Sedang Membaca
Mengukur Kedalaman Berbahasa Felix Siauw Imam Nawawi
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Mengukur Kedalaman Berbahasa Felix Siauw Imam Nawawi

Imam Nawawi

Felix Siauw bertujuan baik, saya yakin itu, dengan mengibaratkan perempuan sebagai pisang goreng dan lapis legit. Namun, sebagian orang (Audian Laili, Mojok.co, 30-12-2018) sangat tersinggung dengan pilihan diksi ustadz yang lagi tenar itu.

Laili dan Felix, keduanya sama-sama berniat mencari cara berbahasa, memilih diksi, yang menjunjung tinggi dan mengangkat harkat martabat kaum perempuan.

Tulisan ini tidak hendak memojokkan ustadz yang memilili ribuan followers dan fans fanatik tersebut, dan tidak juga upaya mendukung rasionalisasi emosi Audian Laili. Sebaliknya, sejak awal hendak ditekankan di sini, Felix dan Laili berada pada level intelektual yang setara. Kemampuan intelektual mereka sepantaran, sekalipun mungkin followers Laili tak sebanyak dan tak sefanatik Felix. Keduanya berada dalam batasan dan keterbatasan masing-masing.

Ada tiga hal yang penting dimengerti dalam kaitannya dengan kesadaran intelektual; logika, bahasa, dan pikiran (logic, language and mind). Frege (1892) pernah membahas dua istilah yang sangat terkenal; sense dan reference. Dalam bukunya berjudul “On Sense and Reference”, Frege mencontohkan dua kalimat yang berbeda namun merujuk pada maksud yang sama; “the morning star” dan “the evening star”. Keduanya merujuk pada satu objek berupa bintang yang sama, yaitu Venus. Tapi, diungkapkan dengan cara berbeda.

Baca juga:  Tafsir Berbahasa Urdu

Felix Siauw dan Audian Laili memiliki pilihan diksi berbeda. Felix Siauw memakai kosakata pisang goreng dan lapis legit untuk memberikan pemahaman kepada publik, khususnya perempuan, agar kaum perempuan meningkatkan kualitas diri mereka. Ini niat yang luhur. Tetapi, niat yang luhur Felix harus menabrak prinsip dasar Audian Laili. Perempuan tidak harus ditempatkan sebagai objek, apalagi sebagai makanan. Laili ingin diksi lain yang lebih luhur dalam mengangkat dan memperjuangkan harkat martabat kaum wanita.

Narasi pisang goreng dan lapis legit dari Felix Siauw ibarat ungkapan “the morning star”, sedangkan perlawanan Audian Laili adalah ungkapan “the evening star”. Keduanya merujuk pada objek yang serupa, “perjuangan mengangkat harkat martabat kaum perempuan”. Perjuangan feminisme yang luhur.

Baca Juga

Mungkin selanjutnya, ini perlu disampaikan khusus kepads ustadz Felix Siauw secara pribadi dan kepada ustadz-ustadz milenial lainnya. Bahwa bangsa ini sudah sangatlah cerdas, memiliki jumlah suku dan etnik yang beragam, dan latar belakang pendidikan yang tinggi. Tanggungjawab seorang da’i muslim sangatlah mulia namun berat, dan karenanya, pilihan berbahasa dan penentuan diksi kata memang butuh seleksi yang ketat. Bukan saja dalam kasus feminisme semacam ini, tetapi dalam semua topik sosial keagamaan.

Baca juga:  Ulama, Karya, dan Bahasa

Sebagai intelektual, agamawan, dan da’i muslim yang berkarisma, ustadz Felix Siauw harus mengakui bahwa ungkapan-ungkapan (sense) keagamaannya sepantaran dengan ungkapan-ungkapan keagamaan (sense) tokoh dan figur publik lainnya. Sekalipun semua “sense” tersebut berbeda, tetapi merujuk pada objek (reference) yang sama. Karenanya, menjadi bangsa Indonesia yang baik adalah menghargai perbedaan “sense” atas nama kesamaan “reference”. Dalam bahasa yang sangat kuno dan dikutip dari pepatah klasik, inilah yang disebut sebagai “Bhinneka Tunggal Ika”. Berbeda-beda “sense” tetapi tetap satu “reference”.

Dari Frege (1892), kita semua telah belajar untuk memiliki logika yang lebih kritis, memilih diksi dan cara berbahasa yang lebih santun, demi menyampaikan satu gagasan (mind) yang mulia. Ibarat kita memiliki niatan mencuci pakaian kotor dan najis agar bersih dan suci, diharapkan jangan salah pilih air. Janganlah air comberan (baca: bahasa dan logika yang salah) kita pilih untuk mencuci pakaian kita (mind yang mulia). Jadinya akan semakin rusak-rusakan.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top