Sedang Membaca
Perbedaan Bukan untuk Disatukan
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Perbedaan Bukan untuk Disatukan

Labora Dwi Putri Sinaga

Pengantar: Sejak 21 Januari 2019 kami menurunkan 20 esai terbaik hasil seleksi Sayembara Esai Tingkat SMA/Sederajat pada akhir tahun 2018. Setelah pemuatan lima besar, 15 tulisan berikutnya dimuat berdasarkan urutan abjad nama penulis.
——–
Bhinneka tunggal ika. Inilah semboyan yang sering disebut untuk membanggakan bangsa yang kaya ini.  Semboyan ini kerap didengungkan juga ketika rakyat Indonesia mengalami berbagai krisis dan konflik karena ulah para tikus berdasi, yang (mungkin) sedang duduk santai menertawakan kita.  Kita memang harus bersatu ketika Indonesia menjadi  kacung negara Barat. Namun nyatanya, kita bersatu untuk diam dan tidak menyadari tenggelamnya  jati diri bangsa.

Bhinneka tunggal ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Orang-orang yang menutup mata akan sisi gelap keadaan bangsa kita saat ini,  beranggapan bahwa si kaya dan si miskin dapat bersatu, si kuat dan si lemah dapat saling membantu, si pintar dan si bodoh dapat saling menguntungkan. Mereka meyakinkan kita semua bahwa bangsa kita besar. Pada kenyataannya, si kaya semakin membuat si miskin tersisihkan. Mereka duduk santai di singgasana, menikmati rupiahnya yang tak habis-habis. Si kuat semakin tertawa di atas ketidakberdayaan si lemah. Si pintar tenggelam dalam dunianya, sementara si bodoh terpuruk susah bangkit.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Banyak orang bilang bahwa “perbedaanlah yang menyatukan kita” atau “hidup akan terasa hambar tanpa adanya perbedaan”. Jika ungkapan di atas benar, lihatlah, apakah perbedaan membuat bangsa kita bersatu? Bukankah pada kenyataannya perbedaanlah yang tengah mengadu domba bangsa ini.

Seorang petugas KPU saat datang ke sekolah saya mengatakan, “Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya”. Pernyataan tersebut benar adanya. Namun, saat ini kita justru menemui orang-orang tak bertanggung jawab yang menjadikan pernyataan tersebut sebagai alasan untuk mengkambinghitamkan rakyat. Justru kita menemui kebalikannya, “Rakyat adalah cerminan dari pemimpinnya”. Mari buka mata hati dan pikiran kita. Dalam sketsa kehidupan ini rakyatlah yang memberikan reaksi atas aksi para pemimpinnya.

Baca juga:  Literasi Tanpa Basa-Basi, Literasi Penuh Aksi

Mari pikirkan lagi. Semua kekacauan dan ketidakharmonisan di negeri ini terjadi karena ambisi kita untuk menyatukan semua perbedaan. Kita terlalu yakin bahwa perbedaan dapat disatupadukan. Contoh saja, petani tidak akan menyatukan tanaman jagung dan kangkung dalam satu lahan. Pastilah jagung akan ditanam di tanah yang tidak selembab lahan kangkung. Apakah si kangkung akan memprotes karena dipisahkan dan dibedakan perlakuannya dengan si jagung? Jika tanaman bisa berbicara, mereka akan melakukan demo besar-besaran kepada petani yang menyatukan berbagai macam tanaman berbeda jenis dalam satu lahan dan diperlakukan sama.

Contoh lainnya adalah hewan-hewan di kebun binatang. Tidak ada gajah yang sekandang dengan ular, atau kelinci disatukan dengan harimau dan singa. Tak bisa terbayangkan apa yang akan terjadi jika hewan-hewan itu disatukan.

Hidup dalam Perbedaan

Seharusnya kita tidak perlu repot-repot menghabiskan energi untuk menyatukan segala perbedaan yang ada. Lebih baik jika kita tetap hidup dalam perbedaan itu tanpa harus menyatupadukan semuanya. Impian untuk menciptakan kehidupan yang harmonis cukup dengan tidak menyatukan perbedaan.

Mengutip tulisan dari http://www. thecrowdvoice.com, perbedaan itu tidak bisa disatukan, diubah, dan dihilangkan; perbedaan itulah yang akan memisahkan kita. Pernyataan ini  menekankan bahwa kita harusnya menerima perbedaan  dan tidak mengusiknya. Karena bisa saja dengan menerima perbedaan itu jalan menuju keharmonisan hidup dapat tercapai, tanpa perlu adanya pertumpahan darah antar sesama saudara.

Baca juga:  Sejarah Perdebatan Alquran di India

Harmoni tercipta dari sesuatu yang berbeda, bukan dari sesuatu yang sama. Menyatukan perbedaan, berarti membuat semua hal yang ada menjadi sama. Selama ini pemikiran kita tentang kata harmonis masih sempit. Sebagian besar berpikir bahwa keharmonisan ditunjukkan dengan tidak adanya konflik, lingkungan masyarakat yang aman, tentram, dan kondusif. Mari pikir. Keadaan aman, tentram, dan tanpa konflik bisa saja  disebabkan oleh minimnya rasa kepedulian antarmasyarakat. Mereka hidup dalam satu lingkungan namun sibuk dengan diri sendiri.

Jangan selalu berpikiran buruk pada konflik. Konflik kadang membuat kita semakin dewasa, belajar dari kesalahan, dan membuat kita menjadi bangsa yang besar. Konflik timbul karena adanya ketidaksepahaman. Dan untuk menyadari ketidaksepahaman itu dibutuhkan rasa kepedulian yang tinggi. Jika tidak ada rasa peduli, maka konflik tidak akan terjadi karena semua orang akan membiarkan ketidaksepahaman itu berlanjut. Keharmonisan yang hakiki akan tercipta ketika kita dapat mengatasi perbedaan itu, bukan dengan cara menyatukannya tetapi dengan menumbuhkan rasa saling menghargai dan memahami bahwa perbedaan adalah hal yang mutlak ada di bumi ini. Sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai luhur, kita hanya perlu “mencintai perbedaan” itu.

Harmonis merupakan suatu perpaduan, bukan penyatuan. Harmonis itu saling menguatkan, bukan menyatukan. Pelangi justru terlihat indah karena warna-warnanya tetap terpisah dan tidak bercampur.  Anak-anak bangsa ini sebaiknya tetap hidup dengan karakter masing-masing. Bukankah yang mewarnai Nusantara adalah berbagai macam perbedaan yang memancarkan warnanya dengan bebas?

Baca juga:  Membentuk Pola Pikir “Indonesia Bisa”

Marilah kita biarkan warna Nusantara terus memancar. Mari kita biarkan berbagai karakter berbeda yang ada di bangsa kita tetap hidup dengan ideologi mereka masing-masing. Mulai saat ini marilah belajar untuk saling menghargai perbedaan yang ada. Untuk saling mempedulikan satu sama lain sekalipun kita sangat jauh berbeda. Jangan biarkan ambisi kita untuk melihat adanya keselarasan dengan cara menggeserkan segala perbedaan yang ada dan menyatukan semuanya.

Terimalah kenyataan bahwa negeri ini membutuhkan pemimpin yang dapat menerima perbedaan itu dan menjaganya tetap hidup di tanah yang sama, di bawah langit yang sama pula. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang dapat membawa dan mewarnai rakyatnya dengan karakter yang memang telah mereka miliki.

Bagaimana jika perbedaan justru menimbulkan konflik? Jika kita menyatukan perbedaan, mungkin yang akan tampak adalah keteraturan, ketentraman, dan keamanan. Tetapi hal seperti ini adalah semu. Konflik yang ditimbulkan dari usaha menyatukan perbedaan akan jauh lebih besar daripada membiarkan perbedaan seperti apa adanya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Jangan salahkan perbedaan. Yang salah adalah reaksi yang kurang bijak dalam menanggapi perbedaan dan sikap menghargai yang masih belum tumbuh dalam jiwa. Bisa kita lihat dari kasus-kasus kerusuhan yang terjadi di Indonesia. Di Sampit, misalnya. Apakah penyebab konflik antara suku Madura dan Dayak adalah karena perbedaan budaya? Tentu bukan. Sebagian besar konflik yang terjadi di negeri ini terjadi karena melindungi kepentingan pribadi atau kelompok.

Justru, perbedaanlah yang membuat hidup menjadi harmonis.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top