Pendaftaran Workshop Menulis

Melacak Akar Konflik Timur Tengah

Mohammad Rifki

Dari zaman televisi hitam putih sampai era gadget hari ini, tiada henti kita saksikan berita konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Bom meledak di mana-mana; di jalan raya, permukiman penduduk, kantor-kantor pemerintahan, bahkan di masjid sekalipun. Perang saudara seperti yang terjadi di Suriah, Lebanon, Yaman, sulit dielakkan. Seakan tak (mungkin) pernah menemukan titik akhir.

Kondisi demikian sangat ironis mengingat negara-negara Timur Tengah yang berkonflik tersebut mayoritas warganya beragama Islam. Berbanding terbalik dengan negara-negara Eropa yang kebanyakan warganya non-Muslim justru hidup rukun penuh damai. Segala kebutuhan hidup sehari-harinya barangkali lebih dari cukup.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Mengapa itu semua terjadi? Apakah Islam memang agama yang mengesahkan tindak kekerasan seperti tuduhan beberapa kalangan? Apa karena adu domba negara-negara adikuasa yang jadi sumbu konflik di Timur Tengah itu makin keruh? Atau ada hal lain paling mendasar dari itu semua.

Salah satu kunci jawabannya kita perlu mendaras buku After The Prophet, karya Lesley Hazleton. Buku dengan ketebalan sekira 424 halaman ini menguliti secara bernas awal mula seteru di dalam tubuh umat Islam.

Yakni di antara kaum Sunni versus Syiah, dua kelompok yang hingga kini terus-menerus mengundang pertikaian.

Menurut Lesley Hazleton, bibit-bibit seteru di antara umat Islam sudah tampak sejak Nabi wafat atau jauh hari sebelumnya. Dalam hal ini Lesley Hazleton menyodorkan kasus Aisyah, salah satu istri Nabi, yang dituduh telah main serong dengan laki-laki lain. Ali dalam kasus ini melontarkan argumentasi bahwa masih banyak ikan di laut. Intinya, jika Nabi menceraikan Aisyah, selesailah kasus itu, dan reputasi Muhammad sebagai seorang Nabi terselamatkan.

Baca juga:  Sabilus Salikin (5): Dasar Hadis Tarekat

Pernyataan tersebut, disadari atau tidak, telah menyemai bibit-bibit permusuhan antarumat Islam saat ikatan persaudaraan baru tertanam. Aisyah sungguh sakit hati dengan pernyataan Ali yang terang-terangan itu -semua inilah yang Aisyah terus lawan selama sisa hidupnya. Walau pada akhirnya Aisyah diselamatnya oleh firman Allah SWT dari tuduhan melakukan perbuatan serong dengan laki-laki lain.

Pernyataan Ali tersebut bagi Lesley Hazleton dapat dimengerti karena Aisyah pernah merendahkan Fatimah, salah satu putri Nabi dengan Khadijah, tak lain adalah istri Ali.

Walau sebenarnya sasaran utamanya bukan Fatimah, melainkan Khadijah di hati Nabi yang tak tergantikan oleh perempuan lain, termasuk istri-istrinya. Sebagai perempuan yang supel—Lesley Hazleton menulisnya perempuan yang tak mau mengalah—Aisyah menumpahkan kekesalannya pada Fatimah sebagai anak biologis Khadijah.

Tetapi perpecahan atau pertikaian yang sampai menumpahkan darah tidak pernah terjadi. Sebab Nabi merupakan sosok yang mampu mengikat masyarakat Arab yang terdiri dari pelbagai suku ke dalam satu ikatan kebangsaan. Termasuk dalam hal ini adalah orang-orang yang berada dalam lingkaran keluarganya. Begitu pun dengan kasus Aisyah.

Nabi sepertinya belum selesai mengubur watak atau egosentris kesukuan orang Arab. Terbukti, saat beliau wafat, beberapa pihak dari pelbagai suku berebut kuasa untuk menjadi penggantinya sebagai pemimpin umat Islam. Islam pun sebagai agama kasih sayang tidak bisa mengelak dari arus pertumpahan darah di tengah egosentris kesukuan yang mengemuka: era jahiliah kembali terjadi.

Satu jam setelah Nabi wafat, majelis Syura yang diprakarsai Ibnu Ubaidah tiba-tiba digelar untuk memilih pengganti Nabi sebagai pemimpin umat Islam. Pertikaian di antara umat Islam pun sudah tak bisa dibendung lagi.

Di setiap momentum suksesi kepemimpinan umat Islam beriring dengan pertumpahan darah, karena pemberontakan selalu mengemuka. Empat orang yang ditetapkan sebagai pengganti Nabi, hanya Abu Bakar yang wafat secara normal. Lainnya, meregang nyawa di ujung pedang umat Islam sendiri.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Sabilus Salikin (53): Dasar-Dasar Tarekat Ghazaliyah

Hingga hari ini pelbagai konflik yang mewarnai Timur Tengah jika dirunut ke belakang berasal dari dua arus utama dalam tubuh Islam, yaitu Sunni-Syiah dengan diperparah faktor eksternal (negara-negara adikuasa). Sebagaimana digambarkan dalam buku ini Arab Saudi dan Iran (dua negara representasi Sunni-Syiah) terus menerus berebut pengaruh.

Arab Saudi tiada henti memainkan serta menyokong kelompok-kelompok garis keras (tentu dengan dukungan Amerika) guna menanamkan pengaruh dan mengamankan kepentingan bisnisnya dari campur tangan Iran. Sementara Iran, dalam hal ini Mahmud Ahmadinejad, menyebarkan virus anti-Amerika dan anti-Israel dengan memainkan doktrin Sang Mahdi, imam yang diyakini kaum Syiah sebagai pembebas di akhir zaman.

Konflik Sunni-Syiah makin runcing ketika pada Februari 2006 kelompok ekstremis Sunni al-Qaidah menaruh bahan peledak di seluruh masjid Askariyah di Samarra.

Bagi kaum Syiah masjid ini tidak hanya menyimpan makam imam kesepuluh dan kesebelas tetapi di sana ada “Sumur Gaib”. Suatu gua yang diyakini kaum Syiah di mana imam yang kedua belas turun dan menghilang, untuk kemudian kelak kembali lagi.

Ringkas kata, melalui pendekatan psikologi buku ini memetakan aktor penting asal-usul perpecahan Sunni-Syiah dalam tubuh Islam: Ali, Aisyah, Muawiyah, Hasan, dan Hussein. Peran ke lima tokoh ini diurai begitu memikat oleh Lesley Hazleton. Karenanya, membaca buku ini bagai membaca sebuah novel, emosi kita dibius mengikuti setiap alur cerita yang terdedah, tidak seperti membaca buku-buku sejarah pada umumnya yang begitu kaku. Wallahu ‘alam

Keterangan Buku

Baca juga:  Sabilus Salikin (28): Hati

Judul: After The Prophet

Penulis: Lesley Hazleton

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Penerjemah: Muhammad Isran

Penerbit: IRCiSoD

Tahun terbit: November 2018

ISBN: 978-602-7696-68-6

 

 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top