Sedang Membaca
Mengenal Kitab Pesantren (64): Ramadhan Syahru al-‘Itqi min an-Nar
Sunnatullah
Penulis Kolom

Santri dan pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah Bangkalan.

Mengenal Kitab Pesantren (64): Ramadhan Syahru al-‘Itqi min an-Nar

Inshot 20220404 103408066

Bulan Ramadan kembali tiba. Untuk kesekian kalinya umat Islam diberi kesempatan oleh Allah untuk merasakan nikmatnya berpuasa. Dengan berpuasa, kita bisa merasakan arti seteguk air bagi tenggorokan yang kering. Dengan puasa pula, kita bisa lebih paham manfaat sepiring nasi bagi perut yang lapar.

Pada dasarnya, puasa tidak hanya mengajarkan perihal dahaga dan lapar. Jauh dari itu, di dalamnya juga terdapat ajaran ruhaniyah yang sangat penting untuk diketahui. Dengan berpuasa, seseorang juga diajarkan cara menahan lisan agar tidak mengucapkan hal-hal yang tidak baik. Dengan berpuasa, kita juga diajarkan menahan diri dari semua nafsu yang bersifat tidak baik.

Dengan demikian, puasa memiliki dua tujuan yang sangat pokok, yaiti (1) melatih diri untuk bisa menerima semua yang telah Allah berikan (qana’ah) dengan cara hidup sederhana dan apa adanya melalui puasa; dan (2) melatih batin agar terlatih dan biasa terhindar dari segala sifat-sifat yang tercela, seperti sifat iri, dengki, sombong dan lain sebagainya.

Kenapa semua itu harus dilakukan pada bulan Ramdhan? Nah, untuk menjawab hal ini, penulis menawarkan salah satu kitab yang menjelaskan perihal Ramdhan, dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Kitab ini sangat penting untuk dimengerti oleh semua umat Islam, khususnya yang sedang berpuasa.

Nama kitabnya adalah Ramdhan Syahru al-‘Itqi min an-Nar (Ramadan adalah bulan dibebaskan dari neraka). Kitab ini merupakan salah satu kitab dari sekian banyak kitab yang menjelaskan keutamaan Ramdhan dan puasa. Hanya saja, ada hal yang sangat menarik di dalamnya. Misalnya, kenapa bulan ini disebut dengan bulan hidayah? Kenapa kewajiban puasa ditetapkan pada bulan Ramadan? Maka, semua pertanyaan itu terjawab dengan detail di dalamnya.

Baca juga:  Mengenal Kitab Pesantren (76): Risalah al-Thayr, Cerpen Sufistik Karya Imam Al-Ghazali

Kitab yang satu ini tidak terlalu besar, tidak berjilid-jilid sebagaimana kitab pada umumnya, hanya terdiri dari 75 halaman. Kitab mungil ini merupakan salah satu sumbangsih agung dari Syekh Muhammad Said Ruslan, salah satu ulama yang keilmuannya sangat masyhur.

Sekilas tentang Penulis

Syekh Muhammad Said Ruslan merupakan salah satu ulama kelahiran Sabad di Mesir, pada tanggal 23 November 1955. Ia adalah salah satu ulama yang menyelsaikan pendidikannya di Universitas Al-Azhar Mesir.

Syekh Muhammad Said Ruslan tumbuh dari keluarga dengan basis keilmuan. Sejak kecil, ia dididik untuk paham ilmu agama sebelum memulai rihlahnya kepada para ulama tersohor ataupun perguruan tinggi. Melalui bimbingan ayahnya, ia tumbuh menjadi anak yang sangat cerdas dan tangkas. Semua pelajaran yang diterimanya bisa dengan mudah ia mengerti dan ia pahami.

Kecerdasan dan ketangkasan itu tetap melekat dalam dirinya hingga menduduki bangku perguruan tinggi. Semua pelajaran yang diterimanya menjadi sangat gampang ia pahami, bahkan bisa dengan mudah ia hafalkan.

Setelah rihlah intelektualitasnya, Syekh Muhammad Said Ruslam tumbuh menjadi sosok ulama yang sangat disegani. Ia memiliki ijazah sanad hadits dari 40 hadits, hingga kemudian dikenal dan masyhur dengan sebutan “al-Arbain al-Buldaniyah.”

Selain dikenal sebagai ulama ahli hadits (muhaddits), ia juga tidak diragukan dalam diskursus ilmu fiqih. Sebab, ia juga banyak memahami cabang-cabangnya, bahkan banyak juga karya monumentalnya perihal ilmu fiqih.

Kelebihan Kitab Ramdhan Syahru al-‘Itqi min an-Nar

Jika dilihat sekilas, maka kitab ini terlihat sangat simple dan bahkan isinya hanya itu-itu saja perihal puasa. Namun, kesimpulan sekilas tentu tidak tepat jika tidak pernah membaca apa yang tertulis di dalamnya.

Benar, kitab dengan tebal 75 halaman ini hanya memuat 11 bab. Namun, bab-bab yang ada dalam kitab ini sangat penting untuk diketahui. Sebab, para ulama jarang menyebut atau bahkan menjelaskannya. Berikut akan kami jelaskan di antara isi dari kitab kecil ini:

Baca juga:  Mengenal dan Menjaga Warisan Kiai Hasyim Asy’ari

Pertama, kenapa harus puasa pada bulan Ramdhan?

Di antara pembahasan yang jarang dijelaskan oleh para ulama adalah perihal alasan kenapa kewajiban puasa bertepatan dengan bulan Ramdhan? Padahal, jika dihitung, jumlah bulan selama satu tahun ada sebanyak 12 bulan. Tapi kenapa Ramdhan yang menjadi pilihan?

Dalam kitab ini disebutkan, bahwa bulan Ramdhan tidak bisa disamakan dengan bulan-bulan lain pada umumnya. Allah memberikan keistimewaan dan beragam anugerah secara khusus yang tidak ditemukan pada bulan-bulan yang lain, bahkan Allah tidak memberikannya pada semua bulan tersebut.

Dengan demikian, maka kita bisa tahu bahwa bulan Ramadan merupakan bulan yang sangat istimewa melebih bulan yang lainnya. Karena istimewa, maka semua amal kebaikan yang dilakukan pada bulan ini juga menjadi istimewa, termasuk pahala yang didapatkan oleh mereka yang melakukannya. Jika melakukan shalat sunnah satu rakaat mendapatkan satu pahala, maka jika dilakukan pada bulan Ramadan akan mendapatkan seribu pahala satu rakaat.

Oleh karenanya, kewajiban puasa ditetapkan pada bulan Ramdhan. Hal itu tidak lain, karena bentuk anugerah dan pemberian dari Allah secara khusus bagi umat Nabi Muhammad agar bisa mendapatkan banyak pahala dari satu amal kebaikan.

Kedua, kenapa disebut bulan hidayah

Selain dikenal dengan bulan penuh rahmat dan ampunan, bulan Ramadan juga masyhur dikenal dengan istilah bulan Ramadan hidayah. Kenapa demikian? Simak enjelasan berikut:

Bulan Ramadan memiliki sejarah yang sangat penting untuk diketahui. Pada bulan ini, bertepatan dengan diturunkannya sumber hidayah yang kemudian menjadi wahyu bagi para nabi berupa kitab suci. Misalnya, Allah menurunkan kitab suci Al-Qur’an pada bulan Ramadan, begitu juga dengan kitab suci lainnya yang diturunkan kepada nabi sebelum Rasulullah, seperti Kitab Taurat, Injil dan Zabur.

Baca juga:  Memanfaatkan “Media Sosial” dengan Bijak

Karena diturunkan pada bulan Ramdhan, maka bulan yang satu ini dikenal dengan istilah bulan hidayah. Sebab, dengan adanya kitab suci, uamt Islam bisa membadakan antara kebenaran dan kebatilan, bisa mendapatkan hidayah. Kitab suci juga bisa menjadi penerang bagi hati yang gelap, cahaya bagi hati yang suram.

Ketiga, bulan pembebasan dari neraka

Di antara kelebihan yang ada dalam bulan ini, yaitu Allah membebaskan semua hamba-hamba-Nya yang memiliki takdir masuk neraka, dan dipindah untuk dimasukkan pada surga-Nya yang dipenuhi dengan nikmat dan kemuliaan.

Analoginya, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab ini, karena semua pahala dari amal kebaikan pada bulan ini oleh Allah dilipatgandakan dan juga memberi ampunan atas segala dosa yang pernah dilakukan sebelumnya. Dengan demikian, dosa-dosa umat Islam akan hilang dengan sendirinya, yang tersisa hanyalah pahala dan anugerah yang banyak. Oleh karenanya, mereka yang memiliki takdir masuk neraka, akan dihapus oleh Allah dan dipindah menuju surga. Hal itu tidak lain karena anugerah yang ada dalam bulan yang satu ini.

Selain beberapa penjelasan di atas, dalam kitab ini juga dijelaskan perihal keutamaan-keutamaan yang ada di dalamnya, misalnya, bulan Ramdhan merupakan permulaan wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad. Dengan kata lain, bulan ini menjadi awal mula perjalanan Islam sebelum dikenal seantero dunia, dan beberapa keterangan menarik lainnya.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top