Sedang Membaca
Berkata Kotor dan Menyakitkan Menurut Al-Qur’an

Lahir di Subang, 22 Juli 1981. Lulusan pesantren Lirboyo dan ma'had aly Sukorejo, Situbondo. Ayah dua orang anak ini sekarang sedang menempuh pendidikan s3 di SPS UIN Jakarta.

Berkata Kotor dan Menyakitkan Menurut Al-Qur’an

Tubuh dan Keyakinan adalah Medan Perang

“Lidah itu sangat kecil dan ringan, tapi bisa mengangkatmu ke derajat paling tinggi dan bisa menjatuhkanmu di derajat paling rendah.” (Hujjatul Islam Imam al-Ghazali)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa makna kata “umpat” ialah perkataan yang keji (kotor dan sebagainya) yang diucapkan karena marah (jengkel, kecewa, dan sebagainya). Ada banyak kata yang bersinonim dengan kata “umpat” ioni, seperti cercaan, makian, dan sesalan. Di dalam Alquran, kata ini bahkan menjadi nama suatu surat, yakni surat al-Humazah yang maknanya ialah “pengumpat”:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ (Wailul likulli humazatil lumazah). Artinya: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela” (QS. Al-Humazah: 1)

Dalam kitab tafsirnya, Syekh as-Sa’di menjelaskan bahwa kata humazah bisa bermakna mengumpat atau menjelekkan orang lain, baik dengan cara ghibah ataupun merendahkan orang lain. Sementara lumazah berarti mencela orang lain secara langsung di hadapannya dengan perkataan buruk yang dapat menyakiti hatinya. Adapun ancaman wail yang terdapat dalam ayat ini merujuk pada nama sebuah lembah di neraka.

Dari sudut pandang yang lain, kita bisa memahami bahwa mengumpat atau berkata kotor merupakan sesuatu yang sangat dilarang dalam ajaran Islam, mengingat hal itu amat sangat bertentangan dengan prinsip dasar Islam itu sendiri sebagai rahmatan lil ‘alamin, kasih sayang bagi seluruh alam. Bagaimana mungkin penebaran kasih sayang bisa kita lakukan dengan umpatan dan kata yang kotor?

Baca juga:  Tafsir Surah Al-Humazah (Bagian 2)

Rasulullah saw yang ditunjuk oleh Allah sebagai pembawa risalah agama Islam pun memiliki gambaran akhlak yang jauh dari ancaman, celaan, hinaan, maupun kata-kata kotor. Pernah suatu ketika Rasulullah melakukan perjalanan menuju kota Thaif dengan harapan bisa berhijrah kesana dan menyebarkan ajaran Islam dari tempat tersebut.

Kenyataannya, Rasulullah ditolak oleh penduduk setempat, dilempari batu dan kotoran, dihina, dicaci, bahkan dikatai sebagai orang gila. Rasulullah tidak membalas cacian dan hinaan mereka. Beliau bahkan mendoakan semoga mereka diampuni oleh Allah Swt atas ketidakpahaman mereka. Rasulullah juga berharap semoga ke depan anak keturunan mereka tidak sama dengan mereka.

Sebenarnya, Rasulullah bisa saja membalas tindakan mereka. Tinggal meminta kepada Allah agar memberikan azab dengan menimpakan bukit kepada mereka. Nyatanya, Rasulullah tidak melakukan itu. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah adalah pribadi yang jauh dari sikap mengumpat, berkata kotor, dan lain sebagainya.

Pada suatu kesempatan, Rasulullah saw juga pernah mengingatkan bahwasanya berkata-kata kotor merupakan tindakan yang tidak disukai oleh Allah Swt:

إنَّ الله عزّ وجلّ لاَ يُحِبُ الفُحْشَ وَلَا التَفَحُش

Artinya: “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak suka dengan perbuatan keji dan kata-kata yang kotor (kasar).” (HR. Ahmad).

Ketika dimintai penjelasan tentang keutamaan akhlak mulia, Rasulullah menjelaskan bahwasanya akhlak mulia yang menjadi prinsip dakwah Islam tidak akan bisa diraih oleh seseorang yang gagal menjaga lisannya dari perkataan kotor:

Baca juga:  Persamaan Abraham Lincoln dengan Soekarno dan Gus Dur

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ

Artinya: “Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat ditimbangan kebaikan seorang mu’min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar.” (HR. At-Tirmidzi).

Tidak berhenti sampai disitu saja, Rasulullah saw juga tidak mengakui keislaman orang-orang yang suka mencaci:

لَيْسَ اْلمـُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَ لَا اللَّعَّانِ وَ لَا اْلفَاحِشِ وَ لَا اْلبَذِيِّ

Artinya: “Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencaci, orang yang gemar melaknat, orang yang suka berbuat/ berkata-kata keji dan orang yang berkata-kata kotor/ jorok”. (HR Al-Bukhari dan At-Tirmidzi).

Sebaliknya, bagi mereka yang menjaga lisannya, Rasulullah saw memberikan indikasi bahwa merekalah orang-orang yang diakui keimanannya kepada Allah Swt:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. (HR. Al-Bukhari & Muslim).

Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan bahwasanya perkataan kotor dalam berbagai variannya, entah berupa umpatan, hinaan, celaan, dan lain sebagainya, semuanya itu bukanlah merupakan ciri dari seorang muslim yang baik. Adalah aneh apabila seseorang mengaku memahami ajaran Islam namun tidak bisa menjaga lisannya dari perkataan kotor.

Baca juga:  Pertalian Bahasa Arab dan Persia
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top