Sedang Membaca
Membaca Puisi untuk Ribuan Pengungsi yang Raib di Lautan

Membaca Puisi untuk Ribuan Pengungsi yang Raib di Lautan

Setyaningsih

Setiap terjadi perang, anak-anak selalu harus ikut mengalami kehilangan dan ketakutan yang seharusnya belum menjadi hak primordial. Perang membawa rentetan beban yang dijalarkan oleh orang-orang dewasa sekalipun mereka berusaha anak-anak tidak turut bersedih.

Di Indonesia lewat buku-buku, kita ikut merasakan perang yang berkecamuk dari negeri asing. Ada anak-anak menuliskan hari-hari menakutkan itu dalam buku harian, lantas diterjemahkan untuk memberi kabar kepada dunia.

Sebelum Malala Yousefzai sang nobelis perdamaian 2014 mengabarkan pendudukan Taliban di Pakistan, buku harian seorang anak Bosnis yang tinggal di Sarajevo, Zlata Filipovic, diterjemahkan dalam Buku Harian Zlata, Jeritan Seorang Anak Bosnia (Gramedia, 1994). Zlata menulis sebagai seorang anak yang melewati hari-hari menyenangkan di kampung halaman, tapi kondisi berubah seiring perang.

Bertanggal 5 April 1992, Zlata menulis,

“Aku mencoba memusatkan perhatianku pada tugas-tugas sekolahku (tugas membaca buku), tetapi sia-sia saja. Sesuatu terjadi di kota. Kami mendengar tembakan dari arah bukit. Orang datang berduyun-duyun dari Dobrinja. Untuk mencoba menghentikan sesuatu, entah apa, sesuatu yang sayangnya tidak mereka ketahui. Kupikir mereka merasa ada sesuatu yang bakal terjadi, atau bahkan telah terjadi, sesuatu yang sangat mengerikan[…] Mimmy, aku takut PERANG!”

Barangkali bisa dikatakan beruntung, atas suaka PBB dan Kementerian Pertahanan Prancis, Zlata dan keluarga berhasil keluar dari Bosnia dan melakukan perjalanan ke negara-negara untuk mengabarkan tragedi Sarajevo.

Baca juga:  Mengapa Alquran Mengizinkan Perang dan Kekerasan?

Baca juga:

Catatan atau tulisan adalah suaka psikologis, ruang ketakutan sekaligus kenangan dituang bukan untuk menularkan hal buruk. Inilah juga dilakukan oleh penulis novel laku keras The Kite Runner, Khaled Hosseini, lewat semacam buku puisi-cerita berjudul Sea Prayer (2018). Buku sedikit kata ini hadir bersama ilustrasi nyaris penuh garapan Dan Williams.

Di halaman persembahan dikatakan, “Buku ini didedikasikan kepada ribuan pengungsi yang raib di lautan demi menghindari perang dan penganiayaan.”

Satu sosok mengilhami kelahiran buku adalah bocah Suriah tiga tahun bernama Alan Kurdi yang tubuh tidak bernyawanya terdampar di sebuah pantai di Turki dalam perjalanan mencari suaka ke Eropa pada 2015.

Kita tentu masih mengingat, foto Alan Kurdi sempat menggemparkan jagat internasional. Tubuh kanaknya mewakili ribuan pengungsi yang mati dan hilang di haribaan laut. Mereka orang-orang ingin menemukan tanah baru meski beresiko tidak diterima, dianggap sebagai pengganggu, atau menambah masalah internasional.

Dengan nada liris yang justru menguatkan hidup tragis, Khaled membayangkan diri sebagai kanak yang bercerita masa-masa sebelum perang berkecamuk. Dia menulis:

Setiap pagi kami bangun dan mendengar/ gemerisik pepohonan zaitun diterpa angin sepoi-sepoi,/ embik kambing-kambing nenekmu,/ dentang panci-panci masaknya./ Udara yang sejuk dan matahari/ tampak pucat layaknya buah kesemek,/ di sebelah timur.

Orang-orang terdekat, waktu di kampung halaman, perkakas dapur, pohon-pohon, adalah hal-hal primordial untuk meresapkan ingatan. Cara ini cenderung memantik pengingatan bersama secara global meski ruang geografis berbeda. Khaled melanjutkan,

Baca juga:  Sabilus Salikin (110): Guru-guru dan Karya-karya Ibnu Arabi

Kuharap kau mengingat Homs seperti aku mengingatnya, Marwan./ Di Kota Tua yang ramai ini,/ tersedia masjid bagi umat Muslim seperti kita./ gereja bagi tetangga Nasrani kita,/ dan pasar raya bagi kita semua untuk membeli/ liontin emas, makanan segar, dan gaun-gaun pengantin.

Baca Juga

Judul : Sea Prayer
Penulis : Khaled Hosseini
Ilustrator : Dan Williams
Penerjemah : Fauziah Hafidha
Penerbit : Penerbit Qanita
Cetak : Pertama, November 2018
Tebal : 48 halaman

Saat bom muntah di atas kota, itulah waktu untuk meninggalkan semua yang berjalan normal dan baik-baik saja. Bibir pantai menuju laut mengantar ke negeri seberang, membuka pintu harapan dan suaka yang masih tidak pasti.

Orang-orang Afghanistan, Somalia, Irak,/ dan orang-orang Eritrea dan Suriah./ Kita semua tak sabar menunggu matahari terbit,/ tapi kita semua takut akan terbitnya matahari./ Kita semua mencari tempat untuk pulang./ Kudengar kita adalah orang-orang tak diundang./ Kita tak diterima./ Seharusnya kita membawa kemalangan ini/ ke tempat lain.

Seperti tidak ada tempat di bumi bagi para pengungsi. Negara-negara di Eropa masih cenderung bersikap mendua menghadapi pengungsi. Hidup mesti disudahi di haribaan laut yang luas. Laut yang luas dan digdaya mengakhiri perjalanan suaka. Di sana ada ketakutan, tapi lautlah yang lebih menerima kemalangan para imigran setelah doa mencapai daratan terhaturkan:

Baca juga:  Saat Lebaran, Apakah Baca Buku Jadi Agenda?

Aku hanya dapat berdoa./ Berdoa agar Tuhan mengarahkan kapal/ ini dengan benar, setelah pantai tidak/ terlihat lagi dan kita hanyalah sebuah/ noktah dalam air yang bergelombang/ naik turun.

Setiap ada penerbitan buku, hal itu juga menjelma suaka moral sekaligus finansial atas tragedi yang terjadi di belahan tempat di bumi ini. Diwartakan bahwa sebagian royalti buku disumbangkan ke UNHCR (UN Refugee Agency) dan Yayasan Khaled Hosseini untuk membantu para pengungsi di dunia.

Orang-orang diajak membaca untuk turut merasa, berdoa, dan akhirnya menolong dari jarak yang jauh. Membaca-memiliki buku bergerak dari uji mental personal, menjadi uji amal kemanusiaan kita.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top