Sedang Membaca
Harmoni dalam Surah al-Fatihah
Hamam Faizin
Penulis Kolom

Peminat Kajian Alquran. Sekarang sedang menyelesaikan Program Doktoral di Sekolah Paska Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Harmoni dalam Surah al-Fatihah

Al-Qur’an itu seperti permata, yang setiap sisinya memancarkan cahaya bagi yang mendekati atau melihatnya. Setiap orang tentu memiliki cara dan metode tersendiri dalam mendekati dan melihat Al-Qur’an. Sujiwo Tedjo misalnya, ia merasakan betapa indahnya Al-Qur’an dari sisi musikalitas, sajak, irama dan ritmenya, ketika ia membaca surat al-‘Ala. Cari di Youtube ya. Meskipun ia tidak paham makna dan tidak tahu perangkat keilmuan untuk menafsirkannya, Tedjo merasakan ada sesuatu yang indah.

Muhammad Nursamad Kamba dalam Kids Zaman Now: Menemukan Kembali Islam (2018) mengatakan: “Al-Qur’an bukanlah teks bacaan sebagaimana teks-teks lainnya yang dimengerti kandungannya hanya dengan mengikuti logika bahasa. Pesan-pesan Al-Qur’an tidak hanya bisa dimengerti melalui mekanisme bahasa tetapi juga lewat bunyi dan musik pembacanya.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa setiap manusia pada hakikatnya memiliki potensi yang beragam untuk mendekati, memahami, dan merasakan Al-Qur’an.

Tulisan ini mencoba memahami Al-Qur’an bukan dari sisi bahasa, tetapi dari sisi struktur. Ide besar tulisan ini berasal dari artikel Muntasir Mir, dengan judul “Contrapuntal Harmony in The Thought, Mood, And Structure of Surah al-Fatihah, dalam Renaissance, Vol. 9. No. 1, 1999, dengan beberapa modifikasi penjelasan.  Judul artikel tersebut bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kira-kira seperti ini Contrapuntal Harmony dalam Gagasan, Mood dan Struktur Surah al-Fatihah.

Apa itu contrapuntal harmony? Sesuatu yang contrapuntal itu biasanya berhubungan dengan counterpoint, yang merupakan jenis musik yang memiliki dua garis melodi yang dimainkan pada waktu yang sama, namun menjadi perpaduan bunyi yang enak didengar. Jadi contrapuntal harmony itu semacam keseimbangan dari beragam bunyi yang berbeda-beda sehingga membentuk sebuah harmoni. Kita akan lebih paham setelah rampung membaca tulisan ini.

Oh ya, Muntasir Mir adalah profesor Islamic Studies di Youngtown State University, Amerika Serikat. Ia kelahiran Pakistan. Ia memperoleh gelar Ph.D dari Michigan State University, Amerika Serikat. Ia banyak menulis artikel dan buku bertemakan al-Qur’an.

***

AL-FATIHAH adalah surah pertama di dalam susunan mushaf Al-Qur’an. Surat ini menjadi pembuka Al-Qur’an . Oleh karenanya disebut al-Fatihah, pembuka. Sebagian ulama menamainya dengan Ummul Qur’an (induk Al-Qur’an) sebab al-Fatihah memuat ajaran-ajaran inti dari Al-Qur’an.

Sudah banyak ulama yang menafsirkan makna dari setiap kata dalam surah ini secara terperinci. Oleh karena itu, tulisan ini tidak akan menafsirkan –dalam arti memaknai setiap kata dan kemudian mengungkapkan maksudnya– namun berusaha menyingkap rahasia struktur surah al-Fatihah, yakni adanya struktur kesimbangan (harmony) dari sejumlah sisi seperti struktur gramatikal dan muatan atau isinya.

Baca juga:  Jangan Diam, Lawas Teroris!

Untuk memudahkan analisis, bismillah tidak dibahas. Untuk menunjukkan adanya nilai-nilai keseimbangan dalam sejumlah hal di surah ini, mula-mula surat akan dibagi ke dalam dua bagian utama.

Bagian pertama terdiri dari ayat 1-3 (alhamdulillahirabbil alamain, arrahmanirrahim, maliki yaumiddin). Bagian kedua terdiri dari ayat 5-6 (ihdinassiratal mustaqim, siratalladhina an ‘amta alaihim ghairil maghdhubi alaihim waladdhallin). Sedangkan ayat 4 (iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in) adalah penghubung antara dua bagian tersebut. Mari kita mulai analisisnya.

Bagian KeduaPenghubungBagian Pertama
اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَإِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُالْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَمَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ

 

Kalimat nominal dan verbal.

Dalam tata bahasa Arab, ayat 1-3 berbentuk kalimat nominal (jumlah ismiyah). Sementara ayat 5-6 adalah kalimat verbal (jumlah fi’liyyah). Sedangkan ayat 4 yang berada di antara dua bagian utama tersebut memiliki dua kualitas (nominal dan verbal) atau disebut Jumlah Dzatu Wajhain (kalimat dengan dua-wajah), yakni jumlah ismiyyah yang memiliki khabar berupa jumlah fi’liyyah. Ayat 4 inilah yang memiliki fungsi memudahkan perubahan atau perpindahan dari kalimat nominal menuju verbal sehingga perpindahannya terasa begitu halus, tidak mengejutkan.

Dalam ilmu kaidah tafsir, kalimat nominal memiliki fungsi untuk menyatakan sesuatu yang permanen, abadi (Dawam/being). Sementara kalimat verbal berfungsi untuk menyatakan sesuatu yang terjadi, baru (hudust/becoming) atau lawan dari dawam. Jadi, pujian (tsana’) kepada Allah, sifat ar-Rahman dan ar-Rahim, serta sifat Raja di hari Akhir (ayat 1-3) merupakan sesuatu yang abadi dan permanen.

Sedangkan bagian kedua berupa jumlah fi’liyyah (kalimat verbal) yang berisi permintaan untuk ditunjukkan jalan yang lurus merupakan sesuatu yang becoming, sesuatu yang terus-menerus dilakukan. Di sini keseimbangan tersebut terjadi, yakni adanya kalimat nominal dan verbal yang seimbang yang ditengah-tengahi oleh jumlah dzatu wahjain (ayat 4).

Pikiran dan Aksi

Kalau dibaca secara saksama, bagian pertama, ayat 1-3 berisi gagasan atau pikiran tentang Tuhan pelantan semesta alam dan sifat-sifatnya. Sedangkan di bagian kedua, berdasarkan refleksi atas gagasan dan pikiran tersebut, manusia mulai melakukan (aksi) yakni meminta tolong, beribadah kepadanya dan minta ditunjuki jalan yang benar atau lempang (meminjam terjemahan HB. Jassin). Dengan kata lain, pikiran dan gagasan tentang Tuhan dan dua sifatnya telah mengantarkan pada sebuah aksi atau pergerakan. Di sinilah  terdapat keseimbangan antara pikiran, ide, pemahaman dan aksi atau pergerakan. Jadi, secara muatan, al-Fatihah mengajarkan kepada manusia untuk menyeimbangkan antara gagasan (pikiran, ide) dan aksi. Tidak hanya mikir melulu, tetapi juga melakukan sesuatu.

Baca juga:  Jihad itu Mudah, Syahid itu Sulit

Interaksi Tuhan dan Manusia

Menurut surah ini, manusia membutuhkan bantuan Allah dan sudah seharusnya memohon bantuan itu (ihdinasshiratal mustaqim). Namun, di sisi lain, Tuhan tidak hanya memperhatikan urusan manusia, tetapi juga melakukan intervensi di dalam sejarah manusia dengan menyediakan segala kebutuhan manusia. Oleh karena itu, terjadilah interaksi timbal balik antara Tuhan dan manusia. Interaksi tersebut tercermin dalam surah ini. Bagian pertama dinyatakan bagaimana Tuhan dihubungkan dengan semesta alam (dalam rabbil ‘alamin) dan dihubungkan dengan manusia secara khusus (maliki yaumiddin / Raja di hari pembalasan, membalas amal-amal manusia). Sementara bagian kedua menyatakan bagaimana seharusnya manusia berhubungan dengan Tuhan Sang Pencipta yakni meminta ditunjukkan jalan yang lurus. Jadi, terdapat saling interaksi, dari Tuhan ke manusia dan dari manusia ke Tuhan.

Temporal dan non-temporal

Bagian pertama, ayat 1-3 secara gramatikal adalah kalimat nominal. Kalimat nominal itu tidak memiliki keterangan waktu (tense), sehingga ini menunjukkan non-temporality (tidak berwaktu). Jika ayat 4 kita tinggalkan sejenak, maka ayat 5-6 juga membentuk satu kalimat, yakni verbal. Kalimat verbal memiliki keterangan waktu (tense) sehingga menunjukkan temporality (keberwaktuan). Bagian pertama (ayat 1-3) merupakan realitas ketuhanan (divine reality), yang tak terbatas waktu dan bagian kedua (ayat 5-6) merupakan  realitas manusia yang terbatas waktu. Tuhan yang melampaui batas waktu berhubungan dengan dunia manusia yang terbatas waktu. Sedangkan ayat 4, yang menghubungkan dua bagian utama surah ini merupakan sebuah deklarasi atau ikrar oleh manusia yang terbatas untuk pasrah kepada yang Tak Terbatas dan sebuah seruan kepada Yang Tak Terbatas agar masuk ke dalam dunia yang terbatas.

Inisiatif dan Respons

Bagian pertama (1-3) merepresentasikan inisitif dari Tuhan, yakni bersifat pengasih dan penyayang dan maha Raja. Tuhan menunjukkan rahmatnya kepada manusia. Bagian kedua (5-6) menujukkan respons yang dilakukan manusia: manusia berserah diri kepada Tuhan. Dari sisi yang lain, respons manusia ini juga merupakan inisitif: manusia menyadari diri untuk menyembah Tuhan dan menjali hidupnya sesuai dengan ajaran-ajaran-Nya. Untuk inisiatif ini, respons Tuhan, seseorang dalam mengambil kesimpulan dari bagian kedua ayat yang terakhir (Sirāta ‘lladhīna an`amta `alayhim, ghayri’l-maghdūbi `alayhim wa-la d-dāāllīn), akan menjadi bahwa Dia akan memberikati mereka yang mengikuti Jalan yang Lurus dan melaknat mereka yang berjalan di jalan yang sesat.

Baca juga:  Hudan lil Muttaqin: Taqwa dan Sikap Sumarah

Dunia dan Akhirat

Meskipun kedua bagian utama surah ini merujuk pada dunia dan akhirat, namun fokus utama pada bagian pertama adalah dunia (terdapat konteks dunia di mana menusia berefleksi tentang alam ini). Dan bagian kedua berfokus pada akhirat (terdapat konteks keselamatan akhirat yang dicari manusia). Namun pada saat yang sama, pada bagian pertama Allah sebagai Raja di Hari Pembalasan (ayat 3)juga merujuk pada hari Kiamat dengan istilah yang jelas. Sementara bagian kedua (yang berisi tentang keselamatan dan hukuman diperoleh berdasarkan atas kebaikan dan keburukan yang dilakukan di dunia) menjadi sesuatu yang pasti. Di sinilah, perhatian Allah kepada urusan dunia dan akhirat seimbang. Dunia adalah ladang akhirat dan akhirat adalah tujuan manusia. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Harus sama-sama diperhatikan secara seimbang.

Individu dan sosial

Kalau Anda membaca surah al-Fatihah, terutama ketika membaca bagian pertama (ayat 1-3), posisi Anda adalah sebagai diri individu, yakni diri pribadi yang memuji Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Namun, begitu Anda membaca ayat 4 dan bagian kedua (ayat 5-6), diri Anda berubah menjadi diri sosial (kolektif). Hal ini ditunjukkan dengan adanya perubahan (iltifat) dari pembicara tunggal menjadi pembicara plural, yakni dengan dhamir (kata ganti) nun pada kata na’budu (kami menyembah), nasta’in (kami meminta tolong) dan ihdina (tunjukilah kami). Dari sini seolah-olah surah al-Fatihah mengajarkan agar kesalehan individu iu bisa membawa kepada kesalehan sosial atau kolektif. Atau dengan kata lain, harus ada keseimbangan antara kesalehan individu dan kesalehan sosial.

***

Keseimbangan-kesembangan di dalam surah al-Fatihah tidak hanya ditunjukkan pada tujuh hal di atas saja tetapi masih banyak lagi lainnya, seperti adanya keseimbangan antara persepsi dan konsepsi, emosi dan kognisi, serta priviles dan tanggung jawab.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pada surat pertama dalam mushaf Al-Qur’an ini, manusia sudah diajarkan cara hidup yang seimbang. Nilai keseimbangan ini  memang penting bagi manusia yang hidup di tengah-tengah berbagai paham, pemikiran dan aksi kehidupan yang ekstrim. Kiranya, sabda Nabi Muhammad saw sebaik-baik urusan itu yang pertengahan (khairul umuri ausatuha), kini menemukan momentumnya. Kata pertengahan (ausatuha) mengandaikan adanya keseimbangan dalam merespons berbagai persoalan. Walhasil, baru dilihat dari strukturnya saja surat al-Fatihah sudah memberikan pelajaran yang banyak, belum makna-makna dari setiap kata dan kalimatnya.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top