Husnul Athiya
Penulis Kolom

Husnul Athiya adalah alumni UIN Antasari Banjarmasin. Kini sedang mendalami Kajian Media dan Pop Islam

Secangkir Teh dan Harga Diri

“Tolong buatkan aku secangkir teh, tapi jangan terlalu manis, ya.” Itulah syarat yang diminta kakak saat ingin minum teh. Lain lagi dengan Mama, beliau akan berkata “Buatkan aku teh yang manis dan panas.” Bisa kalian bayangkan usaha saya untuk menakar gula sesuai dengan kemauan mereka agar tidak kena “semprot” setelah teh itu tersaji?

Mama dan kakak – representasi dua generasi yang berbeda. Mereka dibesarkan dengan tatanan nilai yang juga berbeda. Kebiasaan mama dan kakak dengan secangkir teh dan kadar gula tertentu sebetulnya bukan sekedar selera. Lebih dari itu, di dalamnya, mereka letakkan “harga diri”. Mungkinkah?

Ya, mengapa tidak? Belakangan ini saya mulai peka dan mempertanyakan tentang kebiasaan atau tata cara menghidangkan teh, bukan saja untuk keluarga, tetapi juga untuk tamu mereka. Jika itu tamu mama, mesti teh yang dihidangkan harus manis (bahkan manis sekali) dengan air mendidih (masih mengepulkan asap) agar menghasilkan warna teh yang sempurna.

Sebaliknya, jika itu tamunya kakak, ia pasti memberi pesan untuk mengurangi kadar gulanya, tak mesti dengan air plus asap mengepul, selagi air itu masih panas dan tersimpan rapat di dalam termos, masih bisa diterima olehnya. Yang lebih mencengangkan lagi, jika tidak ingin menghidangkan teh, ia akan menyodorkan kopi yang sudah diseduh kepada tamunya, lengkap beserta toples gula. Ia berikan kesempatan kepada mereka untuk menakar sendiri gulanya sesuai selera. Cara yang terakhir ini cukup aneh di mata mama.

Baca juga:  Ketika Ulil Abshar Abdalla Kopdar Ngaji Ihya

Mengapa hal itu terjadi? Perbedaan generasi saya rasa bisa menjadi jawabannya. Mama – generasi terdahulu, dibesarkan dengan pakem tertentu dalam menyambut tamu, yang berlaku di masyarakat pada saat itu. Saat tamu berkunjung, hidangan teh dengan “standar” mama yang sudah saya sebutkan diatas melambangkan banyak hal, yang bisa disimpulkan sebagai “harga diri” dari tuan rumah.

Segelas besar dengan teh tuha yang sangat manis disertai asap mengepul memiliki makna yang dalam. Teh yang dihidangkan dalam gelas besar (mama menyebutnya tong) melambangkan harapan agar si tamu bisa berlama-lama berkunjung, agar semakin banyak cerita yang bisa diurai, agar semakin ragam canda tawa yang bisa dibagi.

Penggunaan air panas dengan asap mengepul memiliki harapan agar teh itu tetap dengan kadar panas yang ideal (untuk teh) hingga akhir kunjungan si tamu. Level manis (bahkan bisa dikatakan ‘mangit’— istilah untuk menyatakan manis stadium empat) mengandung makna bahwa si tuan rumah menerima kedatangan tamu dengan senang hati, tanpa banyak perhitungan, ikhlas menyajikan suguhan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Jika teh dihidangkan di dalam cangkir kecil dan kurang manis, maka tuan rumah dianggap pelit dan tidak suka dengan kunjungan si tamu. Saya rasa, siapapun tak akan mau disebut ‘pelit’kan? Itulah mengapa mama sangat menjaga standar dalam membuat teh, sebagai bentuk penjagaan terhadap ‘”harga diri” nya dan caranya “menghargai” tamunya.

Berbeda dengan kakak, yang meskipun dibesarkan oleh mama (lengkap dengan pakemnya dalam menyambut tamu), perlahan terlahir menjadi generasi baru akibat perubahan zaman, kemajuan ilmu pengetahuan dan pengaruh budaya luar. Ia akhirnya memiliki “pakem”nya sendiri, yang berlaku di masyarakat modern secara umum. Caranya untuk menjaga “harga diri’ dan “menghargai” sang tamu pun menjadi berbeda.

Baca juga:  Fikih Tradisi: Apakah Larung Sesaji di Laut Syirik

Kini, ragam cangkir cantik yang sering dipakai orang barat untuk minum teh pun bermunculan. Kemajuan ilmu pengetahuan membuat orang sadar tentang bahaya diabetes jika mengonsumsi gula berlebih serta bahaya kerusakan gigi jika meminum“teh tuha”. Kesadaran ini menerbitkan budaya baru dalam menyambut tamu. Mereka menghidangkan teh dalam cangkir (bukan gelas besar), menyeduhnya dengan air panas di dalam termos (tak harus dengan air mendidih), dan mencampurinya gula dengan level yang sewajarnya.

Ada pula yang menyerahkan otoritas pemberian gula langsung kepada si tamu. Hal ini dilakukan guna membuat si tamu bisa meminum teh yang benar-benar mereka inginkan sesuai standar mereka. Jika yang datang “tamu dari jauh” dan kemungkinan akan bercerita dalam waktu yang lama, maka si tuan rumah akan menghidangkan teko dengan seduhan teh di dalamnya, agar si tamu bisa mengisi ulang cangkir mereka kapanpun diinginkan.

Akhirnya, terjadi pergeseran konsep “harga diri” dalam secangkir teh, dimana keramahan menyambut tamu tidak lagi diukur dengan segelas besar teh yang mangit, tetapi dari penyajian dan pelibatan si tamu untuk membuat teh sesuai selera mereka.

Mungkin, ini adalah bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Semacam self-service yang akan menuai protes jika diaplikasikan kepada generasi terdahulu. Saya yakin, bagi orang tua yang dibesarkan dengan gaya tradisional, konsep self-service  bagi tamu, tentu dianggap kurang adab dan kurang sopan. Jika mama melihat kakak melakukan hal ini, beliau pasti berpersepsi bahwa ada unsur “malas” dari si tuan rumah untuk menyuguhkan hidangan kepada tamu, sampai-sampai harus melibatkan si tamu dalam proses pembuatannya.

Baca juga:  Berani “Memasak” Gagasan Sendiri: Tentang Filsafat dan Lain-Lain

Sebaliknya, konsep yang dipandang ‘aib’ ini justeru dipandang ‘modern’ oleh kakak dan sebagian orang yang saya kenal. Ini pula yang memengaruhi selera mereka dalam memberikan gula pada teh yang diseduh. Sekali lagi, bukti bahwa perubahan zaman dan ilmu pengetahuan berhasil mengubah atau paling tidak menggeser nilai-nilai budaya (pakem) yang berlaku dari satu generasi ke generasi yang lain.

Saya, dan kita sebagai generasi yang berbeda dari mereka berdua mungkin akan melahirkan pakem baru ala kita. Tergantung bagaimana arus yang akan kita arungi di depan. Satu hal yang perlu digarisbawahi, bahwa nilai-nilai atau pakem baik yang dianut oleh generasi dahulu maupun generasi sekarang sama-sama menjunjung tinggi kebaikan. Berkaca dari budaya menyuguhi teh untuk tamu, keduanya sama-sama ingin memuliakan dan membuat si tamu nyaman, yang berbeda hanyalah teknis alias eksekusinya saja. Bukankah esensinya masih sama?

Jadi, kapan kamu ke rumah? Nanti mau disuguhi teh ala mama atau kakak?

Atau mungkin, ala saya sendiri?

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (1)
  • Saya biasa menyiapkan sendiri suguhan minuman (terutama kopi) untuk tamu saya. Itu salah satu cara agar tamu tidak kecewa, karena saya sudah tahu selera mereka. Sebab itu, kalau mau mendekati ke selera paling pas, buatlah sendiri

Komentari

Scroll To Top