Sedang Membaca
Hermeneutika Jawa
Heru Harjo Hutomo
Penulis Kolom

Penulis lepas. Mengembangkan cross-cultural journalism, menulis, menggambar, dan bermusik

Hermeneutika Jawa

Tak salah rupanya ketika orang Jawa menghubungkan bulan Ruwah dengan arwah. Sebab, lazimnya memang pada bulan itulah, bagi yang masih teguh memegang tradisi, orang-orang Jawa pergi ke pusara para keluarga dan leluhurnya yang sudah meninggal untuk bersih-bersih menjelang bulan Ramadan yang identik dengan bulan suci.

Franz-Magnis Suseno suatu kali pernah menyatakan bahwa ilmu othakathik gathuk, yang lebih dikenal sebagai ilmu kerata basa, adalah absah sejauh hal ini menyangkut sebuah metode dalam mencari makna.

Bukankah sejauh ini kisah keberadaan agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan adalah dalam rangka mencari makna bagi manusia agar kehidupannya layak dan patut untuk dilakoni?

Kerata Basa pada dasarnya adalah salah satu bagian dari ilmu kesusastraan Jawa, dengan demikian bersifat ilmiah, yang berupaya mencari makna atas sesuatu berdasarkan kesesuaian bunyi kata atau suku katanya.

Tentu, bagi yang tak paham kesusastraan Jawa, othakathik gathuk adalah hal yang dibuat-buat dan kurang rigorous untuk mendapatkan kebenaran.

Tapi ketika melihat Foucault yang menggunakan karya rupa Goya untuk menjelaskan episteme sebuah zaman adalah serupa orang Jawa yang tengah melakukan othakathik gathuk.

Derrida juga cukup menggunakan catatan yang tak penting dari buku Nietzsche dan mampu menyingkapkan bahwa filosof yang selama ini dikenal sebagai seorang misoginis ini ternyata adalah pendamba dan orang yang dekat dengan perempuan.

Baca juga:  Kapitayan (1): Dinamika di Tengah Temaram Zaman

Dalam kebudayaan Jawa bulan Ramadan dikenal pula dengan bulan Ramelan yang berarti ramalan. Di samping bahwa rangkaian bulan Ramadan di Jawa dimulai dari ziarah kubur pada akhir bulan Ruwah, dalam bulan penuh kemuliaan ini juga dikenal dengan adanya malam yang penuh dengan kemuliaan, yang dikenal sebagai Lailatul Qadar, dan diakhiri pula dengan ziarah kubur menjelang lebaran.

Menurut pakar tafsir al-Qur’an, Quraish Shihab, istilah qadar pada istilah Lailatul Qadar memiliki pula pengertian penetapan. Jadi, Lailatul Qadar adalah malam dimana terjadilah penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Adakah karena hal ini sehingga orang Jawa juga menyebut bulan Ramadan sebagai Ramelan yang berarti ramalan?

Benar, bahwa konon di samping bagi yang memperoleh kemuliaan Lailatul Qadar ini ibadahnya akan senilai dengan seribu bulan, ia akan pula memperoleh penyingkapan sebagaimana yang dikabarkan oleh surat alDukhan (5): “Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami.”

Dengan demikian, ilmu Kerata Basa, yang kerap pula disebut ilmu othakathik gathuk, bukanlah isapan jempol belaka sebagaimana yang selama ini banyak dituduhkan. Ternyata, di balik penyebutan Jawa bulan Ramelan yang berarti ramalan pada bulan Ramadan terdapat ayat al-Qur’an yang mendasarinya.

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top