Sedang Membaca
Ketika Garuda Muda Kehilangan Bulunya

Ketika Garuda Muda Kehilangan Bulunya

Oktavian Dwi Erlanza

Pengantar: Sejak 21 Januari 2019 kami menurunkan 20 esai terbaik yang tersaring dari Sayembara Esai Tingkat SMA/Sederajat pada akhir tahun 2018. Setelah pemuatan lima besar, 15 esai berikutnya dimuat berdasarkan urutan abjad nama penulisnya.


Banyak orang mengatakan bahwa generasi emas Indonesia akan bermunculan di tahun 2045. Namun jika kita melihat para pemuda bangsa saat ini, kelihatannya proyeksi itu hanyalah bualan besar belaka, karena banyak sekali dari para “Garuda Muda” negeri ini yang kehilangan bulunya. Para pelajar yang sudah “kehilangan” moral di dalam diri.

Tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bangsa, dan  tanpa rasa percaya diri serta optimisme.

Theodore Roosvelt mengatakan, “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society”.  Artinya mendidik pikiran atau seseorang tanpa mendidik aspek moralnya adalah ancaman berbahaya bagi masyarakat,

Bisa ditangkap dari kutipan tadi bahwa begitu bahayanya jika seorang pelajar hanya dibekali ilmu pengetahuan umum saja tanpa adanya pendidikan moral atau akhlaq yang mengiringi. Sesuai fakta di lapangan, hampir seluruh lembaga pendidikan di Indonesia, kecuali madrasah, hanya menyertakan dua jam saja pelajaran tentang pendidikan moral agama dalam seminggu.

Saya berasumsi bahwa pendidikan moral agama yang minim itu turut andil dalam memerosotkan moral masyarakat dan memperburuk citra negri ini. Di antara kita termasuk para pemimpin yang tidak memberi contoh baik namun justru memalukan.

Menurut data yang diperoleh dari Litbang Kompas, banyak sekali kasus yang menjerat para pemimpin negri ini. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. 1.158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011
  2. 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011
  3. 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI
  4. Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU, KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM
Baca juga:  Memulai Lagi Berkaligrafi dengan Huruf "Nun"

Inilah potret miris hasil pendidikan bumi pertiwi, ketika para pelajar hanya di jejali ilmu, ilmu, dan ilmu tanpa disertai dengan pendidikan moral. Imbasnya bukan hanya terlihat ketika orang-orang sudah mentas dari dunia pendidikan, namun bahkan ketika masih duduk di bangku sekolah pun banyak sekali pelajar terlibat kasus, yang menunjukkan rendahnya moral mereka.

Kondisi Pelajar dan Masalah yang Ditimbulkan

Berikut ini adalah beberapa data mengenai penurunan etika dan moral pelajar yang didapat dari berbagai media massa yang dihimpun dari survei/pengakuan masyarakat :

1. 15-20 persen dari remaja usia sekolah di Indonesia sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah.

2. Hingga Juni 2009 telah tercatat 6332 kasus AIDS dan 4527 kasus HIV positif di Indonesia, dengan 78,8 persen dari kasus-kasus baru yang terlaporkan berasal dari usia 15-29 tahun.

3. Diperkirakan terdapat sekitar 270.000 pekerja seks perempuan yang ada di Indonesia, di mana lebih dari 60 persen adalah berusia 24 tahun atau kurang, dan 30 persen berusia 15 tahun atau kurang.

4. Setiap tahun ada sekitar 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia di mana 20 persen diantaranya adalah aborsi yang dilakukan oleh remaja.

5. Berdasarkan data kepolisian, setiap tahun penggunaan narkoba selalu naik. Korban paling banyak berasal dari kelompok remaja, sekitar 14 ribu orang atau 19% dari keseluruhan pengguna.

6. Jumlah kasus kriminal yang dilakukan anak-anak dan remaja tercatat 1.150 kasus, sementara pada 2008 hanya 713 kasus. Ini berarti ada peningkatan 437 kasus. Jenis kasus kejahatan itu antara lain pencurian, narkoba, pembunuhan, dan pemerkosaan.

Baca juga:  Mari Mengenal Debat dalam Tradisi Islam

Sekolah yang seharusnya melahirkan benih-benih para pelajar yang berjiwa keadilan dan bermoralitas tinggi justru sebaliknya. Banyak terjadi kasus-kasus tindakan asusila atau pelecehan seksual yang dilakukan guru terhadap muridnya sendiri. Sekolah dasar tercatat paling sering menjadi kekerasan di dunia pendidikan selama tahun 2018, dengan persentase 50%, di susul SMA (34,7%) dan SMP (19,3%) (bbc.com)

Pendidikan adalah salah satu sarana yang seharusnya paling efektif dan tepat untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai salah satu negara super power. Hal ini senada dengan apa yang pernah di ucapkan Nelson Mandela,

Pendidikan adalah senjata yang paling mematikan didunia, karena hanya dengan pendidikan seseorang dapat merubah dunia.

Jangan hanya dibekali disiplin ilmu pengetahuan umum saja, tapi penting juga untuk membekali para pelajar dengan pendidikan moralitas sesuai dengan agama masing-masing agar tumbuh dalam diri setiap para pelajar rasa tanggung jawab, cinta tanah air, dan bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil.

Baca Juga

Pentingnya pendidikan agama

Berikut adalah pandangan para pakar pendidikan tentang pentingnya pendidikan agama untuk melahirkan pemuda yang berkarakter:
1. Al-Syaibany
Ia mengemukakan bahwa pendidikan agama adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan menjadikan pendidikan dan pengajaran sebagai sesuatu aktivitas dan profesi di antara sekian banyak profesi dalam masyarakat.

2. Muhammad Fadhil al-Jamaly
Ia mendefenisikan pendidikan agama sebagai upaya pengembangan, mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia. Dengan proses tersebut, diharapkan akan terbentuk pribadi peserta didik yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan potensi akal, perasaan, maupun perbuatanya.

Baca juga:  At-Tin dan Beringin: Alquran untuk Semua

3. Ahmad D. Marimba
Ia mengemukakan bahwa pendidikan agama adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (insan kamil).

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Antara moral dan etika adalah terletak pada sumber yang dijadikan patokan untuk menentukan baik dan buruk. Pada etika, penilaian baik buruk berdasarkan pendapat akal pikiran, dan pada moral berdasarkan kebiasaan yang berlaku umum di masyarakat, Seharusnya bagi seseorang menggunakan akal dan hatinya dalam bertingkah laku dalam masyarakat.

2. Berdasarkan fakta yang ada, dapat dilihat bahwa terjadi kemerosotan nilai etika dan moral, seperti tingkat kriminalitas yang tinggi, tingkat aborsi yang tinggi, dan lain-lain. Jika halhal seperti ini tidak diperbaiki, hal ini akan menyebabkan rusaknya generasi masyarakat di masa yang akan datang. Sehingga tidak mungkin zaman akan berganti lagi seperti zaman jahiliyah dahulu.

3. Untuk mencegah dan atau memperbaiki kemorosotan etika dan moral ini, ada berbagai macam solusi yang dapat dilakukan seperti yang telah disebutkan di atas. Namun pada dasarnya, semua solusi tersebut mengarah pada pemahaman dan pengamalan seseorang terhadap pendidikan akhlaq yang ia pelajari.

4. Jika ingin mewujudkan generasi emas Indonesia di tahun 2045, maka pemerintah harus memulainya dengan memperbaiki, menumbuhkan, meningkatkan pendidikan moral, tidak hanya pada para pelajar tapi juga kepada para pengajar, agar tumbuh dalam diri masing-masing rasa tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, orang lain, bangsa dan negara.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top