Sedang Membaca
Riwayat Nabi Ibrahim dan Kitab-Kitab Samawi
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Riwayat Nabi Ibrahim dan Kitab-Kitab Samawi

Fuji Nur Iman

Beberapa abad setelah diutusnya Ibrahim sebagai nabi dengan misi risalahnya dan hanya meninggalkan kisah-kisah melalui bahasa lisan, dunia mulai kehilanganmeminjam bahasa Jan Romein—‘krisis kepercayaan’.

Jan Romein berpendapat bahwa dunia pernah mengalami krisis kepercayaan, kemudian datanglah beberapa orang yang berusaha mengatasi krisis kepercayaan tersebut. Hasilnya, terbitnya moralitas baru di kalangan umat manusia, di kawasan Huang Ho dan Yang Tse Kiang di Tingkok, lalu Konghucu dan Lao Tse, di anak benua India, Sidharta Gautama dengan membawa agama Budha di pinggiran sungai Gangga, di Persia muncul Zarathustra, di tepian sungai Nil lahir Fir’aun.

Dalam jangka waktu yang panjang sejak masa tersebut di antara praktik kepercayaan yang sudah mapan pada saat itu yakni Yahudi dan Nasrani, sekira 571 M, tepat ketika Muhammad sedang diliputi kegelisahan, keraguan, dan harapan akan kebenaran, di dalam gua Hira, ia menerima wahyu pertamanya yaitu QS. Al-Alaq 1-5 dan secara berangsur-angsur turun ayat yang lain sehingga menjadi kitab suci sebagai petunjuk kaum Muslim atau kemudian lebih dikenal dengan istilah Alquran.

Shuhuf Ibrahim dipercaya sebagai salah satu wahyu Tuhan yang disampaikan kepada nabi-Nya Ibrahim As. Nabi Ibrahim atau Abraham (dalam Tradisi Yahudi) sendiri di perkirakan lahir pada 2166 SM. Berasal dari negeri Ur, yaitu bagian dari negeri kuno yang berada dalam wilayah Mesopotamia kuno (antara sungai Eufrat dan Tignis).

Di lingkungan agama semitik, Nabi Ibrahim adalah figur sentral, ajaran-ajaran yang dibawanya merupakan asal-usul, bahkan fondasi agama Yahudi, Kristen, dan Islam.

Sementara dalam tradisi Islam, Ibrahim diyakini bukan hanya seorang nabi dan pewarta wahyu Tuhan, tapi juga Bapak Monoteisme yang kokoh serta diyakini pernah menerima kitab wahyu dari Allah yang dalam Alquran disebut dengan istilah “Shuhuf Ibrahim” (Q.S. 87: 19).

Moqsith Ghazali merujuk pada kitab al-Jami’ul Ahkamil Quran karya Al-Qurtubi berdasarkan riwayat Abu Zar mengatakan bahwa kitab yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim itu Shuhuf Ibrahim mengandung tamsil-tamsil dalam kehidupan, baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.

Baca juga:  Fenomena Duel ala Gladiator

Berita yang sama juga datang Rusydi al-Badrawi yang meyampaikan, berdasarkan hadis yang disampaikan oleh Abu Zar, tentang keterangan Rasulullah Saw bahwa Ibrahim As menerima sepuluh Shuhuf yang berisi tentang keimanan kepada Allah SWT dan berbagai tuntutan bagi manusia dalam menata kehidupan dan interaksi duniawi antar-sesama mereka, tuntutan bagi pembentukan akhlak luhur pada setiap pribadi dan pembentukan keluarga-keluarga yang saleh, seperti kewajiban memperlakukan orang tua dengan baik, lemah lembut terhadap istri, dan mendidik anak-anak dengan baik, serta di lingkup hukum syariah.

Shuhuf Ibrahim As berisi tentang larangan mencuri, memakan riba, berzina, membunuh, dan sanksi-sanksi bagi para pelanggarnya, hukum waris, dan keharusan meyantuni orang-orang fakir dan miskin.

Selain Shuhuf yang diturunkan kepada Ibrahim, kata Shuhuf dalam Alquran juga merujuk pada sebuah berita yang diturunkan kepada Nabi Musa As yang secara eksplisit disebut dalam Q.S. Al-A’la ayat ke 19. Selain itu, Alquran juga memberikan informasi lain tentang kitab-kitab samawi yang telah diturunkan sebelum datangnya wahyu kepada Muhammad Saw.

Misalnya, dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 87 yang memberikan laporan bahwa Tuhan telah mendatangkan Taurat kepada Musa As dan Alquran surah Ali Imran ayat 3 yang memberikan informasi telah diturunkannya Taurat dan Injil sebelum Alquran.

Ahmad Mustafa al-Maraghi mengatakan bahwa kata ‘Taurat’ berasal dari bahasa Ibrani yang artinya adalah syariat yang terdiri dari lima kitab, mereka mengatakan bahwa penulisnya adalah Nabi Musa As, yakni Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Lawiyin, Kitab Bilangan, dan Kitab Tatsniyatu I-Isytira’.

Meskipun tampaknya Alquran tidak memberikan informasi detail tentang Kitab Taurat, ayat-ayat tersebut secara eksplisit telah memberikan laporan bahwa terdapat kitab-kitab lain dalam Alquran yang diakui kebenarannya dan menjadi pedoman bagi kaum Yahudi dengan kitab Tauratnya dan Nasrani dengan Injilnya sebelum turunnya Alquran.

Baca juga:  Pengalaman Keluarga Kami Melakukan Salat Istikharah

Selain membenarkan adanya kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum datangnya risalah kepada Muhammad Saw, Alquran juga menyinggung bahwa terdapat perubahan (distorsi) yang dilakukan oleh beberapa orang dari kaum Yahudi dan Nasrani terhadap kitab mereka sendiri.

Dalam Q.S. Ali ‘Imran ayat 78 misalnya, diberitakan bahwa mereka telah memutar-mutar lidahnya ketika membaca Al-Kitab padahal ia bukan dari Al-Kitab. Senada dengan  adanya perubahan terhadap kitab terdahulu dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 79 juga diberitakan bahwa secara eksplisit terdapat orang-orang yang menulis Al-Kitab oleh tangan mereka sendiri, demi mendapat keuntungan atas apa yang mereka lakukan.

Mengutip apa yang telah disampaikan oleh H. Zuhri bahwa bagi Ibnu Hazm, seluruh isi Alquran adalah sesuatu yang benar adanya, dan kebenaran yang disampaikan Alquran telah terbukti adanya, pendapat Ibn Hazm ini ditujukan kepada agama Yahudi dan Nasrani yang telah melakukan tabdil (perubahan yang keliru) atas isi dari kitab-kitab suci mereka untuk menutupi atau mengubur informasi orisinil yang tertulis dalam kitab.

Dalam geliat perubahan Firman Tuhan yang dilakukan oleh beberapa orang, secara eksplisit Alquran kemudian menyinggung perihal adanya pembenaran (mushadiqqun) terhadap kitab-kitab terdahulu setelah beberapa ayat menjelaskan telah terjadi perubahan. Ayat-ayat tersebut setidaknya dapat kita jumpai secara eksplisit pada Q.S. Ali Imran ayat 3, Al Maidah ayat 46 dan, Al Maidah ayat 48.

Baca Juga

Nabi Muhammad Saw sebagaimana dikatakan Nurcholis Madjid adalah penutup para nabi dan Rasul diberikan Alquran dalam rangkaian firman Allah SWT dan ajaran-Nya tentang pembatalan praktik tabbani (mengangkat anak, kemudian anak itu diakui seperti anak sendiri, seolah benar-benar mempunyai pertalian darah dengan orangtua angkat bersangkutan, dengan segala konsekuensi kehukuman atau legalnya).

Baca juga:  Sentimen Rezim

Sementara fungsi Nabi Muhammad Saw terhadap para Nabi dan Rasul sebelum beliau ialah untuk memberi pengesahan kepada kebesaran, kitab-kitab suci, dan ajaran mereka.

Hal tersebut tersimpul dari penjelasan tentang kedudukan Alquran terhadap kitab-kitab suci yang lalu, yaitu sebagai pembenar (mushaddiq), dan penentu atau penguji (muhaimin) di samping sebagai pengoreksi (furqan) atas penyimpangan yang terjadi oleh para pengikut kitab-kitab itu.

Selain tabdil, perdebatan lain yang seringkali muncul ketika Alquran menyinggung keberadaan kitab terdahulu di antaranya adalah adanya distoris (tahrif). Sementara beberapa ayat mengafirmasi dan menegaskan kebenaran wahyu sebelumnya, ayat lain melontarkan tuduhan atas kitab suci itu.

Sebagai kitab suci pemeluk agama-agama selain dari agama yang dibawa Muhammad Saw mitos tentang kitab-kitab terdahulu yang kemudian menjadikan keabsahannya di ragukan antara lain adalah naskh dan tahrif. Mitos tentang naskh sendiri secara teoritis tidak pernah dilepaskan dari QS. Al-Baqarah ayat 162.

Louay Fatoohi dalam karyanya “Abrogation In The Quran And Islamic Law: A Critical Study Of The Concept Of Naskh And Its Impact” misalnya, mengatakan bahwa naskh tidak memiliki landasan dalam Al-Quran.

Sementara isu tentang adanya tahrif beberapa ayat Alquran memang menyinggung adanya seputar tuduhan pemalsuan terhadap kitab yang datang Alquran. Namun demikian, ulama berbeda pendapat dalam memaknai kata tafrif tersebut.

Secara umum, sebagaimana dikatakan Mun’im Sirry ulama terbelah ke dalam dua kubu, sebagian mengatakan tahrif terjadi dalam teks kitab suci, sebagian lagi berpendapat tahrif hanya menyangkut pemahaman dan penafsiran sementara teks kitab suci mereka tetap otentik.

Lihat Komentar (0)

Komentari