Sedang Membaca
Sabilus Salikin (104): Macam-macam Zikir Tarekat Histiyah (2)
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Sabilus Salikin (104): Macam-macam Zikir Tarekat Histiyah (2)

Redaksi

Syaikh Kalimullah adalah seorang syaikh berkedudukan tinggi dalam Tarekat Hisytiyyah. Ia adalah khalifah dan murid Syaikh Yahyâ Madani Hisyti. Ia lahir pada tahun 1060 H/ 1460 M. Tanggal kelahIrannya diambil dari kata ghani. Ia meninggal pada tahun 1142 H/ 1720 M. Salah seorang muridnya mengambil tanggal kematiannya dari kata-kata dzât-i-pâk.

Dalam karyanya yang tak tertandingi, Kasykül, menjelang bagian akhir, ia menyuguhkan sebuah metode zikir khusus, yang menurut hematnya, cocok dan sesuai bagi murid yang bisa menggunakan “hak penafsIran individual”. Tujuan zikir ini ialah mencapai “pengetahuan yang serba meliputi” (‘ilm al-basith) dan kefanaan-diri di hadapan Zat Allah (fana’ fi Allah). Di sini kami suguhkan, secara sederhana dan bersahaja, inti dari apa yang telah dikatakan oleh Syaikh Kalimullah ini adalah anugerah tak ternilai bagi pencari yang bijak dan berilmu.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Katanya, “Sangat diharapkan bahwa jika seseorang beramal menurut metode di bawah ini, ia bakal keluar dari lubang “keterpisahan” (firâq) dan dalam waktu singkat akan mencapai puncak “kesatuan” (jam’).

  • Sang pencari mesti duduk dalam keadaan suci sempurna dalam tempat tersendiri. Ia mesti menutup matanya, menempelkan lidahnya ke langit-langitnya, dan berpikir bahwa hati jasmaninya menggumamkan Allah, Allah, bahwa ia tidak sedang mendengarkannya, tetapi bahwa ia akan berusaha mendengarkannya. Kemudian, ia mesti sepenuhnya berkonsentrasi untuk mendengarkannya. Dengan bantuan dan pertolongan Allah, ia akan merasakan ada sedikit gerakan dalam hati. Kini, ia tidak akan tahu apakah gerakan ini ada dalam hati, atau dalam napas, atau hanya sekadar dalam imajinasinya.Karena itu, ia harus lebih banyak berkonsentrasi lagi, agar gerakan ini bisa didengar dan keraguan bahwa yang demikian itu adalah gerakan pernapasan atau sekadar imajinasi yang bakal hilang sama sekali. Ia merasa pasti dan yakin bahwa hati itulah yang berdebar dan menggumamkan Allah, Allah. Dalam terminologi Tarekat Naqsybandiyyah, ini dipandang sebagai Lathifah al-Qalb yang menjadi aktif dengan mengingat Allah.Anugerah besar ini diperoleh sesuai dengan bakat dan amalan sang hamba. Sebagian memperolehnya dalam waktu singkat, sebagian lagi meraihnya dalam waktu lama. Sebagian memperolehnya dengan sedikit perhatian, sebagian lagi sesudah berusaha dengan keras. Akan tetapi, tak ada yang kecewa.
  • Manakala sang dzâkir telah mencapai tahap ini, ia mestilah memelihara dan mendengarkan gerakan ini, baik ketika sedang bersama orang lain ataupun sendirian. Ia harus diam, berusaha memeliharanya serta menjaganya agar terus bergerak. Sebab, mula-mula, gerakan ini sangat lemah, dan hambatan kecil saja bisa menghentikannya. Manakala anugerah besar ini telah diperoleh, ia tidak boleh meremehkannya, serta berusaha siang dan malam menjaga dan mengembangkannya.Untuk sementara waktu, shalat-shalat sunnah dan berbagai macam wirid bisa ditinggalkan, dan hanya shalat-shalat wajib saja yang dilakukan. Kadang-kadang, ia harus membuka matanya dan menikmati keadaan mistis ini, sampai akhirnya ia mengembangkan kemampuan itu. Bahkan ketika matanya terbuka, ia bisa memperhatikan hatinya yang bergumam. Keadaan ini disebut Khilwat dar anjuman (atau kemampuan menikmati kesendirian, meskipun sedang bersama orang banyak).

    Dengan rahmat Allah, keadaan ini makin bertambah kuat. Pada saat sedang lupa, keadaan ini mesti dibangkitkan kembali dengan sedikit perhatian. Sesudah ini, semuanya akan berlangsung lama dan tak ada satu rintangan pun bisa menghalanginya. Dalam keadaan ini, sang pencari memperoleh kelezatan dalam zikir, dan hatinya pun bakal damai dan tenang.

  • Ketika gerakan hati mencapai tahap bahwa sang dzákir mulai mendengar nama Allah yang penuh berkah dari lidah hatinya, dan mengetahui bahwa gerakan ini muncul dari hati, maka gerakan ini bisa disebarkan ke seluruh anggota badan lainnya. Demikianlah gerakan ini terjadi dan timbul pertama kali dalam sebuah anggota tubuh sang hamba: kadang-kadang di tangan, kadang-kadang di kepala, dan kadang-kadang di kaki, sekalipun sang hamba sama sekali tidak sengaja menggerakkan bagian anggota tubuh itu serta berkonsentrasi hanya pada hati saja.Ketika cahaya zikir mulai menyebar, maka cahaya ini pun menyelimuti seluruh tubuh dalam waktu sangat singkat, dan tubuh sang hamba pun (dari ujung kepala hingga ujung kaki) dipenuhi dengan Pada tahap ini, berbagai keadaan mistis pun dialami. Terkadang ia merasa bahagia, terkadang kesal dan bingung. Hanya saja, sang hamba mestilah berusaha untuk tidak memperhatikan keadaan-keadaan ini. Ia mesti terus-menerus melakukan zikir, yang merupakan tugas pentingnya.

    Dengan rahmat dan berkah Ilahi, zikir nama Allah pun memancar dari seluruh tubuhnya, dan segenap anggota tubuhnya berjalan selaras dengan hati. Dalam keadaan seperti ini, dominasi zikir bisa lebih besar pada satu bagian anggota tubuh dan lebih kecil pada anggota tubuh lainnya. Kadang-kadang, dominasi ini menembus semua anggota tubuh lainnya. Jika hal ini tersebar merata dalam seluruh tubuh, maka sang dzâkir merasa sangat gembira dan bahagia. Dalam terminologi kaum Sufi, yang demikian ini disebut sulthân adz-dzikr.

  • Pada tahap ini, Syaikh Kalimullahmengingatkan kita ihwal prinsip para sufi besar bahwa tujuan zikir adalah kefanaan-diri dalam Zat Mahabenar yang diingat, dan bukan kefanaan atas nama Zat Mahabesar yang diingat. Karena itu, sang hamba hendaknya tidak memusatkan perhatiannya pada sekadar mengucapkan kata Allah saja, entah kata ini diucapkan oleh lidah atau oleh hati.Meskipun mengamalkan yang demikian ini sangat bermanfaat dan seseorang memperoleh pahala, tak urung tanpa merasakan kehadIran Zat Mahabenar yang diingat, zikir ini tidak akan membimbing dan mengantarkan pada kehadIran Zat Mahabenar yang tengah dicari. Sebagaimana baru saja kami katakan, tujuan hakiki zikir itu adalah fana’ fi-Allah, atau kefanaan-diri dalam haribaan Zat Mahabenar; dan bukan menempel pada Nama-Nya.
  • Ketika sang hamba sampai pada tahap sulthân al-dzikr, kadang-kadang terjadi bahwa ia merasakan ada gerakan dalam nadi dan hatinya, yang sifatnya berbeda dari gerakan pertama. Misalnya saja, gerakan yang dihasilkan oleh zikir tidaklah bersifat terus-menerus, sementara gerakan baru ini bersifat terus-menerus.Dalam ungkapan lain, gerakan pertama menyerupai gerakan hu hu hu yang di situ ada jedanya, sementara gerakan kedua menyerupai hu yang dipanjangkan; dengan kata lain, gerakan pertama bersifât tidak teratur, Sementara gerakan kedua bersifat terus-menerus. Gerakan kedua lebih halus ketimbang gerakan pertama, dan bisa diRasakan sesudah banyak melakukan amalan.

Mesti juga kita perhatikan bahwa gerakan pertama, yang tidak bersifat terus-menerus, bisa diketahui dengan kata-kata hü, Allah atau Haqq, sebab setiap kata mempunyai bunyi yang memiliki awal dan akhir. Karena itu, setiap bunyi terputus yang memiliki awal dan akhir bisa diidentifikasi dengan sebuah kata yang terputus. Akan tetapi, gerakan kedua yang bersifat terus-menerus yang awal dan akhirnya tidak jelas, tidak bisa diidentifikasi dengan kata-kata yang terpisah atau terputus-putus. Oleh sebab itu, kita bisa mengidentifikasikannya dengan Zat Mahabenar yang diingat, dan bukan dengan zikir, yakni nama Zat Mahabenar yang diingat.

Baca juga:  Sabilus Salikin (102): Tata Cara Zikir Tarekat Histiyah (4)
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top