Sedang Membaca
Naik Becak, Kiai Zarkasyi Meredakan Kisruh ’98
Penulis Kolom

Mahasantri di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences, Tangerang Selatan

Naik Becak, Kiai Zarkasyi Meredakan Kisruh ’98

Naik Becak, Kiai Zarkasyi Meredakan Kisruh '98

Kerusuhan yang terjadi pada 1998 banyak memicu isu yang mengancam etnis Tionghoa. Segala sesuatu yang dimiliki oleh warga Tionghoa seakan-akan halal untuk dirampas dan dinikmati. Saat itu peran ulama  sangatlah berpengaruh untuk meredam emosi rakyat yang terbawa dan termakan oleh berbagai isu miring, seorang di antaranya adalah almarhum Kiai Zarkasyi Rawalini.

Mendiang Kiai Zarkasyi bin Hasan adalah seorang ajengan di Rawalini Tangerang yang berpengaruh dalam meredam emosi massa serta kerusuhan ketika itu. Ia adalah tokoh yang cukup disegani oleh masyarakat Rawalini, dan hingga kini pondok pesantrennya masih kokoh berdiri, yaitu Al-Hasaniyah. Nama Hasaniyah dinisbatkan pada Kiai Hasan, ayah Zarkasyi. Hal ini dituturkan Kiai Mahrusillah, putra Kiai Zarkasyi Rawalini.

“Saat kerusuhan terjadi, tiba-tiba polisi berdatangan ke rumah saya dan membawa abah. Tatkala keluar gerbang ponpes, warga pun bingung dan panik, mereka mengira bahwa Kyai Zarkasyi ditahan oleh polisi, pasalnya sang kyai dikawal menggunakan motor polisi,” kata Mahrusillah.

Polisi rupanya bermaksud meminta bantuan Kiai Zarkasyi untuk menenangkan warga. Tanpa menunda-nunda waktu, Kiai Zarkasyi pun naik ke atas becak dengan dibantu para polisi, sambil membawa pengeras suara. Becak melaju mengelilingi kawasan Rawalini dan sepanjang perjalanan itu Kiai Zarkasyi berbicara, meminta warga agar tidak rusuh dan tetap menjaga ketenangan.

Baca juga:  Gus Mus Bercerita Ihwal Perjalanan Hidupnya

Keadaan masih kacau-balau ketika Kiai Zarkasyi naik becak, bahkan masih ada warga yang seliweran menggotong televisi, entah milik siapa. Ketika Kiai Zarkasyi mulai bicara, mendadak suara riuh menjadi hening seketika. Warga sudah akrab dengan suara yang keluar dari pengeras suara itu. Mereka pun sam’an wa tho’atan. (mendengar dan mematuhi)”

Sebagian besar isi pesan Kiai Zarkasyi saat berbicara dari atas becak itu adalah imbauan persaudaraan dan kemanusiaan, bahwasannya warga Tionghoa adalah saudara kita di tanah mana pun di Indonesia, sehingga menzalimi mereka sama saja dengan menzalimi diri kita sendiri. Saudara semestinya saling menjaga.

Nasihat mantan Syuriah PCNU Tangerang itu terbukti mampu menahan konflik panas. Suasana kacau-balau berubah tenang. Suasana aman terkendali, begitu menurut polisi. Kiai Zarkasyi memang dikenal sosok yang aktif dan peduli terhadap masyarakat, sehingga dapat menjadi panutan bagi lingkungan di sekitarnya. Kiai  Mahrusillah pernah berbicara tentang toleransi warga Rawalini, “Warga Rawalini mah gak usah diajari toleransi,” katanya sambil tertawa dan menyeruput kopinya.

Setelah kejadian tadi, banyak warga Tionghoa yang berterimakasih pada Kiai Zarkasyi. Ada satu cerita mengenai hal itu, bagaimana warga Tionghoa menghormati Kiai Zarkasyi. Pada suatu hari  Kyai Zarkasyi ingin membeli kasur di satu toko milik orang Tionghoa. Penjaga toko yang juga Tionghoa mengenal pembelinya dan dengan setengah memaksa menggratiskan kasur tersebut. Namun Kiai Zarkasyi menolak dan tetap membayarnya.

Baca juga:  Manusia dan Tuhan (1): Refleksi atas Manusia sebagai Tujuan Penciptaan

Kiai Zarkasyi meninggal pada 26 Juli 2007

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (2)
  • Kyai santun yang sangat kharismatik. Selaku Kepala MA Al-Hasaniyah, beliau selalu datang lebih awal dibanding dewan guru. Sambil santai beliau selalu membaca Dalailul Khairat meski hanya beberapa guru yang mengetahui rutinitas beliau.
    Lahulfatihah

Komentari

Scroll To Top