Sedang Membaca
Mendaras Kitab Tuhfah, Mengulik Wahdatul Wujud

Mendaras Kitab Tuhfah, Mengulik Wahdatul Wujud

Hasan Basri Marwah

Saya datang agak telat ke pendopo Ifada di Desa Cepokojajar Yogyakarta. Syukurlah, bandongan kitab Tuhfah ilaa ruuhin Nabi SAW karya Syeikh Fadhlullah Burhanupuri (qoddas Allahu ruuhahu) belum lagi dimulai, baru pengantar oleh tuan rumah, Mas Irfan Afifi. Duduk di sebelahnya, Mas Kholik Ridwan, yang akan mewedarkan kandungan kitab penting tersebut.

Di ruangan yang dipakai ngaji bandongan sudah ada beberapa orang umum (maksudnya, terkenal) di dunia intelektual, yakni Kalis Mardiasih, Ina Maisaroh, dan Afthonul Afif. Tidak beberapa lama, jarak sekitar sepuluh menitan, datang juga perupa beken Alfi Chaniago. Ada kurang lebih dua puluh  “santri-kalongan” bulan puasa lainnya yang duduk dengan tertib. Tampak semua yang datang membawa rasa ingin tahu sendiri-sendiri mengenai kitab Tuhfah.

Bisa saja Kalis sedang galau dan jeda menulis pluarisme,gender, dan feminsime. Afif mungkin sedangkan meneguhkan pilihan suluknya, terutama pengkayaan khzanah intelektual suluk Suryomentaraman. Alfi datang dengan khazanah  Syatariah dan Naqsabandiyah Minang yang sampai hari ini tidak lekang juga oleh gempuran bertubi-tubi wahabisme dan modernisme Islam.

Kitab suluk Topah

Kitab Tuhfa ila ruuhin Nabi sendiri seringkali dipertukarkan dengan beberapa sebutan seperti kitab suluk Topah berbahasa Jawa. Terkait naskah Jawa, ada juga yang berpendapat, bahwa sebutan kitab yang menceritakan bagaimana Sayyidina Ali mengaji martabat tujuh, menerima khirqah ruhaniah dari Baginda Nabi SAW, dan perjalanan dakwah beliau di Jawa.  Ada pula yang mengaitkan  sebutan kitab Topah dengan kitab fikih dari mazhab Syafi’iyah karangan Syeikh Ibn Hajar, Tuhfagtul Muhtaj li Syarhil Minhaj (keterangan atas kitab Minhaajul Thaalibin karangan Imam Nawawi).

Masalah peredaran nama kitab Topah atau kitab Tuhfah tidak penting, tetapi inisiatif Ifada mendaras langsung teks Tuhfah ilaa Ruuhin Nabi SAW  merupakan langkah penting dalam politik pengetahuan karena selama ini kabar tentang kitab penting ini diterima melalui dua otoritas, para orientalis Belanda dan indonesianis. Dan belakangan beberapa filolog “nanggung” produk Perguruan Tinggi Islam seperti IAIN dan UIN melakukan kajian tekstual terbatas, mengurai seadanya tentang naskah bersangkutan, menyalin, dan menerjemahkannya dalam ‘bimbingan’ guru Barat mereka. Maka filolog nanggung begini tidak lebih dari sekedar adu romatika dan pamer naskah.

Wahdatul wujud

Baca juga:  Makrifat Realitas Diri atas Langit (2)

Di tangan para orientalis, indonesianis, dan para murid Indonesia-nya, kajian soal wahdatul wujud (makna awam: bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki) berakhir sebagai penyederhanaan dan abstraksi. Pertama, wahdatul wujud disamakan dengan pantaisme sehingga konsep tajalli yang menjadi fondasi dasar dari konsep martabat tujuh ala Syeikh Burhanupuri tidak pernah terkuak secara memadai. Kedua, penyamaan wahdatul wujud dengan pantaisme diarahkan untuk mempertentangkannya dengan mazhab lain dalam tasawuf Islam. Ini bertujuan memperkeruh,mengadu dan kontrol.

Ketiga, wahdatul wujud disebarkan sebagai penyimpangan terbesar atas syariah Islam sehingga semakin menegaskan watak ‘asing’ (gharib) dari tasawuf Islam. Dan keempat, mereka menghindari bahasan mengenai dinamika pengajaran, penjelasan, dan tafsir atas wahdatul wujud di Indonesia yang sebenarnya sangat determinan dan subur. Semua itu yang disebut sebagai penyebaran nalar dikhotomik-orientalistik yang tidak bergizi samasekali secara intelektual. Dan, Ifada sepertinya mengambil jalan pintas (abaikan saja sementara kata mereka soal tradisi suluk), dengan cara memasuki langsung, tanpa makelar, teks, dan praktek suluk di Nusantara.

Baca Juga

Tepat sekali kalau tadi malam Kang Khaliq mengawali bahwa kitab Tuhfah ilaa Ruuhin Nabi SAW merupakan kitab panduan muraqobah kalangan tarekat Syatoriah. Hampir mirip dengan beberapa kitab yang dikarang para mursyid tarekat lainnya untuk memberikan penjelasan tentang aspek-aspek pokok dan rumit dalam tarekat masing-masing. Kita mengenal peredaran kitan Tsamratul Fikriyah karangan Allahu yarhamhu Mbah Ramli Tamim atau Faidhur Rohmaaniyah-nya Allahu yarhamu Mbah Muslih Abdurrahman di kalangan pengamal tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah.

Bedanya kitab Tuhfah ilaa Ruuhin Nabi SAW ini diperuntukkan bagi para saalik Syatariah pada level menengah atas, makanya disebutkan oleh pengarangnya, bahwa penjelasan mengenai martabat tujuh merupakan pesoalan pokok yang menjadi pintu utama memahami hakikat kalimat tauhid, Laa ilaaha illa Allah, bagi mereka yang menghendaki wushul, koneksi langsung dengan Gusti Allah SWT. Dan kitab ini sebuah “nubzah” atau perasan-sari dari ilmu hakikat.

Ajaran martabat tujuh sudah umum dibahas: martabat Ahadiyah, Wahdat, Wahidiyah, Arwah, Mistaliyah, Ajsam, dan Insan Kamil. Rincian tentang pengertian dan penjelasan tentang martabah sab’ah, konsep tajalli , dan wahdatul wujud sebaikanya dibahas pada tulisan tersendiri. Saya hanya ingin menegaskan, bahwa kitab Tuhfah dalam tradisi ruhani di Indonesia menunjukkan bahwa telah terjadi suatu bentuk praktek dan diskursus tasawuf yang sampai pada tahap kematangan, atau kalau mau berlebihan “kemandirian”, baik dalam praktek dan diskursusnya,  yang lepas dari perhubungan doktrinal sifatnya.

Tanpa perlu memakai istilah tasawuf falsafi atau irfan, pendarasan dan pewedaran wahdatul wujud di suatu wilayah selalu menunjukkan soal kerampatan antara aspek teoritik dan praktek tasawuf pada tingkat menengah lanjutan karena bab wahdatul wujud mensyaratkan tingkat penguasaan teori dan capaian ruhani tertentu bagi para pengkajinya. Wahdtul wujud bukan sebagai ‘biang kerok’ penyelewengan ajaran Islam, dan drama penghakiman atas para kekasih Allah seperti yang difabrikasi para orientalis dan para murid pribuminya. Wallahu yaqulul haqqa wahuwa yahdissabil.

 

Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top