Tentang Kaum Sufi dan Pandangan “Banyak Jalan Menuju Tuhan”

Husein Muhammad

Gagasan ini tidak hanya milik Ibnu Arabi, melainkan juga milik hampir semua sufi Falsafi terkemuka lainnya. Jauh sebelumnya, doktrin ini menjadi corak sufisme Abu Yazid al-Bisthami (w. 875), Abu al-Qasim al-Junaidi (w. 911), Husein Manshur al-Hallaj (w. 922), Abu Hamid al-Ghazali (w. 1111) dan sang sufi penyair terbesar Maulana Rumi (w. 1274).

Ketika menjelaskan kata-kata ekstatis al-Hallaj yang terkenal “Ana al-Haq”, Maulana Rumi mengatakan:

“Ucapan ‘Aku adalah Kebenaran’, sejatinya sama dengan ‘Ana ‘Adam (aku tiada), dan Dialah Eksistensi Absolut. Tak ada Esksistensi Absolut kecuali Allah. Aku dgn seluruh eksistensiku adalah ketiadaan. Ana Lastu Syai’an’ (Aku bukanlah apa-apa).”

Maulana Rumi memberikan beberapa contoh mengenainya, antara lain yang menarik:

“Seekor singa menangkap rusa. Rusa berusaha melarikan diri dari singa. Maka ada dua keberadaan di sana: Singa dan rusa. Ketika Singa menangkap rusa dan rusa pingsan dlm cengkeraman Singa, maka yg tersisa hanyalah keberadaan singa, dan rusa menjadi lenyap.”

Tokoh lain mencontohkan dengan teori angka. Relasi antara angka satu dengan angka-angka yang lain dianalogikan sebagai relasi antara Tuhan dan ciptaan-Nya.

Baca Juga

Angka “satu” adalah Tuhan. Angka-angka lain adalah makhluk-Nya. Angka-angka yang ini terbentuk dan mewujud dari angka “satu”. Akan tetapi angka-angka ini sejatinya adalah repetisi (tikrar) dari angka “satu”. Maka plural sejatinya tidak ada, karena hanya merupakan angka satu yang diulang-ulang. Tetapi satu bukanlah angka, meski angka-angka yg terlahir darinya.

Para tokoh besar di atas dengan cara dan contohnya masing-masing dan dengan sebutan yang berbeda-beda sepakat pada ide tersebut. Ibnu Arabi menyebut, misalnya Tuhan dan Alam semesta. Tuhan adalah Wujud Tunggal Absolut, dan Alam semesta adalah tajalliyat-Nya.

Syeikh al-Kurani berkali-kali menyebut Tuhan sebagai “Wujud Mutlak” (Eksistensi Absolut), dan alam semesta adalah “Wujud Muqayyad” (Eksistensi yang terikat). Tanzih (Transendensi) dan Tasybih (Imanensi, keserupaan). Tanzih adalah Keniscayaan Tuhan dan Tasybih meskipun dimiliki manusia/alam, tetapi Tasybih Tuhan “Laisa Kamitslihi Syai’un” (Tan Kinaya Apa). Atau ‘apa yang kau bayangkan Dia bukanlah seperti itu’.”

Lihat Komentar (0)

Komentari