Sedang Membaca
Solo Tidur Lebih Awal, “Bersama” Korona
Penulis Kolom

Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Penulis buku “Keplek Ilat: Wisata Kuliner Solo”

Solo Tidur Lebih Awal, “Bersama” Korona

Whatsapp Image 2020 04 10 At 10.59.18 Am

Siang mendung dan malam yang basah. Saya keluar rumah, dan kembali menjamah tubuh Kota Solo beberapa jenak untuk keperluan belanja kebutuhan keluarga. Motor sengaja mengelinding lambat. Dengan mulut dibekap masker laiknya kecu (perampok) hendak mbegal di rumah majikan batik mbok mase Laweyan akhir abad XIX, bola mata ini secara awas mengedarkan pandang di sekujur bekas kuthåråjå tersebut.

Baru sepurnama sejak Kota Bengawan ditetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB), kenestapaan akibat pageblug korona terasa menikam. Roda ekonomi mikro seret. Contoh gamblang, yakni Pasar Klewer yang sehari beromset semilyar dan dikenal sebagai pasar sandang terbesar kedua se-Asia Tenggara, kondisinya melompong.

Ruang sosial yang mewadahi transaksi ekonomi itu biasanya meriuh (gumrenggeng), tapi kini kuwalik grembyang (terbalik 180 derajat) seperti kuburan yang legang. Pedagang besar maupun karyawan toko menjerit batinnya, tanpa kecuali ayah saya yang sudah empat dasawarsa menggantungkan hidup dari pasar tersebut.

Ada obrolan getir di kalangan bakul bak sembilu menyayat hati. Biasanya di bulan Ruwah hingga jelang Lebaran, mereka berkesempatan ngadahi duit (dagangan ludes dan uang ngumpul). Akan tetapi, korona telah mengubah segalanya.

Membuyarkan mimpi dan harapan. Sekali lagi, ora kepayon alias dagangan masih utuh bukan lantaran kalah disaingi pasar online maupun mall, melainkan terkena dampak hebat dari wabah korona yang menghajar segala sendi kehidupan.

Sedari periode kolonial, jantung Solo mampu berdetak serta dinamis berkat ditopang oleh wong cilik yang berasal dari Sragen, Sukoharjo, Wonogiri, Boyolali, Karanganyar, serta Klaten. Mereka mengais rejeki di kampung halaman Presiden Jokowi itu dengan berjualan angkringan, kuli pasar, buruh batik, menjajakan bakso-mie, hingga kerja serabutan lainnya.

Baca juga:  Interupsi (Belajar) Itu Bernama Pandemi

Rupanya pandemi turut memukul mereka. Terutama pekerja informal sambat ngalu årå (mengeluh sejadi-jadinya), padha kleleran. Apa dhuwek-e diburne alias apa yang dimilikinya hendak dijual demi menganjal perut anggota keluarga. Dalam benak lapisan akar rumput, lebih takut mati kelaparan ketimbang “dicokot” korona.

Lihatlah, bermunculan bakul emas (pårå) “dadakan” duduk manis di lingkaran luar Pasar Klewer. Jumlahnya melonjak dibanding hari-hari kemarin. Jeli membidik peluang di tengah kecemasan melilit masyarakat luas memikirkan kehidupan esok hari dan menjaga dapur tetap mengepul.

Mereka sigap nampani entah kalung, cincin, suweng atau giwang dari pekerja swasta yang takut kelaparan, didesak kebutuhan keluarga. Lantaran paham kondisi penjual kudu lekas nyekel duit, emas sebagai anggon-anggon sekaligus tabungan itu ditawar bakul. Tanpa banyak cingcong, emas segera beralih tangan.

Kasunyatan pait di muka menerbangkan imajinasi historis saya pada periode revolusi kemerdekaan 1945-1949. Banyak pangeran istana mengeluarkan jarik kuno, stempel emas, benda antik, hingga koleksi berharga lainnya untuk dijual maupun digadai kepada galgendu atau juragan batik kaya-raya. Bangsawan yang biasanya bergelimang harta dan disubyå-subyå (dipuja-puja), segera keok selepas digulung gelombang revolusi.

Barisan aristokrat semasa kecil kurang ditempa soal kemandirian hidup dan tak biasa bekerja memakai otot. Hanya mengandalkan pemasukan dari pajak rakyat lewat ungkapan klasik: asok bulu bekti glondong pangareng-areng.

Akhirnya, terjungkal dan kelabakan merespon kahanan “baru” itu. Suwargi Prof Bakdi Soemanto, guru besar FIB UGM, yang lahir serta gedhe di Kampung Kratonan itu pernah ngobrol bareng saya. Dikisahkan, ibunya yang juragan batik itu sering didatangi tamu para pangeran yang hendak melego råjåbrånå (harta) demi nyambung urip.

Hari beranjak malam. Roda motor berputar pelan guna merasakan detak kota di sesela wabah korona. Terdengar adzan di ruang ibadah Al Hikmah (dibangun 1947) di Kratonan yang bersehalaman dengan gereja Kristen Jawa (1939).

Baca juga:  Meresapi Segarnya Taitung (1): Bermain-main dengan Teh di Chulu

Kedua bangunan religi nan sederhana itu berdampingan mesra sampai kini. Umatnya tanpa caci maki dan dijauhkan dari umpatan. Tak merebutkan surga secara frontal dan memakai pentungan. Fakta tersebut menyembulkan paras harmonis wong Solo lawas, juga tentrem atine.

Dulu, dari mejid ini, setelah bedug ditabuh, suara adzan dari mulut muadzin mengalun dengan cengkok Dhandanggula Tlutur yang amat sedih. Dalam tradisi Jawa, cengkok itu dipakai melukiskan kematian. Para juragan batik di Kampung Kratonan acap termangu saban kali mendengar adzan itu.

Mestinya hati mereka tak teraduk pilu dan gelisah mengingat saban hari berkubang kekayaan, punya segendong rajabrana dan puluhan buruh ngecap hingga ngerok batik. Tapi, adzan di masjid ini dimaknai sebagai jawilan kepada manusia untuk kembali ke sangkan paraning dumadi. Tak lagi nguber båndhå, apalagi kekuasaan sampai harus memakan korban.

Motor melaju menyusuri jalan sepanjang perempatan Gemblegan hingga Nonongan. Memang, saat itu saya ada janji bersua dengan maestro tari Sardono W Kusuma untuk dialog empat mata.

Penari sepuh berumur 75 tahun ini ingin membahas pekerjaan hingga ngobrol ngalor-ngidul. Di luar, gerimis mereda, tapi gantian hati yang gerimis. Belum bisa dikatakan malam, di emperan toko sepanjang jalan tersebut tampak pating kleler para pemulung, kaum papa, dan tuna wisma.

Baca juga:  Cerita Masjid Agung Jatisobo di Sukoharjo

Korona tidak langsung menggigit tubuhnya, namun mereka juga terkena dampak tak sepele. Hasil memulung sepi, karena sampah kota berupa kardus, plastik, dan botol menipis, buah dari kegiatan ekonomi kota yang melempem.

Pertokoan tutup lebih awal, raga kaum tak berdaya perkotaan ini direbahkan agak sore dengan memeluk nasib yang kian tak pasti. Malam atis, mereka beralas sekenanya. Ada pula kaki yang dibungkus bagor pengganti selimut.

Pageblug korona memucatkan wajah kota. Virus “bedebah” ini tanpa ampun merevisi julukan Solo sebagai “kota yang tak pernah tidur”. Dalam situasi normal, sedari era kerajaan, Surakarta selama duapuluh empat jam menyediakan diri untuk memanjakan penghuninya.

Kini, Solo tidur lebih awal (untuk tidak mengatakan terkapar). Di telinga, seakan-akan adzan mengalun bercengkok Dhandanggula Tlutur… (SI)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top