Sedang Membaca
KH. A. Wahid Hasyim, Inisiator Integrasi Agama-Sains di Indonesia
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

KH. A. Wahid Hasyim, Inisiator Integrasi Agama-Sains di Indonesia

Ali Makhrus

Integrasi Agama dan sains merupakan isu penting dalam dunia pendidikan Islam abad 20 hingga saat ini. Tidak saja karena faktor kekalahan peradaban, melainkan juga karena faktor doktrin keagamaan yang dikotomistik.

Tradisi mengonsumsi masih lebih dominan dari pada tradisi memproduksi. Kita perlu berubah dari kebiasaan bersilat-lidah menuju kebiasaan pemecahan masalah, dari tabiat mauidzoh hasanah menuju tabiat uswah hasanah dan dari tradisi lisan kepada tradisi tulisan.

Gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan ini awal kali dilontarkan oleh Ismail Raji al-Faruqi (1926-1986), seorang tokoh kenamaan asal Palestina yang menamatkan kuliahnya di Temple University, Amerika Serikat pada tahun 1970. Ia menyebut ada empat alasan peradaban Islam dianggap merosot, kalau tidak boleh dikatakan tidak jelas alias mandeg.

Alasan pertama karena ada “proses penyempitan makna fikih serta status fakih yang jauh berbeda dengan para pendiri madzhab, pertentangan antara wahyu dan akal, keterpisahan anatar kata dan perbuatan, serta sekulerisme dalam memandang budaya dan agama” (Ismail Raji al-Faruqi, Islam and Purpose of Knowledge1970: 32).

Akibatnya, peradaban Islam mengalami banyak krisis, yang antara lain: kemuduran umat, kelemahan umat, stagnansi pemikiran umat, absennya ijtihad umat, absennya kemajuan kultural umat, dan tercerabutnya umat dari norma-norma dasar peradaban Islam (Abdul Hamid Abu Sulayman, Islamizations of Knowledge with Special Reference to Political Sciene, 1985: 263). Pendapat tokoh ini patut direnungkan, karena hal ini menyangkut doktrin Islam tentang fungsi manusia yang tidak hanya sebagai abduallah, tetapi juga sebagai kholifah fi al-ardh (the leader of earth).

Optimisme islamic learning di Indoensia diprediksi akan terjadi karena didukung oleh, keterbukaan, kebebasan dan toleransi yang dimiliki bangsa Indonesia. Ronal A Lukens-Bull, guru besar University Of North Florida, berpandangan, “American students, professors, and every day people got see in actions, the liberal and tolerant islam with which those of us who specialize in Indonesian Islam have long been familiar“.

Baca Juga:  Ketika Gus Dur Meriwayatkan Sebuah Kuburan

Para mahasiswa Amerika, serta setiap orang Amerika dapat menyaksikan penerapan Islam yang bersifat liberal dan toleran, khususnya Islam Indonesia yang telah lama terkenal akan hal itu. Hal senada disampaikan oleh Basaam Tibi, salah satu guru besar University of Harvad,“that Indonesia Islam is the best model for how global Islam should develop, yang arti bebasnya bahwa Islam Indonesia adalah model terbaik bagi Islam dunia untuk berkembang”. Peryataan Ronal A Lukens-Bull dan Bassam Tibi terdapat dalam kata pengantar buka karya Abdurrahaman Mas’ud, Menggagas Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Religius Sebagai Paradigm Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Gama Media, 2002), viii.

Sebagai acuan historis, sebagai murid intelektul-imajiner KH. A. Wahid Hasyim (1914-1953), secara pribadi, saya perlu merujuk kembali semangat yang dibangun oleh anak pendiri NU, Hadratusyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ri (1871-1947) ini. Dua dasawarsa lebih enam tahun sebelum Ismail Raji al-Faruqi berkumandang, ayahanda presiden RI ke-4 KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (1940-2009) ini telah lebih dulu menerapkan apa yang kita kenal sekarang sebagai modernisasi pendidikan Islam, yang dalam hal ini diwujudkan dengan berdirinya Madrash Nidzamiyah (MA) di pesantren Tebuireng pada tahun 1934.

Pendirian lembaga MA dua tahun lebih awal dari Kulliyatul Mua’llimin al-Islamiyah Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo yang baru dicetuskan pada  1936, yakni setelah kepulangan KH. Imam Zarkasyi (1910-1985) dari rihlah ilmiyah-nya ke berbagai pondok pesantren di Jawa dan Sumatera.

Pada lembaga MA Tebuireng ini, menurut Ronal A Lukens-Bull, hampir 70% menggunakan kurikulum (baca: materi pelajaran) non-agama, bahasa asing, dan ilmu eksakta, dan 30% sisanya materi agama. Telah lumrah dan jamak saat kontroversi atas keberanian menerjang sekat-sekat ortodoksi keagamaan tradisional membawa dampak memicu emosi pihak kontra-perubahan. Akan tetapi, iktikad yang kuat untuk memberikan manfaat bagi manusia (anfa’uhum li an-nas), akan berubah seperi kapal Nuh yang akan mengantarkan pada keselamatan dan kelahiran tunas-tunas baru yang lebih baik.

Baca Juga:  Mu'minah binti Bahlul dari Damaskus

Dalam konteks modernisasi pendidikan Islam, menarik diingat dan kalau perlu dibuat wiridan setiap saban bakda salat, apa yang sudah sering disampaikan oleh tokoh brilian yang wafat muda ini, “man ‘arofa lughota qaumin amina min syarrihim yang artinya “barang siapa yang menguasai (mengerti) bahasa suatu kaum, maka dia akan selamat (aman) dari tipu daya mereka”. Penguasaan bahasa asing atau aseng (bahasa penjajah konteks waktu itu) oleh Kiai Wahid telah dipropagandakan kepada segenap ‘Kaum Sarungan’ sejak 84 tahun yang lalu.

Tidak hanya melalui mimbar-mimbar layaknya tukang mauidzoh hasanah, bahkan cucu kiai Ilyas Sewulan Madiun ini telah mengejawentahkan dalam lembaga pendidikan yang diampunnya sebagai wujud uswah hasanah. Dengan kata lain, pondasi modernisasi ala pendidikan Islam pesantren sudah banyak dimulai dan dipelopori Menteri Agama RI tiga periode tersebut. Hanya saja, ketidakramahan selalu menyertai setiap praktek dari tiap-tiap ide segar menuju perubahan-perubahan lebih baik, al-ishlaah ilaa maa huwa al-ashlah, meminjam istilah KH. Ma’ruf Amin.

Baca Juga
Waktu dalam sejarah

Terkait tema ini, Prof. Komaruddin Hidayat, mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pernah mengatakan saat memberikan sambutan dalam acara “Religion, Philosopy and Sciene” pada 16 Februari 2015 di UIN Jakarta, bahwa kemandegan pendidikan Islam Indonesia tidak lain karena bangsa ini masih menguras dan mengerahkan energi, pikiran, jiwa dan hati mereka untuk untuk keperluan kekuasaan, dan bahkan cenderung tidak ramah dengan perubahan atau bid’ah-bida’ah dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Baca Juga:  Film Pahlawan Islam bagi Anak dan Remaja

“Mungkin saja motto al-muhafadzatu alal qadimis shalih wal al-akhdzu bil jadidil ashlah “menjaga yang lama yang baik (agama), dan mengambil yang baru yang lebih baik (sains)”, akan lebih tepat jika diganti dengan redaksi al-muhafadzatu alal qadimis shalih wal al-bid’atu bil jadidil al-ashlah,  “menjaga lama yang baik (agama), dan membuat/mencipta yang baru yang lebih baik (sains)”, dan itulah watak sains,” pungkasnya.

Jika Kiai Wahid Hasyim telah memulai integrasi Islam dan sains melalui Madrasah Nidzamiyah, maka saat ini kita sebagai penerusnya seharusnya bergerak lebih jauh, yakni dengan mulai menggali lebih dalam bagaimana landasan Islam yang kita punya dapat mengembangkan sains. Sudah bukan lagi saatnya untuk mengatakan bahwa fikih ialah ilmu agama dan matematika ialah ilmu dunia yang tidak ada hubungannya dengan agama.

Segala ilmu yang dapat memberi manfaat umat maka dia menjadi bagian dari agama dan menekuninya dapat menjadi ibadah. Pernyataan Prof Komarudin diatas mendorong kita sebagai umat Islam untuk menjadi pencipta perubahan, pencipta ilmu pengetahuan dan teknologi baru, bukan saja sebagai pengguna.

Umat Islam tidak boleh lagi menjadi penonton saja akan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terbarukan di abad ini. Umat Islam harus mulai terbuka fikirannya dengan meyakini bahwa ibadahnya tidak melulu pada konteks ibadah mahdah, namun juga ibadah juga dapat dilakukan dengan ikut berkontribusi dalam menciptakan perubahan melalui pengembangan sains untuk kehidupan masyarakat yang jauh lebih baik.

Lihat Komentar (0)

Komentari