Sedang Membaca
Pemimpin Agama, Virus Corona, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan Kita
Penulis Kolom

Bekerja di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pendidikan S3 diselesaikan di Tilburg University, S2 di Leiden University, dan S1 di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pernah belajar juga di Pondok Pesantren Darul Hikam Joresan, Ponorogo, Jawa Timur.

Pemimpin Agama, Virus Corona, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan Kita

Hari Santri: Bagaimana Hubungan NU dan Muhammadiyah?

Akhir-akhir ini ada sejumlah warga yang melantunkan doa tolak bala dengan berkumpul dan berkeliling kampung. Bukan hanya di satu tempat saja, di beberapa tempat lain kegiatan serupa juga dilakukan. Beredar berita juga bahwa akan ada peringatan Maulid yang dimaksudkan juga untuk berdoa tolak bala.

Maksud mereka bagus, melawan Covid-19, dengan pendekatan agama, yakni berdoa kepada Allah, karena wabah ini makhluk Allah. Dengan doa mudah-mudahan Sang Pemilik wabah itu menghapuskannya. Doa ini tentu tidak salah dari segi isinya. Namun cara yang mereka lakukan tidak benar. Kenapa?

Karena justru bertentangan dengan sunnatullah terkait wabah, yang tidak pandang pilih orang sedang berdoa atau tidak, beriman atau bukan. Mereka berdoa dengan cara yang justru mendekatkan mereka pada cara-cara wabah itu menyebar, yakni berdekatan secara fisik dan berkerumun dalam jumlah besar, tanpa diketahui apakah ada yang terdampak covid-19 atau tidak.

Siapa yang paling bertanggungjawab di sini? Tentu adalah orang yang memobilisasi mereka. Siapa yang memobilisasi? Yang paling mungkin adalah pemimpin atau orang yang berpengaruh dalam masyarakat. Kecil kemungkiannnya dilakukan orang biasa. Dan karena ini terkait dengan doa tolak bala, kemungkinan paling besar mereka adalah pemimpin keagamaan. Mereka memiliki otoritas di mata masyarakat untuk memimpin doa dan aktivitas keagamaan lainnya. Atau pemimpin ‘sekular’, tapi meminta pemimpin agama memimpin doa tolak bala itu. Jika pun demikian, pemimpin sekular dan agama itu bermasalah dengan pengetahuan mereka, baik pengetahuan tentang covid-19, maupun pengetahuan keagamaan mereka. Buktinya mereka mengadakan kegiatan yang justru kontradiktif dengan tujuan mereka: melawan wabah covid-19. Jika ada yang terjangkit di antara mereka penyebarannya justru lebih efektif. Tentu kita berdoa, semoga saja tidak. Tetapi, dalam kondisi semacam ini, kehati-hatian (ihtiyath) dan menjaga keselamatan jiwa (hifz al-nafs) harus diprioritaskan.

Baca juga:  Magnet Guru Sekumpul dan Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Pertanyaannya, mengapa masih ada, jika tidak masih banyak, pemimpin masyarakat yang belum tahu tentang bahaya covid-19 dan bagaimana menghindarinya? Tampaknya cara edukasi yang dilakukan pemerintah yang IT-based itu perlu diikuti dengan cara-cara tradisional. Informasi melalui media sosial itu niscaya karena lebih cepat. Tetapi perlu ada perpanjangan tangan manual, untuk menjangkau orang-orang yang tidak punya akses media, atau punya akses tetapi gagap atau abai. Tentu bukan dengan cara mengumpulkan mereka. Cara-cara tradisional lewat towa keliling, towa masjid, radio, tv, dan media kertas yang berisi surat himbauan dan info-info tentang bahaya virus ini, fatwa-fatwa MUI, ulama-ulam dunia, dan lain-lain, tetap penting dilakukan, terutama di desa-desa. Edukasi pemimpin masyarakat ini penting karena banyak masyarakat di akar rumput percaya kepada mereka. Ketidaktahuan pemimpin masyarakat berdampak luas pada masyarakat yang dipimpinnya.

Karena sentralnya pemimpin masyarakat, terutama tokoh agama dalam konteks masyarakat religius, maka penyebaran informasi dan strategi melawan wabah di akar rumput penting melibatkan mereka. Problem pengetahuan ini harus diatasi. Jangan lagi pemimpin agama yang bilang, “Kita jangan takut pada virus tetapi takutlah kepada Allah.”

Mempertebal iman itu penting, bahwa ini semua tidak mungkin terjadi tanpa izin Tuhan, tetapi harus pula ditekankan bahwa Tuhan tidak akan menghilangkan wabah ini tanpa usaha manusia sendiri untuk melenyapkannya dengan cara-cara yang sesusi dengan sunnatullah wabah ini. Ilmu tentang sunnatullah ini ada pada para ilmuwan, saintis, dokter, atau yang memiliki otoritas.

Baca juga:  Nahdlatul Ulama Sesudah Ini (Bagian Kedua)

Para ulama perlu belajar bagaimana Rasul mengedukasi umat, supaya mereka menghindari wabah sebagaimana menghindari harimau, dan supaya orang tidak datang ke wilayah terdampak wabah, dan orang yang berada di wilayah terdampak tidak keluar dari daerah itu. Juga penting ulama menekankan kejujuran menyampaikan kepada petugas medis jika memang sakit dengan gejala-gejala mirip virus covid-19 atau baru pulang dari daerah terdampak, supaya tidak merugikan petugas medis, keluarga, tetangga, dan orang lain. Ada yang karena ketidakjujuran ini petugas-petugas medis harus dikarantina, juga keluarga dan para tetangganya.

Al-nasu a’dau ma jahilu, manusia itu memusuhi hal-hal yang tidak dia ketahui. Kebodohanlah yang membuatnya bukan hanya masa bodoh tetapi juga melakukan hal-hal yang membahayakan bagi dirinya dan orang lain. Ketidaktahuan itu kemudian menjadi musuh bagi manusia.

Semua kita harus mempelajari dengan baik dan benar apa itu wabah ini, bagaimana cara kerjanya, bagaimana mencegahnya, justru karena kita umat beriman, agar kita, umat beriman, apalagi pemimpin keagamaan, tidak justru menjadi penyebab dari penyebarluasan wabah covid-19 ini, karena ketidaktahuan kita, kemasabodohan kita, kebodohan kita.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
3
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top