Sedang Membaca
Danarto Memegang Allah Lebih Dekat
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Danarto Memegang Allah Lebih Dekat

Rizka Nur Laily Muallifa

Juang, anak usia SMP yang telah membaca hampir seluruh buku karya Danarto. Beberapa waktu lalu, bersama ayahnya ia melayat ke rumah duka penulis idolanya itu di Sragen. “Kalau Danarto dikubur di Jakarta, pasti banyak orang yang melayat,” ujar Juang –yang sebelumnya diam saja— di atas boncengan motor ayahnya menuju jalan pulang. Itulah kalimat pertama yang dikatakan Juang dalam peristiwa melayat Danarto.

Juang ialah anak penulis asal Karanganyar, Yuditeha. Yuditeha bercerita bagaimana ia turut memikul keranda, turut mencangkul liang kubur sebab sedikitnya jumlah orang yang ada. Sampai-sampai oleh ustaz yang hendak mendoakan jenazah, ia dikira keluarga almarhum Danarto.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pengembaraan Danarto ke Jakarta sejak belia membuat sosoknya telanjur asing bagi penduduk tanah kelahirannya. Kendatipun demikian, ia memilih dimakamkan di sana. Itulah kepulangan Danarto yang sesungguhnya. Toh, di manapun jasadnya bersemayam, doa baik menggema dari berbagai penjuru daerah. Ia dikenang bersama dengan karya-karya besarnya.

Acara tahlilan buku Danarto digelar di Warung Arsip di bilangan Yogyakarta beberapa waktu silam.

Di Solo, Danarto diziarahi dengan membincangkan 9 bukunya: Orang Jawa Naik Haji + Umrah (Divapress, 2016), Gergasi (Divapress, 2016), Godlob (2017), Gerak-gerik Allah (Risalah Gusti, 1999), Berhala (Divapress, 2017), Adam Ma’rifat (Basabasi, 2017), Asmaraloka (Divapress, 2016), Ikan-ikan dari Laut Merah (Divapress, 2016), dan Setangkai Melati di Sayap Jibril (2016).

Baca juga:  Palestina Sebagai Laila

Yang lebih riuh ialah munculnya beragam tulisan mengenang beliau di laman-laman daring sebagai respon sigap atas berita kematiannya pada satu malam yang hitam.

Bermain-main dengan Allah

Dalam karya Danarto, lema Allah baik secara gamblang atawa mewujud simbol-simbol berserak di mana-mana. Dalam buku kumpulan cerpen Adam Ma’rifa (Basabasi, 2017) , Allah ngejawantah di mana-mana, tak henti-hentinya.

Allah ada dalam sosok Jibril yang kendatipun di awal cerita diperkenalkan sebagai malaikat pembagi-bagi wahyu bagi para nabi, ia toh kemudian punya kuasa yang agak musykil dipunyai seorang malaikat. Apakah Jibril bisa serta merta menghantarkan hujan khusus di satu bangunan sekolah dasar? Apakah betul Jibril punya kuasa sedemikian rupa?

Jibril tak lain dan tak bukan ialah Allah yang ngejawantah. Dalam cerpen lain, Adam Ma’rifat, zat asam, komputer, SMPVTU, Ng, Ngung, K, Cak, ssszzzzzz, matahari, lonceng, sebuah kota suci, tari bedoyo: ialah Allah yang ngejawantah.

Ialah Allah yang senantiasa ngejawantah dalam kebanyakan karya Danarto. Allah, zat yang transenden itu berkait erat dalam seluruh pernak-pernik kehidupan kita. Adalah agak keliru apabila bahasan mengenai Allah perlu dihindari sebab Ia dianggap konklusi sehingga akan membatasi daya ekplorasi pikir kita. Danarto nyatanya ialah satrawan, perupa cum budayawan yang memegang Allah lebih dekat dus tak kehilangan keberaniannya berpikir lebih dalam dan “liar”.

Baca juga:  Sistem Tulisan dalam Bahasa Jawa

Bagi Danarto, Allah ialah zat asam yang darinya “banyak pelajaran bagus-bagus didapatkan. Tidak hanya pesan yang terucap lewat mulut, tapi juga pikiran-pikiran (makhluk-makhluk hidup, pen) dihantarkannya ke mana mereka suka” (Danarto, 2017: 45).

Allah versi Danarto tak mungkin berpisah dengan diri kita selaku manusia. Allah ialah nyawa kita sendiri.

Saya musti mengamini Mahfud Ikhwan, ia berani bertaruh apabila ada pembicaraan mengenai gejala sufisme dalam sastra di Indonesia, Danarto tak mungkin abstain dari penyebutan.

Pada tahun 1980an, Danarto bersama Emha Ainun Nadjib, Mustofa Bisri, Gus TF Sakai, serta Iwan Simatupang ialah para penulis yang dominan dan produktif pada tema sufistik (Andri Saptono, 2018: 2).

Sastrawan, budayawan sekaligus ahli filsafat Abdul Hadi W.M. (1999) berpendapat bahwasanya karya-karya Danarto memperlihatkan kecenderungan sufistik serta gagasan-gagasannya memiliki pertalian dengan gagasan para sufi.

Danarto dalam Keseharian

Hadir dalam diskusi buku-buku Danarto di Solo (11/5/2018), ialah Bambang Bujono: seorang karib Danarto di Jakarta. Sekira tahun 1974 sepulangnya dari Iowa, Danarto yang tak punya rumah sempat menumpang hidup di rumah tinggal Bambang Bujono. Musabab tak bisa mengetik cepat ketika penerbit memintanya segera menyelesaikan draft tulisan,

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Danarto meminta bantuan Bambang Bujono untuk mengetik cerita-ceritanya yang kemudian terbit dengan judul Godlob yang pertama kali diterbitkan oleh rombongan Dongeng dari Dirah.

Baca juga:  Obituari: Hamsad Rangkuti, Kebohongan yang Indah

Masih menurut Bambang Bujono, keputusan Danarto menulis karya sastra bermula dari keseriusannya bekerja sebagai penggarap ilustrasi cerita. Danarto ialah ilustrator yang membaca keseluruhan cerita dengan sungguh-sungguh demi ambisi menghasilkan ilustrasi yang baik bagi suatu karya tulis.

Pekerjaan membaca yang terus-menerus ditambah latar belakangnya sebagai seni rupawan yang terlatih jeli pada sekitar memperkuat daya penulisan Danarto yang deskriptif.

Pengalaman Bambang Bujono dan Halim HD mengenal Danarto dari dekat menyimpulkan kecondongan bahwasanya ia merupakan sosok sederhana yang karya-karyanya betapapun dibaca berulangkali tetap tak akan pernah selesai. Tak ubahnya Danarto yang terduga tak pernah memiliki konsep yang selesai saat akan berkarya – baik menulis atawa melukis. Ia membiarkan imajinasinya mengembara.

“Tanpa memberi isyarat, gerakan badan atau tangan, supaya saya begini atau begitu, malaikat itu bergulir lurus. Tak juga menoleh ke arah saya, seperti tak kenal atau tak mau tahu, malaikat itu melaju di atas permukaan sehingga saya cukup terbirit-birit mengikutinya. Alam sekeliling tampak berkabut, hening, dan sejuk” (Danarto, 2016).

Meski terbirit-birit, Danarto telah berhasil mengikuti malaikat. Alam di sekelilingnya tentu saja berkabut, hening, dan sejuk sekali. Tsah!

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top