Sedang Membaca
Kata-Kata Kotor di Masa Nabi Muhammad Saw dan Sahabat

Lahir di Subang, 22 Juli 1981. Lulusan pesantren Lirboyo dan ma'had aly Sukorejo, Situbondo. Ayah dua orang anak ini sekarang sedang menempuh pendidikan s3 di SPS UIN Jakarta.

Kata-Kata Kotor di Masa Nabi Muhammad Saw dan Sahabat

“Ketika lidah seseorang menjadi tenang dan ramah, maka hatinya menjadi saleh dan bersih.” (Utsman bin Affan)

Ketika Nabi Muhammad saw diangkat menjadi Rasulullah yang membawa syariat Islam, setidaknya ada tiga kampanye yang ingin Nabi tegakkan terkait dengan akhlak buruk zaman jahiliyyah atau kebiasaan masyarakat Arab pada masa Pra Islam. Akhlak buruk tersebut ialah membangga-banggakan kebesaran leluhur, mencela keturunan seseorang, meremehkan dan menghinakan orang miskin.

Membanggakan nasab dan mencela leluhur merupakan dua hal yang ingin Nabi rubah terkait kebiasaan orang-orang di zaman jahiliyyah. Hal tersebut tertuang dalam sebuah hadis:

أَرْبَعٌ في أمَّتِي مِنْ أمْرِ الجَاهِلِيَّةِ لا يَتْرُكُوهُنَّ: الفَخْرُ في الأَحْسَابِ، والطَّعْنُ في الأَنْسَابِ، والاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ، وَالنِّياحَةُ

Artinya: “Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: (1) membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) mencela keturunan, (3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) meratapi mayit (niyahah)”. Lalu beliau bersabda, “Orang yang melakukan niyahah bila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal” (HR. Muslim).

Berikutnya, kebiasaan orang di zaman jahiliyah yang suka melemparkan hinaan kepada kaum miskin bisa kita lihat dalam ayat Alquran QS. Al-An’am: 53

Baca juga:  Polemik Negara Islam, dari Mulai Kartosoewiryo hingga Aidit

وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لِّيَقُولُوٓا۟ أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنۢ بَيْنِنَآ ۗ أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَعْلَمَ بِٱلشَّٰكِرِينَ

Wa każālika fatannā ba’ḍahum biba’ḍil liyaqụlū a hā`ulā`i mannallāhu ‘alaihim mim baininā, a laisallāhu bi`a’lama bisy-syākirīn

Artinya: Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?”

Penyusun kitab Tafsir al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili menjelaskan latar belakang mengapa orang-orang zaman jahiliyah suka sekali mencela keturunan orang lain dan mencela orang miskin, semuanya berasal dari kesombongan golongan tertentu yang merasa bahwa nasab mereka jauh lebih tinggi disbanding dengan yang lainnya. Kesombongan tersebut kemudian mendorong mereka untuk cenderung menganggap orang lain dengan pandangan kehinaan hingga mereka merasa berhak untuk menghina, mencela dan bahkan berkata kotor kepada mereka.

Ketiga kampanye yang dilakukan oleh Rasulullah tersebut dituangkan dalam kebiasaan Rasulullah yang memanggil dirinya sendiri bukan dengan Muhammad bin Abdullah, namun Muhammad Rasulullah. Kepada Abu Bakar beliau memanggil ash-shiddiq (yang dipercaya), kepada Umar beliau memanggil al-Faruq (yang membedakan baik dan benar), dan lain sebagainya. Sebisa mungkin Nabi menghindari penyebutan nama nasab dengan tujuan agar nasab tidak lagi menjadi sesuatu yang dibanggakan oleh umat Islam.

Baca juga:  110 Tahun Kereta Api Hejaz, Jalur Kereta Legendaris

Kebiasaan jahiliyah yang suka mengumpat dan berkata kotor tersebut dalam sejarahnya kemudian kambuh kembali. Kekambuhan pertama kali terjadi ketika ada sebagian Sahabat Nabi yang tidak suka dengan kebijakan Utsman sebagai seorang khalifah. Mereka menyebut Utsman sebagai haram atau kharaf yang artinya adalah pikun karena telah melewati usia 80 tahun dan mengeluarkan kebijakan yang bersifat nepotisme dengan mengindikasi mencopot jabatan-jabatan vital dan digantikan dengan anggota keluarganya.

Kekambuhan kedua terjadi pasca peristiwa mihnah atau arbitrase yang dilakukan setelah perang shiffin antara pasukan Ali dan pasukan Muawiyah. Terdapat suatu kelompok yang kemudian menyatakan diri keluar dari pertikaian tersebut dan menganggap bahwa semua pihak yang terlibat dalam peristiwa arbitrase sebagai orang yang keluar Islam atau kafir. Kelompok ini kemudian dengan nama Khawarij.

Mereka bahkan melakukan serangkain percobaan pembunuhan. Muawiyah dan Amr bin Ash selamat dari percobaan pembunuhan mereka, sementara Ali bin Abi Thalib terbunuh oleh salah satu dari mereka, yakni Abdurrahman bin Muljam at-Tamimi.

Kekambuhan ketiga terjadi ketika peristiwa mihnah, yakni pemaksaan akidah muktazilah yang dilakukan oleh kekhalifahan Abasiyah yang merenggut banyak korban dalam kelompok teologi selain muktazilah. Salah satunya ialah Imam Ahmad bin Ahmad.

Pasca peristiwa tersebut, tercatat bahwa sejarah Islam selalu dihiasi dengan perdebatan tak berujung yang tak lepas dari cacian dan hinaan apabila berkaitan dengan perbedaan pemahaman akidah antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Baca juga:  Syahadat Fatimah: Pengaruh Islam Persia di Nusantara
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top