Sedang Membaca
Kekerasan Terhadap Ulama dan Refleksi Keberagamaan Kita
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Kekerasan Terhadap Ulama dan Refleksi Keberagamaan Kita

M. Fahruddin Al Mustofa
Kekerasan Terhadap Ulama dan Refleksi Keberagamaan Kita

Miris, sungguh miris sekali. Tatkala mendengar kabar duka penganiayaan dan kekerasan terhadap seorang kyai, ulama, masyayikh dan para guru ngaji yang telah mendedikasikan ilmu, waktu juga tenaganya untuk kepentingan umat.

Yang lebih heran lagi, respon masyarakat yang seakan-akan menganggap hal super serius ini menjadi hal yang lumrah. Kenapa? Coba kita lihat apa saja yang telah terjadi akhir-akhir ini serta hubungannya degan banyaknya korban kekerasan dari kalangan kyai, ulama dan para masyayikh.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kasus yang terakhir dan masih hangat adalah penganiayaan terhadap pengasuh Pondok Pesantren  Al-Hidayah Cicalengka Jawa Barat, KH Umar Basri alias Ceng Emon/Mama Santiong, pada Sabtu, 27 Januari 2018. Sejumlah berita menyebutkan bahwa para jamaah salat subuh telah meninggalkan masjid, kecuali pelaku penganiayaan, meski lampu masjid sudah dimatikan oleh santri. Kiai Umar Basri masih membaca wirid ketika tiba-tiba pelaku memukulnya bertubi-tubi menggunakan tangan kosong.

Sebelumya pelaku menendang kotak penyimpanan amplifier sambil berkata-kata dalam bahasa Sunda, “ini pinarakaeun (ini alat menuju neraka)”. Sambil dikatakan berulang-ulang, dan tersangka berkata lagi, “nu didiyeu punarakaeun kabeh (yang di sini calon penghuni neraka semua)”. Sungguh miris.
Penganiayaan ulama di Timur Tengah

Masih ingat dengan beberapa waktu lalu postingan dari laman Facebook Al Habib Ali Al-Jufri yang menyebutkan angka korban pembunuhan dari kalangan para ulama timur tengah yang dilakukan oleh para teroris-ekstrimis telah mencapai angka 186 pada tahun 2016 kemarin. Dan tentunya angka itu pasti akan terus bertambah hingga waktu yang akan datang.

Baca juga:  Ketika Imam Nawawi Belajar Nahwu pada Imam Ibnu Malik

Belum lama, masih terngiang di ingatan kita, tragedi pemboman masjid Ar-Raudah dan disusul dengan penembakan beruntun dari orang yang tidak diketahui identitasnya. Menurut penyelidikan, para pelaku berafiliasi kepada Isis. Tragedi berdarah ini menewaskan 235 orang ditambah dengan 120 korban mengalami luka-luka.

Kita juga masih ingat tentang percobaan pembunuhan kepada mantan Mufti Mesir Syeikh Ali Gomaa yang hendak memasuki masjid guna melaksanakan shalat Jumat. Beberapa tersangka telah menembakkan peluru dengan sasaran sang mufti, tapi untungnya peluru tersebut tidak mengenai tubuh Syeikh Ali dan beliau pun selamat. Naasnya peluru itu mengenai salah satu pengawal yang sedang melakukan penjagaan ketat terhadap Syeikh. Kasus ini diduga, didalangi oleh kelompok Islam garis keras dari ormas Ihwanul Muslimin.

Jikalau kita masih ingin merawat ingatan kita, maka kasus syahidnya ghozali Al-ashr, Syahidul Mimbar Al-Alim Al Allamah Said Ramadhon Al-Buthi pasti akan mengiris hati seluruh umat muslim di seluruh penjuru bumi. Bagaimana tidak, sosok yang begitu teduh, kharismatik, dan penuh dengan kedamaian walaupun hanya melihat wajah dan suara beliau dari layar kaca.

Setelah dentuman bom yang memporak-porandakan masjid, kemudian disusul beberapa tikaman dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Dengan masih menggenggam mushaf, beliau kembali ke hadirat Allah karena memang Dia telah sangat merindukan kekasihNya yang satu ini.

Baca juga:  KH. Muhammad Tholhah Hasan, Kiai Produktif dari Malang

Dari rangkaian peristiwa penganiayaan dan pembunuhan yang telah dilakukan oleh para ekstrimis yang mengaku pengamal Islam paling benar. Sehingga tega memenuhi nafsu liar mereka dengan menjadikan dalil-dalil Quran sebagai tameng kebiadaban mereka. Apakah ini yang diajarkan oleh Islam itu sendiri?

Secara ideologis, para ekstrimis ini menganut paham takfiri. Dalam artian mereka hanya menerima doktrin tentang paham-paham keislaman secara instan dan tekstual. Ditambah pula ajaran untuk menyalahkan, mengkafirkan, membid’ahkan serta menghalalkan darah bagi siapa saja yang tidak sesuai dengan doktrin yang mereka terima.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tak ayal, dengan sedikit dalil jihad dan iming-iming bidadari dan bidadara yang tiada banding kecantikan dan ketampanannya, mereka siap melakukan jihad bunuh diri membela agama serta mengambil tiket jaminan masuk surga untuk membunuh orang kafir dan orang-orang yang telah melenceng dari agama Islam yang benar.

Disinilah letak posisi penting para ulama, kyai, guru-guru ngaji untuk menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang membebaskan dari kekerasan, penganiayaan dan pembunuhan kepada sesama manusia juga pada makhluk hidup lainnya. Islam yang sederhana, yang mengajarkan menghormati yang tua dan menyanyangi yang muda. Islam yang teduh bukan Islam yang gaduh. Tentunya dengan metode yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. dan dilanjutkan dengan para sahabat serta para ulama rabbani yang mencintai perdamaian lebih dari apapun.

Baca juga:  Kita Sebelum Dilahirkan

Satu lagi, akar terjadi ekstrimisme dalam agama adalah kesalahan memahami teks-teks agama yang bersifat debatable atau masih ikhtilaf di kalangan ulama. Tapi dipaksakan untuk menerima kebenaran versi pemahamannya saja. Hal ini disebabkan tidak adanya guru, mursyid yang dapat membimbing menuju pemahaman yang sesuai dengan Al-Quran dan Hadist. Juga silsilah mata rantai sanad keilmuan seorang guru sebagai cara menjaga kelestarian keilmuan Islam.

Untuk menutup tulisan ini, izinkan saya mengutip kata-kata Gus Dur yang fenomenal itu, “Berbuat baiklah, maka orang tidak akan bertanya apa agamamu.” Atau salah satu bait puisi dari penyair favorit saya, Joko Pinurbo, mungkin dapat sedikit merefleksikan kembali apa arti agama dan keberagamaan bagi kita semua. Dia berkata;

“Apa agamamu? Agamaku adalah air yang menghapuskan pertanyaannmu.”

Jadi masih bisakah kita hanya berdiam diri menunggu jatuhnya korban kekerasan yang menimpa para ulama, masyayikh dan guru-guru kita? Tanpa kita bergerak untuk menyebarkan paham keislaman yang merahmati seluruh alam. Minimal kita ajarkan anak-anak, sanak-famili, dan orang-orang terdekat kita untuk menjadi manusia terlebih dahulu, sebelum kita melangkah pada tingkat beragama tanpa tahu apa itu arti mengasihi dan apa itu arti saling memanusiakan manusia lain.

Waallahu alam bissawab

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top