Sedang Membaca
Mencari Titik Temu Islam Nusantara dengan Islam Persia
Purkon Hidayat
Penulis Kolom

Penikmat kopi pahit, buku, musik, dan keheningan malam. Bekerja di media, pengajar, peneliti, dan koordinator Gusdurian Tehran.

Mencari Titik Temu Islam Nusantara dengan Islam Persia

1 A Diskusi Khazanah Nusantara

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno dalam pidato bersejarahnya pada 17 Agustus 1966 mengatakan, “Abraham Lincoln berkata: ‘One cannot escape history, orang tak dapat meninggalkan sejarah’, tetapi saya tambah: ‘Never leave history’ (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah); inilah sejarah perjuangan, inilah sejarah, history-mu. Peganglah teguh sejarahmu itu, never leave your own history! Peganglah yang telah kita miliki sekarang, yang adalah akumulasi dari pada hasil semua perjuangan kita di masa lampau,”.

Bagi saya, statemen bapak proklamator kemerdekaan Indonesia tersebut relevan dengan pembahasan kita mengenai urgensi studi khazanah Nusantara di tanah Persia. Saya mencoba menelisik masalah ini dengan menggunakan pisau analisis hermeneutika sejarah, terutama dari filsuf Jerman Wilhelm Dilthey(1833–1911) untuk menemukan konteks kebaruannya saat ini. 

Pertama, khazanah Nusantara sebagai sumber “tambang” penggalian nilai, tujuan dan makna. Saya memandang sejarah bukan sebagai disiplin ilmu tentang rangkaian peristiwa masa lalu yang bersifat partikular semata. Tapi, ilmu kemanusiaan yang mengandung nilai, tujuan dan makna sebagai “tambang” pengetahuan yang harus terus digali hingga kini. 

Mengamini Louis Gottschalk (1969), kebenaran dan makna hidup dapat ditemukan di dalam sejarah. Sebab di dalamnya terdapat unsur-unsur universal yang bisa diperoleh melalui proses pengalian yang kontinyu. Sejarah harus menjadi sebuah usaha untuk menggali nilai-nilai yang memberikan pedoman hidup masa kini. Dalam perspektif hermeneutika sejarah Dilthey, sebuah karya yang berisi nilai, tujuan dan makna tidak bisa dilepaskan dari penulisnya sebagai para pelaku sejarah, dan juga konteksnya yang dinamis. Dari sini, penggalian khazanah Nusantara sebagai tambang pengetahuan menemukan konteksnya.  

Kedua, Khazanah Nusantara sebagai “benteng”. Sejarah dalam perspektif Dilthey tidak bisa dilepaskan dari Weltanschauung atau pandangan dunianya. Dalam konteks kewargaan, penggalian khazanah Nusantara sebagai bagian penting dari ketahanan nasional. Sebab, ketahanan nasional juga membutuhkan kekuatan diskursus yang matang dan kuat. Isu terorisme dan radikalisme misalnya, bisa ditangkal dengan penguatan wacana sebagai bentuk peningkatan kesadaran tentang ketahanan nasional. 

Selama ini wacana transnasional, termasuk dari Timur Tengah begitu deras memasuki Tanah Air. Tapi, pada saat yang sama relatif kurang diimbangi dengan diskursus pengimbangnya. Meskipun masuknya wacana transnasional memberikan kontribusi positif, namun acapkali berdampak sebaliknya. Penggalian Khazanah Nusantara sebagai “benteng” penguatan ketahanan nasional untuk menangkal dampak negatifnya.

Ketiga, Khazanah Nusantara sebagai “jembatan”. Manusia dalam hermeneutika sejarah Dilthey, memiliki kesadaran yang tidak bersifat mekanistik, sebagaimana penjelasan ilmu alam, karena keduanya berbeda. Studi kebudayaan, terutama sejarah, tidak akan bisa meraih pengetahuan yang dicari tanpa das verstehen, pemahaman yang mencakup kesadaran diri. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pemahaman terhadap sebuah karya tokoh tertentu tidak hanya cukup dengan membaca baris perbaris tulisannya, atau kata-katanya saja. Tapi perlu mengungkap pikiran, perasaan dan keinginannya, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai karya tersebut. Dengan cara ini orang tidak akan tergesa-gesa memberikan label-label tertentu yang mungkin cenderung bersifat pejoratif terhadap pihak lain. 

Bagi saya, das verstehen yang dikemukakan Dilthey sebagai basis teori yang memadai untuk menempatkan posisi kita terhadap Khazanah Nusantara. Sebab di dalamnya membuka ruang yang luas bagi interaksi gagasan dari peristiwa sejarah yang kompleks dan global. 

Di satu sisi, penggalian khazanah Nusantara sebagai langkah penting untuk memperkuat posisi “daya tawar wacana” Indonesia di Timur Tengah. Selama ini para tokoh nasional Indonesia tidak banyak dikenal di Iran, bahkan Timur Tengah.Tapi belakangan mulai terlihat perkembangan yang optimistis, terutama setelah Prof Quraish Shihab mendapat bintang tanda kehormatan dari Mesir baru-baru ini. 

Di Iran sendiri sejak beberapa tahun lalu sudah mulai dilakukan kajian serius mengenai tokoh Nusantara dan Asia Tenggara, sebagaimana dilakukan lembaga riset seperti Ensiklopedia Dunia Islam. Fenomena penting juga terlihat dari dibukanya program studi Asia Tenggara di pascasarjana fakultas Ilmu politik dan hukum Universitas Tehran dan pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi terkemuka Iran ini. Beberapa tesis sudah menggali isu tentang Indonesia, meskipun kebanyakan masih berada di ranah ekonomi dan politik. Selain itu, orang-orang Iran juga cukup antusias mengikuti program bahasa dan budaya Indonesia melalui program Darmasiswa dan lainnya. 

Tidak hanya itu, dalam dua tahun terakhir, para pemikir kontemporer Indonesia seperti KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur Dur dan Nurcholis Madjid maupun Hamka mulai dipresentasikan oleh para mahasiswa Indonesia program doktoral di Universitas Al-Mustafa Tehran, dan Universitas Studi Agama dan Mazhab Qom. Meskipun agak terlambat dan intensitasnya masih relatif kecil. tapi pergerakannya semakin meningkat, sehingga diharapkan akan menjadi bola salju dari kecil membesar yang terus menggelinding kencang. 

Di sisi lain, penggalian nilai universal sejarah sebagai usaha membangun jembatan yang menjadi “titik temu” dan “interaksi kontruktif” antarbudaya dan peradaban.

Barangkali, salah satu contoh terbaik dari titik temu peradaban Timur dan Barat bisa ditemukan dalam karya sastra penyair terkemuka Jerman, Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832)  dengan magnum opusnya “West–östlicher Divan”, sajak Barat-Timur. 

Pada awalnya, Goethe mengenal karya puisi Hafez melalui terjemahan Divan Hafez oleh Joseph von Hammer Purgstall. Tapi kemudian, ia merasa perlu memperlajari bahasa Persia demi mendukung pemahamannya lebih utuh terhadap karya Hafez. Interaksi kontruktif secara timbal balik disumbangkan Goethe dengan karyanya yang menginspirasi banyak pemikir Muslim, termasuk Muhammad Iqbal Lahore.

Interaksi konstruktif ini juga terjadi dalam konteks interaksi budaya Nusantara dan Persia. Ulama terkemuka Nusantara abad ke-16, Hamzah Fansuri, yang disebut sebagai bapak sastra Melayu klasik, dalam berbagai syairnya banyak dipengaruhi oleh sastra Persia. Tapi pengaruh ini bersifat positif dan terbukti memperkaya Khazanah Nusantara.Tidak salah jika sejumlah sarjana mengungkapkan hubungan erat antara bahasa Farsi dan Melayu juga Indonesia. Persoalannya studi tentang masalah ini masih sangat minim.

Indonesianis asal Belanda, Martin Van Bruinnessen dalam berbagai karyanya mengungkapkan interaksi yang terjalin kuat antara ulama Kurdi dan Persia dengan Nusantara. Bagi saya, benang merah jaringan ini penting digali untuk menemukan nilai, makna dan tujuan sebagai peta jalan membangun peradaban baru. 

Para pemikir besar dunia, semacam Goethe hingga Fansuri berhasil menelorkan karya monumentalnya yang terinspirasi dari pemikir lain dengan menyerap spirit das verstehen, memahami dengan tulus dan utuh. Pemikiran mereka juga melahirkan reaksi positif dari pemikir lainnya, hingga terbangun peradaban baru. Sayangnya, interaksi wacana seperti ini mulai memudar di tengah meningkatnya unilateralisme kekuatan dominan global. 

Dalam konteks hubungan budaya Nusantara dan Persia, persoalan yang terjadi saat ini cenderung masih searah. Padahal, jembatan perlu dibangun dari dua arah. Menggali dan mengenalkan Khazanah Nusantara di Iran adalah upaya melanjutkan pembangunan jembatan budaya yang separuhnya sudah terbangun. 

Baca juga:  Fenomena Duel ala Gladiator
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top