Kifayatul Ghulam: Fikih Melayu Karangan Syaikh Ismail Khalidi Minangkabau (1858)

Ahmad Ginanjar Sya'ban

Kitab ini berjudul Kifayatul Ghulam fi Bayan Arkanil Islam karangan seorang ulama Nusantara yang hidup di akhir abad ke-18 M dan awal abad ke-19 M serta lama bermukim di Makkah, yaitu Syaikh Isma’il b. ‘Abdullah al-Khalidi al-Mankabawi (Syaikh Ismail Minangkabau, wafat 1275 H/1858 M).

 

Kitab Kifayatul Ghulam berisi kajian pokok-pokok ajaran ilmu fikih Islam (rukun Islam yang lima) mazhab Syafi’i, mulai dari jenis-jenis najis, tata cara bersuci, melaksanakan salat dengan segala syarat, rukun, wajib, sunnah, makruh, dan haramnya, menunaikan zakat dengan segala perinciannya, demikian juga membahas puasa, berhaji, umrah, hingga nikah. Semua itu dikaji dengan ringkas dan padat.

 

Karya ini ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab. Saya mendapatkan kitab ini dalam versi cetak yang dikeluarkan oleh al-Haramain di Jakarta-Singapura pada Agustus 2017 di sebuah toko kitab kecil di Pasar Parung, Bogor. Dalam versi cetak ini, tebal kitab Kifayatul Ghulam 44 halaman. Disertakan juga dua kitab yang lain, yaitu Kitabul Buyu’ dengan pengarang anonim (dalam dua halaman saja), juga Kitabul Faraidh karangan Syaikh Abdul Rauf Singkel (dalam 14 halaman). Keduanya juga ditulis dalam bahasa Melayu aksara Arab (Jawi).

 

Dalam kolofon yang terdapat dalam versi cetakan tersebut, didapati informasi jika karya ini diselesaikan pada Rabu, 4 Dzul Qa’dah, tanpa menyebutkan tahun, juga tanpa menyebutkan tempat di mana karya ini ditulis dan diselesaikan.

 

Tertulis di bagian akhir kitab ini:

سميت هذا الكتاب بكفاية الغلام في بيان أركان الإسلام الخمسة. أرتين أكو نماي كتاب اين كفاية الغلام فد مياتكن ركن إسلام يغ ليم لاك ادادالمن حكم نكاح دان حكم سمليه. تم الكتاب فد هاري أربع فد أمفت هاري بولن ذو القعدة آمين

 

Aku namai kitab ini Kifayatul Ghulam pada menyatakan Rukun Islam yang lima ada di dalamnya hukum nikah dan hukum semulanya. Tamm kitab pada hari Rabu pada 4 hari bulan Dzul Qa’dah amin.

 

Baca juga:  Sabilus Salikin (101): Tata Cara Zikir Tarekat Histiyah (3)

Dalam menerangkan beberapa kajian peribadatan dalam kitab ini, Syaikh Ismail Minangkabau kerap menyebutkan beberapa referensi yang menjadi acuan kitabnya ini ditulis, seperti kitab al-Hawi karangan al-Razi, Ihya ‘Ulumid Din karangan al-Ghazali, dan lain-lain.

 

Yang menarik, di bagian akhir kitab ini terdapat doa dan dzikir yang sekarang dikenal dengan bacaan “tahlilan”. Di sana, Syaikh Ismail Minangkabau menulisnya dalam “fasal pada menyatakan khatam Alquran dan menyatakan tertib-tertib”. Tertib tersebut dimulai dengan membaca surat al-Ikhlash, lalu dilanjut dengan membaca Surat al-Mu’awwidzatain, lalu membaca Surat al-Fatihah, lalu dilanjut dengan awal Surat Al-Baqarah hingga akhir ayat ke-5, lalu dilanjut dengan Ayat Kursi, la ikraha fid din hingga akhir ayat; Ma la thaqata lana bih, lalu membaca wa’fu ‘anna dst sebanyak tujuh kali, dilanjut dengan membaca ‘Ya arhamar rahimin’ sebanyak tujuh kali, juga bacaan-bacaan lainnya seperti kalimat tahlil, istigfar, shalawat, hingga ditutup dengan doa khatam Alqur’an.

 

Syaikh Ismail Minangkabau dilahirkan di Tanah Datar, Minagkabau, pada akhir abad ke-18 M. Sejak kecil, Ismail dibawa oleh ayahnya, yaitu Syaikh Abdullah Minangkabau, untuk pergi berhaji sekaligus bermukim di Makkah. Di sana beliau belajar kepada Syaikh ‘Utsman al-Dimyathi (w. 1848), Syaikh Dawud al-Fathani (w. 1847), Syaikh Muhammad Sa’id b. ‘Ali al-Syafi’i (w. 1844), Syaikh ‘Athaillah b. Ahmad al-Mashri (w. ?), Syaikh Muhammad b. ‘Ali al-Syanwani (w. 1818), Syaikh Abdullah al-Syarqawi al-Azhari (w. 1813), Syaikh Khalid Dhiya al-Din al-Kurdi al-Naqsyabandi (w. 1826), dan Syaikh Abu Abdillah al-Khalidi.

 

Di Makkah, Syaikh Ismail Minangkabau belajar selama kurang lebih 35 tahun. Di sana juga beliau berbaiat Tarekat Khalidiyyah kepada Syaikh Khalid Dhiya al-Din al-Kurdi, mursyid tarekat Naqsyabandiyyah sekaligus pengasas anak cabangnya, yaitu Tarekat Khalidiyyah Naqsyabandiyyah. Di kemudian hari, Syaikh Ismail al-Khalidi menjadi pembawa tarekat ini ke Nusantara yang sampai saat ini masih lestari, khususnya di daerah Minangkabau, Riau, dan Semenanjung (Malaysia).

Baca juga:  Mengenal Tradisi Bahtsul Masail di Lingkungan NU

 

Syaikh Ismail Meninggalkan banyak karangan yang ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi), seperti Muqaranah Sembahyang (fikih), al-Rahmatul Habthah fi Dzikr Ismidz Dzat war Rabithah (tasawuf), al-Muqaddimatul Kubra allati Tafarra’at Minhal Nushushis Shughra, Muqaddimatul Mubtadin, al-Manhalul ‘Adzb fi Dzikril Qalb (tasawuf), dan lain-lain.

 

Dari semua karya itu, hanya satu karya yang memuat informasi penanggalan (kolofon) penulisannya, yaitu kitab al-Rahmatul Habithah yang diselesaikan pada 1268 H (1851 M).

Baca Juga

 

Selain itu, dalam sebuah selembar manuskrip surat yang ditulis oleh ulama Nusantara yang mengajar di Makkah untuk Sultan Utsmani kala itu, Sultan Abdul Majid Khan, yang bertarikh 1266 Hijri (1849 Masehi), terdapat nama Syaikh Ismail Minangkabau di antara nama ulama-ulama yang bertandatangan dan membubuhkan cap di sana, seperti Syaikh Ahmad Khatib Sambas, Syaikh Ibrahim Khalusi Sumbawa, Syaikh Muhammad Arsyad b. Abdul Fattah Bugis, Syaikh Abdul Ghani b. Muhammad Zain Banten, Syaikh Muhammad Abdullah b. Said Palembang, dan Syaikh Muhammad Soleh Rao.

Syaikh Ismail Minangkabau lalu pulang ke Nusantara dan diangkat menjadi ulama besar sekaligus penasihat Kesultanan Riau-Lingga. Raja Ali Haji, salah satu keluarga Kesultanan Riau-Lingga dan juga sasrawan besar Melayu (1808-1873), dalam karyanya Tuhfatun Nafis menyinggung kedatangan Syaikh Ismail Minangkabau di istana kesultanannya.

 

Belum ada tarikh yang pasti mengenai tahun lahir dan wafat dari Syaikh Ismail Minangkabau. Namun melihat data guru-guru Syaikh Ismail Minangkabau di Makkah yang hidup wafat pada paruh pertama abad ke-19 M, serta data penulisan surat (1849 M) dan kitab al-Rahmatul Habithah (1851 M), maka bisa dipastikan kalau Syaikh Ismail Minangkabau hidup pada masa-masa itu, yaitu akhir abad ke-18 M hingga paruh kedua abad ke-19 M. Diperkirakan beliau wafat pada 1275 Hijri (1858 Masehi).

Baca juga:  Peter Carey: Perjalanan Mistis Mencari Pangeran Diponegoro

 

Wan Muhammad Shagir Abdullah mengatakan, Syaikh Ismail Minangkabau memiliki dua orang anak yang juga menjadi ulama, yaitu Syeikh Azhari b. Ismail (w. 1303 H/1886 M) dan Syeikh Muhammad Nur b. Ismail (w. 1313 H/ 1895 M). Kedua anak Syeikh Ismail Minangkabau tersebut meneruskan aktivitas beliau, di rumah pusaka beliau yang dinamakan Rumah Waqaf Al-Khalidi di Mekah, menjadi tumpuan atau tempat berkumpul orang-orang yang berasal dari dunia Melayu, terutama Ikhwanut Thariqah dan Kerabat Diraja Riau-Lingga.

Rumah Waqaf Al-Khalidi di Mekah itu dibina, dimulai oleh Syeikh Ismail al-Minankabawi sendiri, dan sewaktu Raja Haji Ahmad bin Raja Haji ke Mekah pada tahun 1243 Hijrah/1828 Masehi, beliau mengulurkan dana wakaf yang banyak kepada Syeikh Ismail al-Minankabawi.

Dana wakaf tersebut kemudian diteruskan oleh beberapa orang Kerabat Diraja Riau-Lingga, para murid beliau. Murid Syeikh Ismail al-Minankabawi dari golongan elit Kerajaan Riau-Lingga sangat ramai, sama ada pimpinan tertinggi kerajaan, golongan cerdik pandai maupun golongan lainnya. Di antara mereka seumpama Raja Haji Abdullah, Yang Dipertuan Muda Riau Lingga ke-IX, Raja Ali Haji, pengarang Melayu yang sangat terkenal dan lain-lain. Kesimpulan dari seluruh perbincangan bahwa Thariqat Naqsyabandiyah aliran al-Khalidiyah di dunia Melayu, dimulai oleh Syeikh Ismail al-Minankabawi di Mekah, kemudian beliau sendiri datang mendirikan pusat-pusat penyebarannya di Istana Pulau Penyengat, Riau, di Istana Temenggung Ibrahim di Teluk Belanga, Singapura, di Kampung Semabok, Melaka dan Kampung Upih di Pulau Pinang dan tempat-tempat lainnya.

 

Bogor, Maret 2018

Lihat Komentar (0)

Komentari