Ahmad Hakim Jayli
Penulis Kolom

CEO TV9 Nusantara, Televisi Kaum Santri. Penikmat sastra, Pegiat media Nahdlatul Ulama dan Pesantren.

Puisi Terbaru D. Zawawi Imron: Virus Corona dan Belalang

1 A D Zawawi

Dari peraduannya di ujung timur Pulau Garam, Madura, tepatnya dusun Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Kiai D. Zawawi Imron unjuk bicara tentang Corona. Kiai penyair berjuluk Si Celurit Emas ini berbicara dari sisi kebeningan hati dan kesendiriannya.

Dalam sebuah video berdurasi empat menitan, Kiai Zawawi memekikkan kata dengan suara melengkingnya yang khas di tengah persawahan tak jauh dari kediamannya. Sebuah dusun yang dia lukiskan terletak di lembah sebuah bukit, yang di pinggir-pinggir dusunnya masih hutan belukar. Pada pagi hari, matahari terbit dari celah bukit. Dan jika kebetulan bulan purnama, bulan akan muncul dari puncak siwalan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kiai Zawawi yang biasanya bak raja di istana riuh tepuk tangan para pencinta sastra, sebulan terakhir menepi, menyatukan diri dengan peluk udara dusunnya yang asri nan bisu. Jauh dari akting apa yang dia sebut sebagai belalang yang mengaku elang, petualang yang mengaku pahlawan.

Di mata hati Kiai Zawawi, Corona hanyalah sebuah pembuktian berikutnya, betapa Tuhan bila menunjukkan kuasa-Nya maka yang ada adalah Dunia yang kian terasa kecil, tertutup kebesaran Tuhan yang tiada sanding, tiada banding.

Berikut puisi TIARAP karya KH D. Zawawi Imron yang dikirimnya untuk TV9 Nusantara untuk mengetuk hati kita, (semoga bukan) para manusia belalang yang sedang tiarap ketakutan.
——–/

Baca juga:  Hikayat Bedug, dari Cheng Ho hingga Jadi Ikon Budaya Islam Nusantara

TIARAP

Ketika Allah menunjukkan kebesarannya
Dengan sebutir corona
yang menyerang tak pilih bulu, tak pilih pejabat atau orang melarat
Tak pilih profesor atau gelandangan yang kotor
Maka dunia menjadi gempar
Semua suara menjadi kira-kira
Otak dan pikiran yang selama ini cemerlang
Merasa cuma belalang
Tak berani mengaku elang

Tokoh-tokoh dunia yang kemarin congkak dan gagah
Kelihatan murung dan tidak berdarah
Yang kemarin bicara berkobar-kobar
Sekarang suaranya hambar

Padahal Tuhan cuma mengirim
Sezarrah debu tanpa suara yang terlepas dari ujung Alif-Nya
Yang meledak dalam bisu lalu terbang
ke sana dan ke mana-mana
Dunia seakan setengah porak poranda

Tetapi ya Allah
Kasih SayangMu masih tersalur
Lewat tindakan nyata para relawan
Yang berjuang di garis depan mengurus
Orang 2 orang yang serang corona
Mereka adalah Pahlawan Kemanusiaan

Saat puisi ini kutulis
Orang-orang hebat masih tiarap
Orang-orang besar dunia tampak seakan kerdil
Semua menjadi kecil
Bumi ini kecil
Bintang, bulan, dan matahari kecil
Alam semesta ini kecil
Engkau ya Allah, Engkau ya Allah hanya Engkau ya Allah
Yang Maha Besar
Allahu Akbar!!!

Sesudah ini semoga tak ada lagi
Belalang yang mengaku elang
Dengan beriman kepada Allah
Tak kan muncul petualang yang mengaku pahlawan

Baca juga:  Harlah NU dan Konfigurasi Seni Shalawat ala ISHARI NU
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Scroll To Top