Sedang Membaca
Biografi Singkat Mbah Lim, Ulama Pancasila

Pengajar di Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti, Klaten, Jawa Tengah

Biografi Singkat Mbah Lim, Ulama Pancasila

Img 20200601 Wa0000

Nama lengkapnya Moeslim Rifa’i Imampuro. Ia beken dengan nama panggilan Mbah Lim, sering juga ditulis Mbah Liem. Nama panggilan ini terdengar seperti nama konglomerat Tionghoa.

Ia dilahirkan di Desa Pengging, Kelurahan Bendan, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah. Adapun tanggal, bulan, dan tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti.

Ayahnya bernama R Bakri, dan ibunya bernama RAY Mursilah. Melalui sang ibu, Mbah Lim tersambung nasabnya dengan Sunan Paku Buwono IV (Sunan Bagus, memerintah tahun 1788-1820) Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Nama Imampuro yang melekat di belakang namanya adalah nama ayahanda ibunya (kakek), RMNg Imampuro.

Pendidikan formal tertinggi Mbah Lim yang tercatat adalah PGA Mambaul Ulum Surakarta. Namun ia memilih keluar dari sekolah guru ini di tengah jalan lantaran sakit hati dengan gurunya. Gara-garanya, sang guru bilang bahwa Mbah Lim tidak cocok menjadi guru karena bicaranya gagap dan sulit dipahami. Mbah Lim membahasakannya dengan gropyok.

Mengenai awal mula ucapan yang gagap ini, menurut sumber beberapa kerabat, terjadi ketika Mbah Lim masih kecil. Pernah suatu ketika, entah kenapa, Mbah Lim kecil mati suri. Dan setelah hidup kembali dari mati suri inilah ucapan-ucapan Mbah Lim menjadi gagap sampai dewasa.

Keluar dari Mambaul Ulum, Mbah Lim berkelana ke berbagai daerah. Mulai dari Banten, Cirebon, hingga Madura. Ia tidak mau menyebutnya dengan istilah nyantri atau mondok. Bahkan ia pernah menjadi pegawai honorer di salah satu stasiun kereta api di Jakarta.

Baca juga:  Obituari: Sejumput Kenangan dengan Prof. Arief Budiman

Sekira tahun 1950, keadaan membawanya ke Klaten. Awalnya Mbah Lim tinggal di sebuah desa yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun karena kebanyakan mereka adalah penganut Darul Hadits (sempalan Islam Jamaah), akhirnya ia pindah ke Kampung Klabakan. Sebuah kampung yang mayoritas penduduknya adalah pelaku molimo dan berafiliasi ke PKI.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di desa ini ia mendirikan masjid yang ia namai dengan Masjid Al-Muttaqien. Ia mulai berjuang menyebarkan Islam dan membentuk tim yang ia namai dengan Pandawa Lima, yaitu lima tokoh masyarakat yang membantu Mbah Lim dalam berdakwah dan menerjemahkan ajaran-ajarannya.

Penduduk Desa Klabakan terus memusuhi dakwah Mbah Lim dan para santrinya. Hingga ketika tahun 1965 terjadi penangkapan besar-besaran terhadap para petinggi PKI dan para simpatisannya, warga Klabakan berduyun-duyun sowan ke Mbah Lim untuk meminta perlindungan. Dan mereka pun dilindungi oleh Mbah Lim. Dalam perjalanan selanjutnya, Desa Klabakan diganti namanya oleh Mbah Lim menjadi Sumberejo Wangi.

Tahun 1972, Mbah Lim secara resmi mendirikan pondok pesantren. Awalnya ia akan menamai pesantrennya dengan Pesantren Tebuireng II, untuk tabarukan dengan Tebuirengnya Mbah Hasyim Asy’ari di Jombang. Namun keinginan itu dicegah oleh Gus Dur, karena ia tidak mau repot berurusan dengan KH. Yusuf Hasyim. Akhirnya, oleh Mbah Lim, pesantren ini dinamakan dengan Al-Muttaqien Pancasila Sakti. Nama ini muncul sebelum NU menerima asas tunggal Pancasila.

Baca juga:  Potret Perjuangan Ulama (3): Menahan Haus dan Lapar

Gus Dur memang salah satu kiai yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Mbah Lim. Dalam salah satu edisi lama Majalah Tempo, ketika membahas kiai-kiai khas yang ada di belakang Gus Dur, mantan ketum PBNU ini menggambarkan kedekatannya dengan Mbah Lim kurang lebih seperti ini, “Mbah Lim itu ucapan-ucapannya sulit dipahami, sehingga membutuhkan penerjemah untuk menjelaskan maksudnya. Namun ada tiga momen saat ucapan-ucapan Mbah Lim sangat jelas sekali. Pertama ketika salat, kedua ketika membaca Al-Qur’an, dan ketiga ketika bicara dengan saya.”

Mbah Lim adalah kiai yang dekat dengan semua kalangan, mulai rakyat jelata hingga pejabat tinggi negara. Ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Presiden Soeharto beserta semua keluarganya, mengenal baik hampir semua jendral TNI maupun polisi, dan pejabat-pejabat tinggi lainnya.

Hal itu, terutama di masa Orde Baru, sepertinya, tidak lain adalah sebagai usaha beliau untuk mencairkan kebekuan hubungan antara NU dan Gus Dur di satu pihak, dengan pemerintahan Orde Baru di pihak yang lain.

Mbah Lim berupaya membuat kanal-kanal penghubung baru, agar umat Islam, terutama NU, tidak semakin direpresi oleh rezim. Banyak sekali cerita-cerita dan tulisan tangan Mbah Lim sendiri yang menggambarkan hal tersebut, yang bisa diulas di lain kesempatan.

Baca juga:  Jaringan Santri Syaikhona Kholil Bangkalan di Bumi Pasundan

Mbah Lim adalah pribadi yang konsisten sampai akhir hayatnya dalam mencintai Islam, NKRI, Pancasila, dan kemanusiaan. Beliaulah pencetus slogan NKRI Harga Mati. Di pesantrennya, slogan NKRI Pancasila Aman Makmur Damai (NKRIP AMD) menggema berkali-kali tiap harinya. Sebuah joglo tempat pertemuan di komplek pesantrennya ia namai dengan Joglo Perdamaian Umat Manusia se-Dunia (JPUMD). Dan sehari lima kali, tiap menjelang shalat maktubah, muadzin di Masjid Al-Muttaqien selalu mendaras doa untuk kebaikan NKRI Pancasila.

Mbah Lim wafat pada tanggal 24 Mei 2012, di usia sekitar 91 tahun, dengan prosesi pemakaman sebagaimana yang ia wasiatkan sebelumnya. Yaitu jenazah beliau dibawa dari ndalem ke masjid lalu ke makam dengan diiringi bacaan shalawat Nabi lengkap dengan rebana, serta dimakamkan secara militer di JPUMD. Dari sembilan putra-putrinya, empat putra dan empat putrinya saat ini yang meneruskan dakwah dan perjuangannya.

Semoga NKRI Pancasila senantiasa Aman, Makmur, Damai sepanjang masa. Lahumul Fatihah.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
3
Ingin Tahu
1
Senang
1
Terhibur
1
Terinspirasi
5
Terkejut
0
Scroll To Top