Sedang Membaca
Corona: Praktik Keagamaan dan Praktik Sekuler
Penulis Kolom

Pemerhati budaya dan antropolog di Institute for Social Anthropology, Austrian Academy of Sciences, Wina, Austria.

Corona: Praktik Keagamaan dan Praktik Sekuler

1 A Martin Slama

Seturut merebaknya virus Corona ke hampir semua negara di dunia, kesadaran kita tentang bagaimana kita sebaiknya bertindak dalam kemelut ini meningkat. Ahli virus di mana-mana menghimbau tanpa ragu-ragu bahwa kita harus mengambil jarak sesama manusia. Tujuannya adalah agar virus Corona ini tidak bisa melompat dari satu orang ke orang lain.

Kelihatannya, kebijakan “jaga jarak” dan “saling jaga” ini merupakan kunci supaya kita bisa mengatasi masalah virus ini. Maka tidak mengherankan bahwa di banyak negara imbauan ini menjadi aturan yang diawasi oleh polisi dengan ancaman denda yang cukup berat untuk orang yang melanggarnya. Oleh karena itu banyak di antara kita merasa cukup terganggu oleh orang yang mengabaikan imbauan tersebut, apalagi dengan alasan ingin mengadakan atau ingin ikut serta dalam kegiatan keagamaan.

Baru-baru ini Moch Nur Ichwan, cendekiawan kondang dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, mencerahkan kita di Alif.id tentang landasan teologis dalam agama Islam yang jelas-jelas melarang tindakan yang mengakibatkan penyebaran wabah. Ada pertanyaan penting yang diajukan Moch Nur Ichwan dalam esainya: siapa yang bertanggungjawab atas kelakukan itu (mengabaikan kesepakatan bersama menghindari wabah dengan tidak membuat kegiatan keagamaan)?

Moch Nur Ichwan mengambil kesimpulan bahwa kegiatan keagamaan yang ramai tidak mungkin dilakukan tanpa persetujuan pemimpin agama.

Akibatnya di banyak negara, bukan hanya di Indonesia, ada saja kelompok yang tetap melalukan pertemuan massal yang bersifat keagamaan. Misalnya di Korea Selatan ada kelompok orang Kristen yang bersikeras untuk bertemu seminggu sekali meskipun sudah terjadi banyak infeksi Corona di antara mereka. Yang terakhir yang saya baca adalah bahwa negara Korea Selatan sekarang mempersiapkan langkah hukum terhadap pemimpin gereja tersebut. Mirip dengan kasus itu, di Malaysia dan Indonesia ada kelompok muslim yang juga tetap melakukan pertemuan sampai ingin mengadakan kegiatan massal yang dibatalkan di Indonesia setelah kegiatan yang sama di Malaysia mengundang banyak kritik karena mengakibatkan infeksi Corona. Masih ada banyak contoh lain dari hampir semua pelosok dunia yang menunjukkan perlawanan kelompok agama terhadap kebijakan anti-Corona.

Tetapi pada saat yang sama kita juga harus mengatakan bahwa di setiap agama besar hanya kelompok-kelompok kecil yang menunjukkan kelakuan seperti itu. Mayoritas pemimpin agama mendukung kebijakan mengambil jarak sesama manusia di negara masing-masing, demikian pula di Indonesia, supaya krisis ini bisa diatasi secepat mungkin.

Baca juga:  Kasidah Pujian Orang Morisko untuk Nabi

Sebagai seorang antropolog saya justru tertarik pada minoritas yang menunjukkan perlawanan itu. Ketika saya membaca di media daring bahwa ada fenomena-fenomena seperti itu saya teringat pada buku After the Fact yang ditulis antropolog Clifford Geertz. Buku itu merupakan sebuah otobiografi ilmiah, dimana Geertz menceritakan mengenai perjalanan hidupnya sebagai seorang antropolog dan penelitiannya di Indonesia dan Maroko.

Salah satu episode menceritakan perjalanan Geertz di Aceh ketika dia bertemu dengan seorang ustaz di sana. Pertemuan itu terjadi dua tahun setelah astronaut-astronaut Amerika Serikat pergi ke bulan tahun 1969. Ustaz itu bertanya kepada Geertz apakah dia percaya bahwa atronaut-astronaut Amerika benar-benar mendarat di bulan. Geertz menjawab bahwa dia percaya itu, sedangkan ustaz itu bilang bahwa seorang muslim tidak mungkin percaya itu berdasarkan suatu hadis yang mengatakan bahwa ada samudra besar antara bumi dan bulan. Seandainya astronaut-astronaut Amerika pergi ke sana, mereka akan melubangi samudra itu dan dunia seharusnya tenggelam, kata ustaz itu.

Baca tulisan menarik:

Geertz yang bukan ahli hadis dan tidak ingin menyakiti hati ustaz itu, mencoba mengakhiri perdebatan itu. Namun, ustaz itu menjelaskan lagi bahwa Tuhan bikin bulan palsu untuk astronaut-astronaut Amerika itu karena Tuhan tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah berusaha keras untuk pergi kesana. Geertz sulit mencari jawaban lagi dan hanya bilang, mungkin lain kali sebaiknya seorang muslim juga ikut terbang ke bulan.

Saya teringat pada cerita Geertz itu karena saya melihat ada kemiripan antara ustaz dari Aceh di awal tahun 1970an itu dan agamawan di dalam dan di luar Indonesia di zaman sekarang yang menolak kebijakan untuk menghalangi penyebaran virus Corona. Dengan mengakui ada astronaut-astronaut Amerika pergi ke bulan dan dengan menuruti kebijakan anti-penyebaran virus seseorang juga mengakui bahwa ada otoritas di luar agama kita masing-masing, yaitu otoritas ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi orang tidak bisa pergi ke bulan, dan tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi kita tidak bisa keluar dari kemelut Corona ini. Itu tidak berarti bahwa ilmuwan tidak boleh dikritik atau penelitiannya tidak boleh dipertanyakan –dunia ilmu pengetahun malah hidup dari sikap yang kritis.

Baca juga:  Tradisi Tumbuk Uli dan Aduk Dodol Betawi di Penghujung Ramadan

Bagaimanapun, kenyataannya adalah bahwa obat dan vaksin Corona yang sedang dikembangkan dibuat oleh ilmuwan, bukan agamawan. Saya kira, untuk kebanyakan orang yang beragama kenyataan ini tidak menjadi masalah. Namun di sisi lain, kita juga menyaksikan sebagian kecil kelompok agama yang sulit menerima kenyataan ini. Kelihatannya, mereka punya semacam rasa “kecemburuan” terhadap ilmuwan dan dunia ilmu pengetahun pada umumnya. Bagi mereka, rupanya, tidak boleh ada sumber kebenaran di luar dunia agama mereka.

Tentunya fenomena ini bukan hal yang baru. Pertentangan ilmuwan dengan agamawan itu punya sejarah panjang. Contoh yang barangkali paling terkenal adalah permusuhan antara pemimpin gereja dan cendekiawan Galileo Galilei di abad ke-16 ketika Galileo dipaksa mencabut pernyataannya bahwa bumi mengelilingi matahari dan tidak sebaliknya seperti diajarkan oleh gereja. Pada jaman itu gereja cemburu sekali dengan Galileo karena dia menemui kebenaran baru, sedangkan gereja punya pendirian bahwa kebenaran hanya boleh ada di tangan gereja, dan gereja saja yang boleh menyebarkannya. Yang kita bisa menyimpulkan baik dari kasus Galileo maupun dari kasus Corona dewasa ini adalah bahwa orang atau lembaga yang hanya mengakui satu otoritas pengetahuan memang gampang merasa cemburu.

Bagaimana masalah Corona dan praktik keagamaan di masyarakat yang makin sekuler seperti di Austria? Tentunya, wabah Corona bukan wabah yang pertama yang melanda Austria. Seperti di negara-negara Eropa lainnya, dulu di Austria penyakit pes mematikan banyak orang sehingga raja Austria menjanjikan akan membangun semacam monumen sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan setelah wabah yang ganas itu berakhir. Monumen itu berada di tengah kota Wina dan bernama Pilar Penyakit Pes (Pestsäule) yang diselesaikan tahun 1693, beberapa tahun setelah badai penyakit pes berlalu, dan menggambarkan kebesaran Tuhan (dalam bentuk trinitas Katolik), keagungan gereja dan kejayaan kerajaan. Pilar itu sudah beberapa kali direnovasi dan sekarang menjadi salah satu obyek wisata andalan di kota Wina. Banyak turis suka ambil foto dan selfie (pakai tongsis atau tidak) di depannya. Sedangkan orang Wina sendiri mengabaikan tempat itu sama sekali yang sudah dikuasai oleh wisatawan mancanegara. Rupanya, unsur keagamaan bangunan itu sama sekali hilang. Menariknya, baru-baru ini setelah virus Corona juga memasuki kota Wina, makna Pilar Penyakit Pes mulai berubah lagi. Tiba-tiba ada orang yang meletakkan lilin, buku doa dan gambaran anak di kaki pilar itu. Di tengah krisis Corona muncul praktik keagamaan baru di masyarakat yang katanya sekuler dan Pilar Penyakit Pes diartikan sebagai Pilar Penyakit Corona dengan maksud agar wabah Corona cepat berlalu.

Baca juga:  Menyimpan Kata Kafir, Kunci Perdamaian di Pantura Subang

Yang jelas, praktik keagamaan baru ini tidak membahayakan orang lain karena orang menaruh lilin sendiri atau bersama dengan anggota keluarga inti. Ini bukan kegiatan yang dilakukan ramai-ramai. Selain itu, di Austria semua pemimpin agama besar setuju dengan kebijakan pemerintah dan semua kegiatan massal di gereja, masjid, dan vihara ditiadakan. Akibatnya, virus Corona tidak menyebar lewat kegiatan agama. Tetapi virus itu jelas menyebar yakni lewat kegiatan sekuler. Banyak kasus Corona terjadi di desa-desa wisata di pegunungan Alpen yang menjadi pusat penyebaran virus di Austria. Setiap musim dingin banyak wisatawan dari dalam dan luar negeri datang ke pegunungan Alpen untuk main ski yang berhubungan erat dengan suatu budaya yang bernama Après-Ski, artinya “setelah main ski”.

Sore hari para wisatawan turun dari gunung dan langsung menuju tempat bar untuk berpesta. Mereka menikmati suasana santai dengan ngobrol, minum dan dansa-dansa, dan jelas mereka tidak mengambil jarak sesama manusia.

Di tempat seperti itu, virus Corona dengan gampang bisa melompat dari orang ke orang. Sayangnya, itu yang banyak terjadi. Sekarang, pemerintah lokal di daerah itu dikritik keras karena mereka tidak langsung menutup desa-desa wisata itu setelah kasus-kasus Corona yang pertama muncul. Dugaannya adalah bahwa mereka tetap buka karena mereka ingin tetap berbisnis. Rupanya, bukan kecemburuan yang menjadi masalah di sini tetapi kerakusan. Sekarang semua desa itu ditutup untuk umum terkecuali untuk kejaksaan yang sudah mulai investigasinya.

Saya menyampaikan cerita-cerita ini karena, untuk saya, membandingkan suatu fenomena di tempat dan waktu yang berbeda di bumi manusia ini selalu menarik. Tetapi saya rasa kita bisa juga mengambil pelajaran dari cerita-cerita ini yang sangat sederhana tetapi perlu: apakah orang ingin melakukan kegiatan keagamaan atau kegiatan sekuler?

Sekarang saatnya agar kita “jaga jarak” dan “saling jaga”!

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
2
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top