Sedang Membaca
Di Kuburan: Cerita dan Berita
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Di Kuburan: Cerita dan Berita

Bandung Mawardi

Pengarang dan penggerak majalah Horison masa lalu berpamit dari geliat sastra Indonesia abad XXI. Pengarang bernama Hamsad Rangkuti (7 Mei 1943-26 Agustus 2018) telah menunaikan ibadah sastra, memberi warisan-warisan buku menanti penghormatan umat pembaca.

Kini, ia menghuni kubur, tempat bagi para peziarah saat ingin berdoa dan mengenang segala hal di masa lalu. Di kuburan, Hamsad Rangkuti tetap menebar imajinasi kritis bagi pembaca asal mau memikirkan lakon kuburan, dari masa ke masa.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ia menulis cerita kuburan, berbeda haluan dari lelucon filsafat di novel berjudul Ziarah gubahan Iwan Simatupang atau sejarah tragis seperti di novel Pulang gubahan Leila S Chudori. Hamsad Rangkuti memilih memberi cerita realis, mengingatkan pembaca mengenai kuburan, agama, dan nafkah. Ia tak bercerita horor seperti kegandrungan para sutradara mengerjakan film-film menjadikan kuburan itu tempat seram dan misterius.

Pada 2003, Hamsad Rangkuti menulis cerita berjudul Ayahku Seorang Guru Mengaji. Cerita memberi pesan ketabahan, iman, dan godaan duit. Pada akhir cerita, Hamsad Rangkuti memilih kuburan sebagai tempat rancu.

Semula, guru mengaji terus kehilangan murid gara-gara bocah-bocah di kampung memilih menonton televisi. Kehidupan keluarga mulai mendekati kemiskinan. Istri dan anak membujuk agar si guru mengaji memilih “pekerjaan” baru demi mendapat nafkah.

Duit diperlukan untuk makan keseharian. Pendapatan sebagai guru mengaji semakin berkurang. Ia tak pernah menginginkan imbalan saat mengajar membaca kitab suci. Pemberian tetap diterima meski sedikit. Situasi hidup setelah kampung berlistrik seperti memaksa guru mengaji harus berhitung ulang dalam menghidupi keluarga.

Di mata istri, kuburan itu tempat mencari duit. Guru mengaji dianjurkan menjadi juru doa di kuburan. Para peziarah sering mencari juru doa dan memberi imbalan sesuai pendek-panjang doa. Istri berkata agak memerintah pada suami selaku guru mengaji:

Baca juga:  Khudirin

“Apa salahnya kau memegang payung hitam mendatangi para peziarah di batu-batu nisan keluarga mereka. Mereka tidak bisa membacakan doa, membaca surat Yasin. Ambil alih tugas itu. Mereka membayar setiap ayat suci yang dibacakan di batu nisan keluarga mereka.”

Guru mengaji ingin tetap tabah dan beriman tanpa godaan duit. Hari demi hari, situasi hidup keluarga tetap sulit. Guru mengaji belum ingin jadi “juru doa” atau “penjual ayat”. Istri masih saja cerewet seperti menuntut harus ada pendapatan saban hari.

“Kau hafal semua ayat. Peziarah-peziarah itu suka dengan ayat-ayat yang panjang. Makin lama doa dibacakan, para peziarah itu suka memberi uang lebih banyak. Mulailah, daripada menganggur,” kata istri sambil bersungut.

Sebutan menganggur terasa membebani batin dan harga diri. Guru mengaji dalam dilema. Ia tak ingin menjadikan agama untuk mendapat imbalan-imbalan dengan cara “berdagang” doa.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Hari berganti hari, guru mengaji ada di pemakaman umum. Ia membacakan doa dan surat Yasin. Julukan perlahan berubah, ia adalah pembaca doa di umum, bukan lagi guru mengaji. Julukan agak merendahkan tapi terpaksa demi menuruti omelan istri dan memikirkan nasib keluarga. Si anak terkena dampak. Anak itu mulai dikenali di kampung sebagai anak pembaca doa berimbalan di umum.

Di kuburan, guru mengaji atau pembaca doa itu tetap menjauhi pamrih duit. Pemberian imbalan dari para peziarah diterima tapi tak terlalu diharapkan bersifat “perdagangan”.

Baca juga:  Lie Kim Hok: Tokoh Pers Tionghoa Peranakan

Cerita gubahan Hamsad Rangkuti itu berada di album cerita berjudul Panggilan Rasul (2010) terbitan Kepustakaan Populer Gramedia. Cerita berbeda dari berita-berita mengenai umum di pelbagai kota. Cerita teringat dan berhak dibandingkan dengan berita agak mengejutkan di Solo. Kuburan atau permakaman memang tempat mencari duit dengan segala cara.

Di Tempat Permakaman Umum Bonoloyo (Solo), kita tak mendapatkan cerita pendek imajinatif tapi keluhan dari para peziarah. Mereka sering ketakutan saat berziarah. Permakaman memang “horor” tapi tak bertokoh hantu-hantu. Keluhan dan ketakutan mereka bersumber dari ulah para pengemis, bukan “juru doa” seperti di cerita gubahan Hamsad Rangkuti.

Para peziarah melapor ke Tim Saber Pungli bahwa para pengemis di TPU Bonoloyo meminta uang secara paksa. Tindakan teranggap sebagai pungli (pungutan liar) atau pemerasan. Pihak polisi lekas melakukan pengecekan dan pencarian data.

Kejadian pemerasan sudah berlangsung lama. Para pengemis meminta uang berdalih “kebersihan” meski urusan kebersihan sudah dikerjakan oleh petugas makam (Solopos, 4 September 2018). Berita kecil saat kita sibuk mengurusi politik dan “marah” mengetahui 41 anggota DPRD Kota Malang (Jawa Timur) ditetapkan sebagai tersangka. Berita-berita besar mengenai korupsi atau pungutan liar oleh pejabat atau aparat masih saja bertambah.

Di Solo, pemerasan atau pungutan liar bertokoh pengemis. Tempat kejadian di permakaman. Kita seperti sedang diajak memikirkan pelbagai tempat telah terpilih untuk korupsi dan pungutan liar. Kuburan pun terpilih untuk mendapat duit secara tak resmi dan menimbulkan ketakutan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Berita itu bakal lekas jadi cerita pendek asal Hamsad Rangkuti masih hidup. Kita mungkin menanti ada pengarang di Solo melakukan riset agar berita menjadi cerita pendek atau novel. Kita bakal membaca lagi sastra bermazhab kuburan, menambahi sengatan ide-imajinasi setelah khatam membaca Ziarah (Iwan Simatupang), Pulang (Leila S Chudori), dan Ayahku Seorang Guru Mengaji (Hamsad Rangkuti).

Baca juga:  Sepatu: Modernitas dan Ramadan

Polisi mengurusi kasus di TPU Bonoloyo dengan menerangkan bakal mengadakan pembinaan. Berita belum sampai menghadirkan pengemis di gedung pengadilan atau masuk penjara. Denda bagi pelaku pungutan liar pun belum diberlakukan. Kita menghadapi kasus aneh. Pilihan tempat adalah permakaman. Pelaku adalah pengemis. Berita jarang heboh ketimbang kasus-kasus besar di tempat-tempat dihuni pejabat atau “kaum terhormat”. Mereka bermental “lebih pengemis” meski memiliki gelar, jabatan, dan hidup dalam kementerengan.

Ingatan pada cerita dan berita itu pantas digenapi ikhtiar orang-orang ingin belajar sejarah melalui kuburan. Mereka tak sedang membuktikan pemberani menghadapi imajinasi horor atau mencari duit di permakaman. Maksud kedatangan ke pelbagai kuburan adalah belajar sejarah.

Kuburan itu tempat bersejarah, tempat dihuni para pelaku atau penggerak sejarah di masa lalu. Mereka bergabung dalam Indonesia Graveyard, bermisi melacak sejarah Indonesia di kuburan-kuburan di pelbagai kota. Berkunjung ke kuburan, mereka sudah berbekal bacaan dan data.

Di kuburan, mata mereka mengamati nisan dan berimajinasi tentang ketokohan dan sejarah sempat tercatat di masa lalu. Mereka tak memerlukan “juru doa” atau berhadapan dengan paksaan para pengemis minta duit. Sejarah ada di kuburan dalam suasana mulai sesak penghuni dan pengaturan oleh birokrasi. Sejarah itu tak ingin memburuk dengan berita-berita aneh. Begitu.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top