelas tak akan nyambung dan kontra-produktif bagi pengetahuan.

Satu hal yang pasti, pewayangan Jawa juga menyajikan sisi gelap Yudhistira, yang ketika amarahnya memuncak akan menyebabkannya triwikrama atau bertransformasi menjadi sesosok buta (raksasa) berwarna putih yang disebut sebagai Dewa Amral. Secara khusus sebenarnya tak ada istilah “amral” dalam perbendaharaan bahasa Jawa.

Dengan demikian, atas dasar fakta ini, maka karakter Yudhistira atau Dewa Amral ketika triwikrama adalah suatu lakon carangan yang merupakan pasemon atas peristiwa sejarah tertentu: kisah Mas Rahmat atau Amangkurat II yang juga dikenal dengan gelar Sunan Amral.

Dari nama Amral dapat diketahui,  Amangkurat II bisa jadi dekat dengan pengaruh Eropa (Belanda). Amral adalah pelisanan lidah Jawa atas istilah kemiliteran Barat admiral, yang setara dengan istilah laksamana dalam bahasa melayu.

Dalam catatan sejarah, Amangkurat II inilah yang pertama kali menerapkan model Eropa untuk pakaian dinas raja, yang kemudian diikuti hingga raja-raja Jawa sesudahnya. Amangkurat II sendiri merupakan putra Amankurat I atau Amangkurat Agung yang terkenal hedonistis dan despotik.

Dalam pemerintahan Amangkurat I inilah pembantaian ribuan ulama yang berafiliasi dengan Giri Kedaton akhirnya memicu terjadinya pemberontakan Trunajaya hingga memaksa pusat pemerintahan Mataram beralih dari Plered. Amangkurat I pun tercatat meninggal dalam pelariannya di Tegal. Karena inilah ia digelari pula sebagai Sunan Tegalwangi.

Ada versi yang mengatakan bahwa Amangkurat I mati karena diracun oleh anaknya sendiri, Mas Rahmat, yang kelak menggantikannya sebagai Amangkurat II atau Sunan Amral. Versi ini saya kira dapat dipertanggungjawabkan mengingat rivalitas antara bapak dan anak tersebut tercatat dalam sejarah arus utama.

Yudhistira dalam kisah pewayangan Jawa terkenal tak tegas, sungkan untuk bertanding, atau berkarakter ngalahan bahkan pun ketika berurusan dengan perempuan seperti Drupadi,  perempuan triman (seserahan) dari Arjuna, adiknya, ketika memenangi sayembara Prabu Drupada di Pancala.

Rara Oyi adalah sesosok perempuan yang memantik konflik antara Amangkurat I dan Mas Rahmat, karena bapak dan anak ini sama-sama menaruh hati padanya. Catatan sejarah juga berkata bahwa pemberontakan Trunajaya diinisiasi pula oleh Mas Rahmat untuk menumbangkan bapaknya sendiri, Amangkurat I. Hal ini menunjukkan sifat mendua atau pembimbang Mas Rahmat pada setiap posisi yang dipilihnya.

Sebagaimana Yudhistira dalam lakon Pandhawa Dadu, kebimbangan dan keasyikan dalam ketegangan khas penjudi pada karakter Mas Rahmat dapat pula dibaca sebagai kelihaian sekaligus watak bengisnya dalam berpolitik. Untuk meraih tampuk kekuasaan Mataram, ia dikenal sangat penyabar dan bermuka tebal ketika mesti berendah diri, baik ketika dengan bapaknya sendiri maupun VOC pada nantinya.

Seperti halnya Yudhistira yang tega mempertaruhkan Drupadi di meja perjudian, Mas Rahmat pun mesti berlapang dada pula ketika mengikhlaskan Rara Oyi pada Amangkurat I untuk meraih apa yang diinginkannya.

Tak sekedar kehilangan perempuan idaman, dalam rivalitas dengan bapaknya tersebut Mas Rahmat harus pula kehilangan statusnya sebagai Pangeran Adipati Anom (putra mahkota) yang akhirnya diberikan pada adiknya yang berlainan ibu, Pangeran Puger. Tapi karena Puger, yang dari pihak ibu (Ratu Wetan) berasal dari trah Kajoran—perpaduan trah Katongan Ponorogo dan Bayat—yang secara terbuka mendukung dan terlibat dalam pemberontakan Trunajaya, gelar Pangeran Adipati Anom itu pun dikembalikan lagi oleh Amangkurat I pada Mas Rahmat.

Ketika keraton Plered sebagai ibu kota Mataram dapat dikuasai dan dijarah oleh laskar Trunajaya di akhir Juni 1677, Mas Rahmat kemudian mengikuti Amangkurat I sebagai pelarian perang di daerah Tegal. Seusai Amangkurat I wafat karena diracun, segera Mas Rahmat bersekutu dengan VOC dan menahbiskan dirinya sebagai Amangkurat II pada September 1677 di Tegal atas bantuan Bupati Martalaya.

Sebagaimana Yudhistira yang dalam pewayangan Jawa dikenal pula dengan nama lain Samiaji (bermakna sama nilai atau kedudukan), serta satu-satunya raja tanpa mahkota, Amangkurat II pun menjadi satu-satunya raja Mataram yang tanpa istana, harta, dan tentara atau ajatasatru (tanpa musuh).

Terlebih, atas kutukan Amangkurat I sesaat sebelum wafat, Mas Rahmat beserta keturunannya hanya akan menjadi penguasa Mataram selama dua generasi dan itu pun tak lama. Terbukti, setelah Amangkurat II dapat membangun keraton Mataram di Kartasura, anaknya yang terlahir cacat, Amangkurat III (Pangeran Kencet), hanya menjadi penguasa Mataram-Kartasura selama dua tahun (1703-1705).

Sesudah Amangkurat III, garis keturunan raja-raja Mataram beralih ke garis keturunan Pangeran Puger (Paku Buwana I) yang merupakan trah Kajoran pendukung utama pemberontakan Trunajaya dan Giri Kedaton yang telah dibumihanguskan oleh Amangkurat II. Tercatat pula, Trunajaya dan Panembahan Ageng Giri beserta seluruh keluarganya dieksekusi sendiri oleh Amangkurat II.

Fakta sejarah Amangkurat II tersebut serupa pula dengan apa yang dialami oleh Yudhistira, yang dalam kisah pewayangan memiliki anak yang dikenal tak cakap dalam memerintah dan berperang: Pancawala.

Oleh karena itu, garis keturunan raja-raja dinasti Bharata pun beralih ke garis keturunan adiknya, Arjuna, yang kelak menurunkan Parikesit. Demikianlah fakta sejarah Sunan Amral yang terselip dalam kisah pewayangan Dewa Amral. (SI)

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Perang Melawan Ingkar Janji
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top