Sedang Membaca
Zainab Istri Rasul yang Dermawan Hingga Akhir Hayat

Zainab Istri Rasul yang Dermawan Hingga Akhir Hayat

Nur Hasan

Istri-istri Rasulullah Saw pasti mempunyai keistimewaan masing-masing, termasuk Zainab binti Khuzaimah, yang dikenal sebagai ibu orang-orang miskin. Beliau bernama lengkap Zainab binti Khuzaimah bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah. Sebelum menikah dengan Rasulullah Saw, beliau menikah dengan Abdullah bin Jahsy. Namun ketika Abdullah bin Jahsy terbunuh dalam peristiwa perang uhud, Zainab dinikahi oleh Rasulullah Saw.

Ada beberapa perbedaan riwayat tentang siapa suami Zainab binti Khuzaimah sebelum menikah dengan Rasulullah Saw. Imam ad-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam an-Nubala mengatakan, sebelum menikah dengan Rasulullah suami Zainab binti Khuzaimah adalah Abdullah al-Jahsy.

Riwayat lain mengatakan, suami kedua Zainab adalah Ubaidah bin Harist. Adapun suami pertama Zainab adalah Thufail bin Harist. Banyak perbedaan riwayat dari para ulama tentang siapa suami Zainab binti Khuzaimah sebelum dinikahi oleh Rasulullah.

Ketika menikahi Zainab binti Khuzaimah, Rasulullah  memberikan mahar berupa 40 dirham. Dan beliau juga membangunkan sebuah rumah kecil, dan sederhana disamping rumahnya Siti Aisyah dan Hafshah. Rasulullah SAW menikahi Zainab karena beliau ingin melindungi dan meringankan beban hidup yang dialaminya. Hati beliau menjadi luluh melihat Zainab hidup menjanda, sementara sejak kecil dia sudah dikenal dengan kelemah-lembutannya dan kepeduliannya terhadap orang-orang miskin.

Baca juga:  Mu'minah binti Bahlul dari Damaskus

Sejak zaman jahiliyah, sosok Zainab binti Khuzaimah dikenal sebagai seorang wanita yang dermawan dan suka menyantuni orang-orang miskin. Kedermawanan Zainab binti Khuzaimah semakin bertambah ketika beliau masuk Islam. Dan, semakin tambah dermawan ketika beliau dipersunting oleh Rasulullah.

Kehadiran Zainab binti Khuzaimah dalam rumah tangga Rasulullah Saw tidak mengusik keharmonisan rumah tangga Rasul yang waktu itu sudah memiliki dua istri  yang berkedudukan tinggi yaitu Siti Aisyah dan Hafshah. Hadirnya Zainab binti Khuzaimah tidak membuat kedua istri Rasul cemburu.

Mengapa? Karena Rasulullah Saw mampu membagi secara adil hak masing-masing istrinya. Sikap Zainab binti Khuzaimah juga tidak  mengganggu keharmonisan rumah tangga Rasulullah Saw, bahkan tidak pernah terpikirkan sedikit pun.

Dalam hidupnya, Zainab menghabiskan semua waktunya untuk beribadah kepada Allah Swt, menyantuni banyak orang miskin dan bersedekah kepada mereka. Beliau pun dijuluki  Ummu Masakin  atau ibu orang-orang miskin.

Zainab binti Khuzaimah merupakan sosok perempuan yang baik hati dan memiliki jiwa mulia. Semua yang keluar dari rumahnya hanyalah untuk bersedekah, dan beribadah kepada Allah Swt,  serta peduli kepada orang-orang miskin. Inilah yang menjadikannya sosok wanita yang agung dan mulia.

Meninggal dunia

Kemuliaan Zainab tidak  bisa lama dirasakan,  karena Allah SWT memanggilnya begitu cepat. Bahkan Imam az-Dzahabi mengatakan bahwa Zainab binti Khuzaimah sama sekali tidak sempat meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW. Hidupnya bersama Rasulullah  begitu singkat, hanya sekitar dua atau tiga bulan. Riwayat lain mengatakan Zainab hidup bersama Rasulullah Saw sekitar delapan bulan, dan beliau adalah istri Rasulullah Saw yang meninggal setelah Siti Khadijah.

Baca juga:  Malam Terakhir Khalifah Utsman bin Affan

Zainab binti Khuzaimah adalah salah satu teladan dalam menjalani kehidupan yang fana ini, beliau tidak gila harta dan sangat menyayangi orang-orang miskin dengan memberikan sedekah kepada mereka. Usianya boleh pendek, namun perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya membuat namanya tetap harum hingga kini.

Kisah Zainab binti Khuzaimah juga menegaskan bahwa kemuliaan seseorang bisa didapat oleh siapa saja baik perempuan maupun laki-laki. Tidak ada diskriminasi dalam Islam, apalagi tentang kemuliaan seseorang. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan hanyalah soal fisik dan peranannya saja. Namun di mata Allah SWT semuanya sama, dan hanya dibedakan akan kadar keimanan dan perbuatan yang dibuat untuk kemaslahatan bersama.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top