Sedang Membaca
Kebahagiaan Rohani dalam Hidup Manusia (2/3)
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kebahagiaan Rohani dalam Hidup Manusia (2/3)

R. Iffat Aulia Ahmad Argawinata

Derajat Fana’ dan Baqa’

Kini, tiba saatnya bagi kita untuk mengetahui apa sejatinya nilai-nilai Islam itu dan apa saja signifikansinya. Mengenai hal tersebut, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 112:

“Sungguh benar! Barangsiapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedangkan ia sendiri adalah seorang yang berbuat baik, ia akan memperoleh ganjaran yang telah tersedia di sisi Tuhannya. Ketakutan tak akan menimpa mereka dan tiada pula mereka akan bersedih.”

Menurut Ghulam Ahmad al-Qadiyani (w. 1908 M/1326 H) dalam Mir’at Kamalat al-Islam mengatakan ayat ini mencerminkan tiga nilai-nilai keluhuran Islam sekaligus tiga tingkatan kebahagiaan rohani. Derajat pertama adalah fana’ yang terefleksikan dalam ekspresi aslama wajhahu lillah. Selanjutnya, derajat kedua dan ketiga adalah baqa’ dan liqa’ yang masing-masing tergambar dalam ungkapan wa huwa muhsin dan fa lahu ajruhu ‘inda Rabbihi wa la khaufun ‘alaihim wa la hum yaḥzanun.

Tingkatan fana’ atau menyerahkan “wajah” kepada Allah berarti bahwa guna mereguk piala kebahagiaan, seseorang wajib menyuguhkan dan mempersembahkan segenap kekuatan, anggota tubuh, dan apa yang ia miliki ke hadirat Allah SWT serta mengosongkan diri dari gejolak dan kenyamanan pribadinya.

Penggunaan kata “wajah” dalam Surah al-Baqarah ayat 112–serta Ali ‘Imran 20, an-Nisa’ 125, dan Luqman 22–sebagai objek (maf‘ul bihi) dari verba aslama merupakan bukti yang agung terhadap keunggulan Alquran atas kitab-kitab terdahulu. Sebab, dalam skriptur-skriptur masa lampau, paralel dari kombinasi aslama wajhahu tidaklah ditemukan.

Tradisi Midrasy–tafsir Perjanjian Lama, misalnya, hanya menyebutkan variasi השלים נפשו (hisylim nafsyo) dan השלים עצמו (hisylim ‘aṣmo). Masing-masing dari keduanya mempunyai arti ‘menyerahkan hidupnya’ dan ‘menyerahkan hatinya’. Pada dasarnya, kedua frasa tersebut memberikan pengertian yang bagus.

Namun, keduanya bersifat partikular (juz’i), tidak universal (kulli). Seumpama hidup saja yang diserahkan, akan terdapat implikasi bahwa seseorang tak hendak merelakan kematiannya di jalan Tuhan. Demikian juga, seandainya hanya hati yang dipasrahkan, dapat disiratkan bahwa tubuhnya tak ingin ia tundukkan ke haribaan-Nya.

Baca juga:  Ben Anderson Memandang Pesantren

Sebaliknya, kata “wajah” yang dipergunakan oleh Alquran, menukil Al-Fairuzabadi (w. 817 H), berarti مُسْتَقْبَلُ كُلِّ شَيْئٍ, yakni ‘segala hal yang berada di depan suatu benda’. Atas dasar ini, seorang Muslim yang menyerahkan wajahnya kepada Allah mengisyaratkan bahwa, seperti dikatakan Ghulam Ahmad di atas, ia mencurahkan segenap upaya, kemampuan, kapasitas, dan kepemilikannya untuk Tuhan selagi membakar dalam dirinya sisa-sisa hawa nafsu. Alquran sendiri bericara tentangnya dalam Surah al-An‘ām ayat 162 di mana Allah berfirman:

“Katakanlah: Sesungguhnya, salatku, pengorbananku, kehidupanku, dan kematianku semata-mata untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam!” Menahem Kister, Islam: Midrashic perspectives on a Quranic term. Journal of Semitic Studies. 63(2):381-406; 2018.  

Baca Juga

Stase ini diistilahkan sebagai fana’–yang bermakna ‘hilang’ atau ‘musnah’–karena persona yang telah sampai kepadanya pada hakikatnya adalah orang mati yang telah berpisah dari segala keinginan ragawinya. Ia dinamai pula dengan istiqamah karena ia menuntut seorang salik untuk memperagakan kekokohan dan keteguhan tekadnya.

Di sini, ia merasakan bahwa ketenteraman (sakinah) dan kesentosaan (iṭmi’nān) bergelora dalam wujudnya, sedangkan malaikat datang sebagai penghiburnya. Dalam rangka mencapai kedudukan ini, terdapat delapan sarana (wasilah) yang harus dijejaki oleh salik dengan sungguh-sungguh, sebagaimana dalam Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani, Falsafat Ta‘alim al-Islam (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2011 M/1432 H), h. 152:

  1. Mengenal Allah secara sahih dan beriman kepada Tuhan yang hakiki;
  2. Mendapatkan gambaran yang jelas menyoal kejuitaan dan kejombangan Tuhan;
  3. Menginsafi kebaikan-kebaikan Allah Taala;
  4. Doa, yaitu menyampaikan keluh-kesah, perasaan getir, dan permohonan nan mendalam kepada Wujud Yang Mahakuasa;
  5. Mujahadah, yakni mengerahkan harta, tenaga, waktu, dan akal pikiran di jalan Tuhan;
  6. Istiqamah dalam artian bahwa seseorang tidak bosan, lelah, putus asa, serta gentar ketika datang waktu ujian;
  7. Bersahabat dengan orang-orang salih dan mengamalkan teladan-teladan suci mereka;
  8. Mendapat bimbingan ilahi secara langsung melalui kasyaf, wahyu, dan mimpi-mimpi yang benar.

Fana’ merupakan tingkatan terakhir di mana manusia dituntut untuk berletih-letih demi meraih kecintaan ilahi. Begitu fase ini berhasil disuluki olehnya, ia secara otomatis masuk dalam fase baqa’ tanpa jeda sedikit pun.

Pada stase ini, ia mengindra suatu kehidupan baru yang merasuk dalam setiap zarahnya setelah sebelumnya mati dari segala hawa nafsu pribadi. Ia kini mampu menyaksikan cahaya samawi yang, berkat kehadirannya, semua hijab yang menghalanginya dari Tuhannya lenyap tak berbekas. 

Dengan takbir lain, cinta yang dengan penuh ketulusan ia simpuhkan di hadapan singgasana Tuhan sekarang telah berbalas. Sebagaimana pasangan maskulin dan feminin yang saling bercinta menghasilkan buah hati, sebuah entitas pun lahir dari perpaduan antara cintanya dan cinta Allah. Entitas tersebut dikenal dengan ruh al-quds yang menyala dalam jiwanya. 

Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top