Sedang Membaca
Dakwah dengan Kata Kotor Berakibat pada Dampak Psikologis

Lahir di Subang, 22 Juli 1981. Lulusan pesantren Lirboyo dan ma'had aly Sukorejo, Situbondo. Ayah dua orang anak ini sekarang sedang menempuh pendidikan s3 di SPS UIN Jakarta.

Dakwah dengan Kata Kotor Berakibat pada Dampak Psikologis

Habib Rizieq Shihab Pulang 26 169

Wahai ‘Aisyah, jangan engkau menjadi orang yang mulutnya kotor.” Ini sabda NAbi saw kepada Aisyah saat sekelompok Yahudi menghina beliau.

Seorang psikolog, Reni Kusumowardani, M.Psi, pernah menyatakan bahwa anak-anak belajar berkata-kata dari tiga lingkungan. Saat usia sangat dini, mereka belajar belajar dari orang tua, pengasuh dan orang-orang yang berada di rumahnya.

Setelah bertambah usia, mulai bermain ke tetangga, atau sekolah, maka lingkungan belajarnya semakin luas. Psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia wilayah DKI Jaya itu juga menyebutkan bahwa pengaruh besar lainnya bisa didapat dari media elektronik, seperti gadget dan televisi.

Lingkungan yang penuh dengan kata-kata lembut akan membentuk seorang anak yang berkata-kata lembut. Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi dengan kata-kata kotor tentu akan menimbulkan potensi anak terbiasa berkata-kata kotor. Apabila orang tua tidak waspada dengan hal ini, sangat besar kemungkinan anak-anak akan terbiasa dengan kata-kata kotor tersebut.

Celakanya, saat ini banyak sekali berseliweran kata-kata kotor di media sosial maupun platform digital, di mana itu berasal justru dari kalangan yang dianggap sebagai pemuka agama Islam. Ajaran Islam yang semestinya mengedepankan akhlak justru malah dijadikan alat pembelajaran kata-kata kotor.

Mereka, para pendakwah yang mengucapkan kata-kata kotor tersebut biasanya berlindung dibalik prinsip nahi munkar atau memberantas kemungkaran dalam melakukan aksinya. Kata-kata kotor tersebut biasanya mereka alamatkan kepada orang-orang yang menurut mereka berada dalam kemungkaran. Tentu saja standar kemungkarannya dihitung sesuka mereka.

Baca juga:  Kisah Kiai Memed Mendirikan Pesantren di Lokalisasi Saritem (1/3)

Dalam sejarah dakwah di Indonesia, kata-kata kotor dan tuduhan kafir pertaa kali muncul ketika peristiwa perang Paderi di Minangkabau. Tiga ulama yang baru pulang haji dan terpengaruhi ajaran Wahabi kemudian mencoba melakukan apa yang mereka sebut sebagai pemurnian ajaran Islam di Minangkabau.

Mulailah mereka melakukan kampanye pembersihan tersebut yang tidak jarang melahirkan tuduhan-tuduhan kafir kepada orang-orang yang dianggap tak sepaham. Kaum adat tak menyukai gaya dakwah mereka. Pecahlah perang saudara antara kaum adat dan kaum paderi.

Penggunaan kata-kata kotor dalam mimbar dakwah Islam juga pernah menjadi tren menjelang reformasi 1998. Bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam saat itu sudah bosan dengan kepemimpinan Presiden Soeharto dan menginginkan adanya perubahan. Situasi ini dimanfaatkan oleh para pendakwah dengan jalan berceramah sambil memaki-maki Soeharto. Tercatat beberapa nama yang viral saat itu antara lain, KH. Afifuddin dari Mangkang, Semarang, Abu Hanifah dari Jakarta, dan Idrus Jamalullail. Nama terakhir ini pada saat acara pernikahan putri Habib Rizieq Shihab bahkan mendoakan agar Megawati dan Jokowi dipendekkan umurnya oleh Allah. Saat itu, semakin berani seorang pendakwah memaki Soeharto di panggung, maka ia akan semakin sering diundang berceramah.

Geliat yang sama terjadi lagi sejak kasus yang melibatkan BTP di tahun 2016. Banyak sekali bermunculan pendakwah-pendakwah yang diizinkan oleh khalayak untuk tampil di mimbar, berceramah, dan isinya tak lain adalah cacian dan makian kepada berbagai pihak yang tak sepaham dengan mereka.

Baca juga:  Tari Lengger, Dakwah Para Wali di Wonosobo

Gejala ini tentu saja merugikan bagi umat Islam sendiri. Kembali lagi pada persoalan anak-anak, mereka tentu akan semakin berani berkata-kata kotor dengan alibi bahwa kalau yang disebut sebagai ulama saja boleh berkata kotor. Kenapa mereka tidak boleh? Finalnya, bisa jadi akan timbul kesalahpahaman berupa boleh berkata kotor selama masih berkaitan dengan keislaman. Islam kemudian menjelma menjadi ajaran yang melegalkan kata-kata kotor. Tentu hal ini amat sangat tidak kita inginkan.

Padahal sesungguhnya, Islam merupakan sebuah ajaran agama yang menegdepankan kelembutan, kasih sayang dan bahkan tidak memperbolehkan membalas keburukan dengan keburukan.

Bukan hanya buruk bagi anak-anak. Penampakan para pendakwah yang menggunakan kata-kata kotor juga melemahkan kampanye Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Mereka yang tidak mengenal Islam, mereka yang non muslim dan mulai tertarik kepada Islam tentu akan berpaling dari Islam karena terlalu sering melihat kekerasan yang ditampakkan oleh Islam dan mendengar kata-kata kotor dari para pendakwahnya.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top